Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

4 tingkatan insomnia anak muda zaman sekarang

*Language perspective. Insomnia, adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat tidur. Hampir setiap orang pernah merasakan bahkan seorang bayi pun mengalaminya. Termasuk saya ketika sedang mengetik ini. Baiklah straight to the point, menurut hasil penerawangan insomnia saya (memang, saat tidak bisa tidur, pikiran begitu lancar mengalirkan ide-ide), ada 4 hal penyebab insomnia (bukan karena penyakit, yang mungkin tidak termasuk alasan saintis karena saya bukan orang sains tapi bisa dikategorikan sebagai alasan humanis , karena saya mahasiswa sastra. Hahaha…) yang biasa terjadi di kalangan anak muda atau sejoli , yaitu: Source 1.   I won’t sleep because you won’t sleep. Saya tidak mau tidur karena kamu tidak mau tidur. Kasus ini mungkin paling banyak terjadi di kaum muda yang lagi kasmaran atau pun pede kate. Kedua belah pihak (I and You) sama-sama tidak mau tidur. Contoh kasusnya seperti ini, ketika mereka telponan…. Mawar: Sudah dulu yah, ngantuk nih…. Beddu: Ba

Perihal Hujan

1 Satusatu hujan meluncur ke bumi Aroma petrikor menelusuk hidung, lalu ke hati Ah, menenangkan sekali Hujan mengantar masa lalu 2 Seperti ritme piano, hujan sedang mengalunkan lagu klasik di atas atap Saya bergegas ke kamar, membaca novel puitis di atas kasur tipis Eh, menyenangkan sekali Diam-diam saya berdoa, semoga hujannya awet 3 Hujan bersetia, mengurung Ibu dalam rumah Gincu Ibu hampir-hampir rancu, ia terus mengomel “Ih, menjengkelkan sekali,” kata Ibu Matanya mendung 4 Dingin menyumsum, hujan tumpah ruah   “Air merendam persawahan”, kata tetangga Hati Bapak mengecut, dahinya mengerut Diam-diam, butir air tumbuh di matanya Makassar, 29 Desember 2015

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se- worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Ba

Perempuan-perempuan tulus di balik layar Blogger Camp Makassar

(Seorang ibu-ibu sedang membalut donat dengan coklat) Di balik laki-laki sukses selalu ada istri hebat. Dan di balik kesuksesan kegiatan Blogger Camp di Makassar, ada ibu-ibu hebat yang bekerja setulus hati. Mereka adalah orang-orang bekerja di dapur, mempersiapkan makanan untuk para peserta dan panitia Blogger Camp . Kegiatan Blogger Camp yang dilangsungkan serentak di empat kota, termasuk Makassar dukung oleh Indosat dengan aplikasi barunya Indosat Love dan Net Media serta beberapa pihak lain. Sangat tepat panitia memilih PPLH Puntondo sebagai lokasi kegiatan karena tempatnya sunyi, cocok untuk para penulis, lingkungannya yang nyaman. “Ini namanya pepes tahu,” kata seorang staf dapur PPLH Puntondo sembari menambahkan isi talam. Ia tersenyum simpul lalu kembali duduk di kursi yang terletak di pojok ruangan. Ia begitu welcome menyambut peserta Blogger Camp Makassar. Dengan tertib peserta mengambil satu persatu makanan yang terletak di atas meja. Ada yang hanya mengam

Angka Kembar dan Lelaki yang Tak Dirindukan

Peringatan! Tulisan ini mengandung unsur ke-alay-an, bagi yang berusia 18+ tahun jangan dibaca. “Mungkin seseorang sedang merindukanmu.” “Ah, siapa yang rindu kepadaku!” Jawabku sambil tertawa terpintal-pintal. Padahal hati saya berkata lain, “Wah, siapa ya yang merindukan saya? Mungkinkah si dia, perempuan yang menatapku sore kemarin. A tau dia, perempuan lain yang pernah sekadar lewat di hatiku, atau mungkin….” Saya tersenyum malu-malu. “Iyya Dek, temanku pernah bilang begitu. Dan saya juga percaya. ” Alarm digital ketika mati lampu :) *** Itu hanyalah potongan pengalaman sekitar tiga tahun lalu-masih semester 3, ketika saya sering mendapati angka-angka kembar pada jam digital H p. Saya kemudian menceritakan pengalaman kepada salah seorang senior (s ebut saja namanya Mawar ) di sebuah organisasi yang baru saya masuki. Sejak percakapan sore itu, saya justru makin sering menemukan angka-angka kembar. T epat ketika secara kebetulan saya melihat angka -ang