Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Mendekatlah, Maka Cinta

(Arsip pribadi) Kami percaya bahwa segala kejadian besar di dunia ini, apa pun itu yang dilakukan oleh umat manusia adalah akibat dari cinta. Entah itu hal yang baik maupun yang buruk, semua karena cinta. B.J. Habibie bisa mencintakan pesawat tentu karena ia mencintai mesin, ia telah bergelut dalam dunia tersebut. Bagaiamana dengan keburukan, Perang Dunia II misalnya yang katanya penyebab utama adalah Hitler? Justru karena Hitler sangat mencintai kaumnya, dimana pada masa itu bangsa Arya beranggapan bahwa bangsa mereka adalah terbaik di dunia ini, mereka yang paling sempurna dibanding bangsa-bangsa lain, cantik dan tampan dengan postur tubuh yang sempurna, sehingga mereka mendiskriminasi bangsa lain bahkan ingin melenyapkannya dari dunia ini, termasuk bangsa Yahudi saat itu Atau contoh kecil, permusuhan dan perang biasa terjadi antara mahasiswa Fakultas Sospol dan Teknik di Universitas Hasanuddin dipicu hanya masalah sepela. Seorang Maba (perempuan) Teknik melapor kepada

Mempertanyakan Indonesia

(Arsip pribadi) Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, terkadang saya merasa tinggi hati, bahkan membusungkan dada ketika seorang dosen bertanya kepada kami, mahasiswanya tentang sastrawan-sastrawan Inggris dan karyanya. Dan saya satu-satunya mahasiswa yang mengangkat tangan kemudian menjawabnya dengan benar. Di lain sisi, pernah suatu hari ketika masih di semester tiga, saya mengikuti suatu seminar kepenulisan fiksi yang juga dihadiri oleh mahasiswa dari universitas lain. Saya tercengang ketika salah seorang pemateri dengan bangganya menyebutkan karya-karya sastrawan Indonesia yang terkenal bahkan telah mendunia, sedang saya merasa asing dengan beberapa nama tersebut. Apakah saya salah telah memilih jurusan Sastra Inggris dan semestinya saya masuk jurusan Sastra Indonesia? Atau adakah yang salah dari cara belajar saya sehingga saya tidak mengenal sastrawan Indonesia? Atau mungkin karena seseorang telah menyebabkan saya lebih mencintai milik bangsa lain dari pada bangsa I

Sampai Kapan Menolak Berpuisi?

Di atas panggung, kusembunyikan canggung yang hampir-hampir melumpuhkan organ gerak. Kemudian kuberteriak lantang, sorotkan mata tajam, dan sesekali berbisik lembut. Hingga penonton terkagum-kagum – mungkin meleleh. Ah! Itu hanyalah hayal yang sering muncul di benakku sejak menghadiri kegiatan Sekolah Islam Athirah. Acara temu penulis yang menghadirkan sastrawan Indonesia, Taufik Ismail. Juga mengundang beberapa organisasi dan komunitas se-Makassar untuk turut membacakan atau pun musikalisasi puisi. Atau mungkin bukan karena itu, tapi sejak kami (saya, Kak Syahrir , Kak Isma dan Kak Fika menghabiskan se-sore-an di Cafe Baca untuk latihan berpuisi. Bukan kami sebenarnya, tapi hanya Kak Syahrir dan Kak Fika, while saya dan Kak Isma adalah komentator terhebat yang tak bisa berpuisi. Pernah sekali, beberapa hari lalu di Sekolah Kritis PERISAI saya memberanikan diri membacakan puisi “Membaca Tanda-tanda” karya Taufik Ismail, itu pun karena kami hanya beberapa orang di sana