Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Sembunyikan Ibu Jarimu, maka Ia Takkan Berani Padamu

Petualangan mendorong sepeda pada POSTINGAN SEBELUMNYA masih berlanjut. Meski mendorong sepeda sejak tadi, namun sama sekali tidak ada keringat entah karena dinginnya udara atau bisa juga ini tanda kurang sehatnya saya, seperti yang pernah dikatakan salah seorang teman ketika kami sedang memakan makanan pedas dan ia sudah bercucuran keringat sementara jidat saya masih kering-kering saja meski lidah sudah seperti terbakar. Entah! Hal yang paling saya sukai—seperti anak kecil yang menjumpai perosotan­—adalah ketika menemui jalanan menurun. Bisa langsung duduk di saddle , membiarkannya melaju tanpa harus meroda. Saya berbelok ke arah kanan, keluar dari jalan raya menuju jalan setapak. Suara aliran air mulai terdengar, semakin saya melangkah semakin jelas pula hingga dengan jelas tampak sungai dikelilingi pohon-pohon besar tak berdaun. Indah seperti di film-film petualangan. Sambil melangkah saya terus memperhatikan layar hp, ah, aplikasi Maps mengecewakan, dari gps-nya saya

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7 th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai.  Yesterday morning (18/2) , Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam) Bangun jam setengah 6, took a shower , segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jala

We don’t Need Money, We Need Recognition

‘We don’t need Money, We need Recognition, ’ kalimat yang masih membekas dalam pikiran saya, kalimat yang membuat kagum, sedih, sekaligus marah. Tidak bisa dimungkiri, setiap orang butuh R E CO GNITION, penga kuan bahwa ia ada. Apalah arti harta dan ilmu jika kita tidak diakui di masyarakat misalnya. Apalagi sebuah ke lompok yang be sar, bangsa. Tentu mereka butuh penga kuan . Ya, setidaknya, menurut saya, kutipan dialog tersebut bisa mewakili perjuangan orang-orang Palestina tergambarkan di film The Wanted 18 . Malam kemarin (16/2) Alhamdulillah, bersyukur bisa ikut nonton bareng dan diskusi film tentang Palestina yang diadakan oleh Arab House Society dan Aberdeen Student Palestine Society . Pertama, bisa mencicipi beberapa makanan khas timur tengah untuk pertama kali —Ah, dasar manusia, makanan selalu saja yang pertama kali muncul di ide atau pembicaraan, apalagi kalau gratis. Maaf, tapi karena memang ketika baru masuk ke ruangan, kami disambut dengan dipersilahkan mencob

Konsekuensi

Memulai awal semester di januari - yang normalnya dimulai pada September - memaksa kami harus berpikir lebih cepat. Penyebab utamanya adalah tesis (di sini disebut Disertasi) yang harus diselesaikan di pertengahan perkuliahan. Hampir semua jurusan harus mengikuti semester dua dulu, lalu mengerjakan disertasi, dan terakhir menghadapi semester satu. The problem is , biasanya mata kuliah pengantar yang menjadi pendukung dalam penulisan tugas akhir ada di semester satu. Jurusan saya, English Literary Studies misalnya, di semester satu ada mata kuliah wajid dan paling penting Approaching Literature berisi tentang teori-teori yang bisa digunakan dalam mengkaji karya sastra. Unfortunately, itu baru bisa diambil setelah menyelesaikan disertasi. Tapi kita tidak bisa menyalahkan kurikulum kampus sepenuhnya, ini konsekuensi memilih awal perkuliahan di Januari. Dan mungkin mereka (kampus) berpikir bahwa orang-orang yang memutuskan datang awal tahun lebih siap dan lebih matang untuk m