Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Merevisi Niat

(Niat menentukan jalan kita) Niat adalah pekerjaan hati. Tidak ada satu pun manusia yang tahu isi hati manusia lainnya, kecuali jika ia menceritakannya. Jika ia bercerita, pun belum tentu sesuai dengan hatinya. Orang yang katanya mampu membaca maksud hati seseorang, saya yakin ia hanya menerka-nerka. Dalam masyarakat bugis, kita sering mendengar nasehat orang tua, keluarga, atau siapa pun yang menaruh perhatian dan kasih sayang kepada kita, “padecengi akkattamu” (perbaiki niatmu). Sepotong kalimat yang sering diucapkan ketika ada orang yang ingin melekukan pekerjaan atau bepergian. Pemuda bugis yang berniat merantau untuk mencari nafkah, mengumpulkan uang untuk modal nikah dan uang panai misalnya maka ia akan diwanti-wanti oleh keluarganya untuk meluruskan dan memantapkan niat. Karena niatlah yang akan mengantarnya pada tindakan-tindakan dan perilaku di kampung orang di kemudian hari. Dua orang pemuda yang bersama-sama merantau, berusaha bersama dan mendapatkan pekerj

Nasib Tulisan-tulisan Kita di Musim Kemarau

Kemarau pasti berlalu layaknya nasib tuli san-tulisan kita yang belum usai (Gazali pd TOWR FLP Bantimurung) Kali ini kucoba keluar kamar, menuju teras belakang. Sempit oleh barang-barang tidak terpakai dan sampah dimana-mana. Pembungkus makanan yang dibuang begitu saja oleh tetangga kamarku, maupun daun-daun lebar ketapang yang telah kering. Setidaknya tempat ini tidak begitu bau. Kamar saya di lantai dua asrama tidak terusik oleh orang-orang yang lalu lalang. Angin musim kemarau berembus kencang, sejuk namun terasa kering menerpa wajah. Tampak danau yang juga makin mengering, padahal beberapa bulan lalu sempat meluap. Beberapa pohon mangga di tepiannya buahnya sudah hampir habis padahal baru saja mengkal. Kami sama-sama bersabar mengharap kemarau segera berakhir. Kemarau di bumi, juga kemarau di kantong para penghuni asrama. Segera keluar dan menulis. Ada banyak hal di depan mata kita. Ya, sejak beberapa bulan terakhir saya dihantui oleh beberapa tulisan yang me