Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Menjemput Matahari

Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman terletak agak jauh dari kota Pariaman. Tapi jangan tanyakan soal keindahan, keelokan, kecantikan, ataupun ketampanannya. (Matahari pagi membelah gunung Singgalang dan Tandikek) Liku-liku Sungai Ja'niah (Jernih)  membelah nagari Sikucur. Airnya Jernih dan begitu segar, menjadi sumber air utama di sana. Mandi, mencuci, bahkan untuk memasak (setelah ditampung beberapa saat). Sungai ini juga dipenuhi ikan Larangan. Ikan yang menurut kepercayaan penduduk lokal hanya bisa ditangkap pada waktu-waktu tertentu, sayang saya tidak mendapat jawaban ketika kutanyakan mengapa. Saya maklum dengan sesuatu yang begitu diyakini dan dipercaya masyarakat. Mereka tak memiliki penjelasan tapi begitu yakin, takut ada sesuatu terjadi jika melanggarnya Korong Durian Kadok adalah salah satu korong (dusun) tertampan di Sikucur. Liat saja ini foto-rotonya. (Me) (Kak Resi) (Ardi) (Iit) Jadi, satu hari

Sebuah Pertemuan, Keluarga DKI

Taukah kau rindu itu apa? Tataplah jernihnya sungai Ja’niah Yang membelah jalan dekat rumah kita dulu Anak-anak sungai bertemu kemudian menyatu Airnya jernih terus mengalir Seperti itulah rindu. Beberapa lelaki duduk di teras rumah joglo itu, bernyanyi sambil memainkan gitar. Rumah kedua di samping kanannya juga terbuat dari susunan batu bata dengan model yang sama, sekelompok wanita bergerumul di depan pintu masuk. Menatap kami (Aku dan Sofie) atau mungkin sekadar memandangi baju kami yang berwarna mencolok, merah hijau. “Mahasiswa KKN UNHAS” tertulis pada dada kanan dan ayam jantan bertengger kokoh di lengan kanan. Aku diliputi rasa canggung, deg-degan, dan sedikit cemas ketika pertama kali kulangkahkan kaki turun dari motor. Tak seorang pun yang kukenal kecuali Sofie yang datang bersamaku, begitu pula Sofie. “Selamat datang di Nagari Sikucur. Semoga betah selama KKN,” gumamku. Mereka menyambut baik, meski kadang saling berbisik dalam bahasa yang tak mampu kute

Buka Puasa- Puncak Merapi Sumbar

“Keliling-Keliling Nagari,” begitulah beberapa mahasiswa Unand memberi arti dari KKN. Kegiatan KKN memang merupakan proses pengabdian masyarakat, tapi tak bisa dimungkiri sebagian besar mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlibur, alias jalan-jalan. Seperti halnya saya, tak membiarkan moment KKN berlalu begitu saja. Sambil nyelam minum air, juga makan snack balado. Bahkan sebelum dinyatakan lulus sebagai peserta KKN tematik di Padang, Sumatera barat, telah kurencanakan apa-apa yang akan dilakukan nantinya di sana. Termasuk mendaki gunung. Tiba di lokasi KKN, saya bertemu dengan teman se-nagari salah satunya adalah Andri, mahasiswa Antropologi Unand yang senang mendaki dan kebetulan sudah pernah ke Makassar bahkan sempat mendaki gunung Bawakaraeng. Kami bercerita panjang lebar, tentang studi saya, tentang Makassar, Sumatera Barat, hingga saya mengatakan keinginan untuk mendaki. Alhasil, dia langsung menjawab, “iyya, ntar kita mendaki merapi Mad.” Wah… :) *** Mingg