Langsung ke konten utama

Segelas Teh Manis Minggu Pagi Masih Berselancar



“Bukan” sebuah tulisan

Telah berjam-jam kucoba berselancar di internet. Mencari-cari pemahaman atas “masalah” yang kualami sejak dulu. Bukan hanya aku, tapi juga bebarapa teman-teman yang ketika kuceritakan hal tersebut juga merasakan hal sama. Pencernaan tiba-tiba menjadi lancar setelah meneguk segelas teh manis di pagi hari. Kadang kopi, kadang susu. Tapi sama saja. Serasa dikejar-kejar itu…

Belum juga kudapatkan penjelasan yang betul-betul clear. Yang kutangkap bahwa memang teh maupun kopi memang memiliki kandungan yang dapat memperlancar pencernaan. Tapi ada juga yang membantah dan mengatakan sebalikya, kopi malah membuat proses pencernaan menjadi sulit (www.akuinginsuks*s.com/fakt*-sebenarny*-tentan*-mito*-minu*-kop*/). Situs tidak terpercaya menurutku, lihat saja dari alamat url-nya.

Menurut kebanyakan orang, seharusnya itu bukanlah hal yang mesti dipermasalahkan. Bukankah justru merupakan hal yang baik ketika pencernaan kita lancar?

Ya, aku juga tahu itu. Tapi bukan itu sebab mengapa harus dipermasalahkan. Jadi begini ceritanya… (membayangkan sebuah film yang sedang terjadi flashback di dalamnya)

(Tak setampan ini yang biasa kami minum,milik kami lebih nikmat meski kadang dalam gelas plastik. Foto ini hanya diambil dari web sebelah)
Pada jaman dahulu kala, (sampai sekarang), aku tinggal di sebuah asrama mahasiswa kampus tempat dimana aku kuliah. Kami menyebutnya Ramsis Ceria karena para penghuninya adalah orang-orang yang kuat jiwanya, hatinya, dan raganya (lebay) menghadapi kondisi asrama itu. Ya, kami selalu tampil ceria (katanya).

Atas alasan yang kami terpaksa menerimanya karena saking tidak masuk akalnya sehingga mesin air tidak dinyalakan pada hari minggu (hari sabtu juga kadang) oleh pengelola. Mungkin mereka pikir, hari minggu adalah hari libur kuliah sekaligus libur mandi dan mencuci. Jadi kami harus mengangkat air dari bak penampungan ke kamar mandi.

Hubungannya? Hari minggu adalah moment dimana kami (aku dan teman-teman) sering ngumpul sambil ngopi, nge-teh atau nge- u.u.. bareng. Mengisi perut yang kosong dan bisa saja berakibat ke rasa mau e’ e’… harus angkat air dulu ditengah-tengah kebelet. (jangan dibayangkan). Minggu bagi kami adalah hari dimana kami membutuhkan air lebih dalam aktivitas: mencuci, mandi, memasak, dan lain-lain.

Well, sebenarnya aku sedang mencari sesuatu yang (sok) ilmiah yang bisa dikaitkan dengan hal-hal remeh-temeh dalam kehidupan di Ramsis “resident”. Yang seolah-olah memberikan kritikan terhadap kebijakan-kebijakan yang biasa diambil sepihak oleh pihak pengelola.

Rencananya aku mau membuat tulisan dengan judul “Dilarang keras: Teh Manis Minggu Pagi.” Bermaksud mengambarkan bahwa tindakan pengelola ramsis: tidak menyalakan mesin air di hari minggu adalah salah karena para penghuninya (terutama aku) suka meminum teh manis atau minuman hangat lainnya sebagai sereal di minggu pagi, tapi terkadang kami (aku) mengurungkan niat karena takut tiba-tiba kebelet e’e’ tapi tak ada air. Karena katanya teh bisa memperlancar pencernaan. Katanya, kandungan Tanin dan Fitokimia pada teh mempunyai efek restoratif pada saluran pencernaan. Sehingga menjadikan sistem pembuangan kotoran menjadi lebih lancar.

Sudahlah… liat nanti. Jadi tulisan apa tidak, setidaknya ada tulisan tidak jelas ini. :)

Komentar

Reskiawati Anwar mengatakan…
Ke sahabat saja cari air, kak. :D

Postingan populer dari blog ini

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…