Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Sayu di Tengah Ramainya Kenangan yang Lalu-lalang di Pikiran Sendiri

Segelas cappucino yang ku seduh belum genap 10 menit yang lalu hampir habis, saya menyeruputnya begitu cepat. Selain karena tidak begitu panas untuk ukuran kopi, juga karena bingung mau memulai bercerita dari mana setelah sekian lama tidak mengisi blog karena alasan yang mungkin semua orang akan mengatakannya, “sibuk.” Padahal sebenarnya banyak kisah yang bisa diceritakan, karena sedang berada di lingkungan baru. Saya terbawa suasana lain waktu itu dan memilih menikmati saja. Mungkin karena dulu sering disibukkan dengan banyak kegiatan dan banyak teman, sekarang merasa aneh sendiri tanpa itu semua. Apalagi jika kebetulan melihat foto, mengingat, atau berada di tempat yang dulu sering dijadikan tempat ngumpul dengan teman. Masa kuliah yang membuat kita sibuk dengan tugas-tugas makalah yang saya senang mengerjakannya menjelang deadline , di tambah dengan kegiatan rapat organisasi di sana sini. Lulus kuliah, meski jobless , tetap saja sibuk dengan kegiatan organisasi. Moreover, saat

Kontribusiku Bagi Indonesia

Nama saya Ahmad, alumni Sastra Inggris Universitas Hasanuddin. Berkat bantuan dari pemerintah, saya dapat menyelesaikan studi dalam masa 3 tahun 8 bulan dengan predikat Cumlaude . Selama kuliah, saya juga bergabung dan belajar dalam lembaga kemahasiswaan, lembaga dakwah, maupun lembaga yang mengembangkan minat menulis saya. Di dalam kampus, saya pernah menjabat di Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris (PERISAI) sebagai anggota divisi Kemahasiswaan, lalu tahun selanjutnya menjadi koordinator. Saya dan tim membantu permasalahan akademik mahasiswa, misalnya jika ada masalah pada portal pengisian KRS online mahasiswa, memfasilitasi kelas tambahan untuk mahasiswa baru, dan membantu proses advokasi mahasiswa yang terancam drop out . Di lembaga kemahasiswaan ini saya banyak belajar tentang kepemimpinan, manajemen waktu, problem solving dan tentu belajar bersabar ketika dituntut untuk segera menyelesaikan masalah yang ada. Selepas kepengurusan di jurusan,   saya diamanahakan sebagai peng

Sukses Terbesar dalam Hidupku

Sukses, sebuah kata kerja Saya teringat hampir 9 tahun silam, ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Karena didorong oleh teman-teman sekelas, saya maju mendaftar sebagai calon ketua OSIS bersaing dengan dua calon lainnya. Saat itu pemilihan dilakukan dengan cara mengutus 5-6 siswa perwakilan kelas. Tiba saatnya pemilihan, kami berkumpul di aula, setiap peserta menulis satu nama dan nomor urut calon pada sepotong kertas yang dibagikan. Setelah semua memilih dan hasil dibacakan. Alhasil saya hanya memperoleh 2 suara: satu suara dipilih oleh saya sendiri dan satu lagi entah siapa. Saya merasa sangat malu. Malu pada siswa lain, juga pada diri sendiri. Lebih dari itu, saya kecewa terhadap lima teman sekelas saya yang ikut memilih, saya pikir mereka semua akan memilih saya, tapi ternyata mereka lebih memilih orang lain. Saya bahkan tidak dimasukkan dalam susunan kabinet pengurus, rata-rata pengurus diambil dari anggota Pramuka dan PMR. Seiring waktu, saya mencoba mengintropeksi diri. Mu

Rencana Studi

Nama saya Ahmad , telah menyelesaikan pendidikan strata S1 pada jurusan Sastra Inggris, dengan   mengambil konsentrasi sastra di Universitas Hasanuddin. Saya selalu tertarik dengan sastra karena belajar sastra berarti mempelajari banyak cakupan bidang ilmu, sastra menjadi pintu ajaib untuk melihat pandangan dunia. Melalui sastra kita bisa memahami kondisi masyarakat suatu daerah setelah membacanya. Dengan didukung kemampuan memahami teks berbahasa Inggris membuat wawasan bacaan lebih luas. Misalnya dalam skripsi saya, mengangkat judul “George Bernard Shaw’s Criticism on Social Classes of Victorian Era in Pygmalion,” saya mengkaji drama karya penulis Inggris G.B. Shaw. Dengan meggunakan pendekatan sosiologis dapat dipahami bagaiamana kesenjangan sosial di masyarakat Inggris pada masa Victoria. Selain belajar sastra secara teori, saya juga senang menulis cerpen maupun esai, beberapa diantaranya Alhamdulillah , telah diterbitkan di media cetak lokal maupun nasional sejak belajar di

Aesop dan Perayaan Kebahagiaan

  “Mungkin saja, teman-temanku mencuri dan mengubahnya.” Keluh Aesop kepada gadis cilik yang ia temui dalam mimpi. Ia sedih bercampur kecewa serta sedikit jengkel karena kisah Kelinci dan Kura-kura yang dibuatnya ternyata berbeda dengan kisah yang diceritakan orang-orang. Bahkan banyak orang seolah-olah menganggap Aesop tidak ada. Ia dilupakan sebagai pengarang cerita. Memang sering kali pengarang dilupakan begitu saja, beberapa pembaca sekadar menikmati karya tanpa melihat siapa pengarangnya. Meskipun dilupakan, Aesop menimpali “mungkin lebih baik menyamar. Menyamar berarti tidak ada orang yang tahu siapa kamu sebenarnya,” katanya dalam kumpulan fabel yang disusun oleh Jane Olliver. Kenyataannya, Aesop adalah seorang pengarang pada masa yunani kuno yang terkenal dengan fabelnya. Tidak banyak diketahui tentang Aesop, namanya hanya disebut malalui buku-buku kuno. Ia kurang dikenal namun memiliki banyak karya yang bisa dinikmati hingga sekarang. Karya-karyanya yang ditulis k

Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Fitrawan Umar mengangkat topik perempuan dalam judul bukunya Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan . Sebuah novel terbitan Exchange yang berkisah tentang dua teman kecil: Renja dan Adel yang bertemu kembali ketika di bangku perkuliahan. Saat itulah konflik asmara terjadi antara mereka, Renja mencintai Adel tapi Renja sulit mengerti apakah Adel juga mencintainya atau tidak. Adel adalah perempuan yang sulit dimengerti. Perasaan Renja terus tumbuh meski diiringi keraguan, “Sepertinya memang begini ketika kita menyukai seseorang. Kita merasa yakin bahwa seseorang itu punya rasa suka yang sama. Namun, hati kecil juga berbisik untuk meragukannya,” ungkap Renja. Memang perempuan sulit dimengerti, bahkan Sigmund Freud pun mengakuinya, “The great question that has never been answered and which I have not yet been able to answer, despite my 30 years of research into the feminine soul, is: ‘What does a woman want?’” 30 tahun Freud mencari tahu tentang perempuan namun ia masih jug