Langsung ke konten utama

Bakti Sosial di Dusun Sabang





Suatu hari Dusun Sabang, Desa Bonto Bahari, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros terlihat begitu ramai. Sekelompok mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin baru saja tiba dari Kota Makassar, setelah menempuh jarak sekitar 40 kilometer atau selama satu jam lebih.
Jauh dari hiruk pikuk kota, suasana begitu berbeda dengan yang biasa kami lewati sehari-hari. Embusan angin laut yang melewati celah-celah tanaman bakau terasa begitu sejuk meski matahari berada tepat di atas kepala kami. Di daerah pesisir inilah, kami menggelar kegiatan bakti sosial dengan tema “Satu Langkah Kecil dengan Kepedulian Besar.”
“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat, juga inilah salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang merupakan salah satu dari tridarma perguruan tinggi,” kata Darmayanti, yang merupakan penanggung jawab dari kegiatan tersebut.
Kegiatan bakti sosial adalah salah satu program kerja Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris (PERISAI) Unhas, yang kami persiapkan jauh hari sebelumnya.
Setelah briefing di rumah kepala desa setempat dan beribadah, panitia bakti sosial segera melaksanakan kegiatan sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan sebelumnya kepada setiap orang.
Ada tiga tim yang dibentuk sesuai dengan tugas masing-masing. Ada tim yang bertugas memasang marka jalan, ada yang membersihkan masjid, juga ada yang bertindak sebagai tenaga pengajar.

Tetap semangat
Terik matahari yang menyengat tidak mengurangi semangat tim pemasang marka jalan. Warga setempat pun ikut membantu sehingga kami dapat menyelesaikan tugas lebih cepat dari yang diperkirakan.
Marka jalan dianggap penting di desa ini karena memiliki potensi wisata, namun kurang dikenal oleh masyarakat umum. Salah satunya, ada dermaga Dusun Sabang yang menghadap ke barat sehingga pengunjung dapat menikmati panorama matahari terbenam.
Di sisi lain, tim kebersihan masjid sedikit kewalahan karena saat itu kondisi masjid yang masih dalam proses renovasi. Jadi kami lebih memfokuskan kebersihan di ruang dalam masjid.
Desa yang populasi seluruhnya beragama islam penduduknya adalah muslim ini memiliki masjid yang sederhana, tetapi indah karena berdiri di tengah-tengah tambak masyarakat.
Setelah masjid dibersihkan, baru kemudian tempat ibadah ini juga dipakai sebagai tempat belajar-mengajar. Anak-anak sekolah di Dusun Sabang ini ternyata begitu antusias belajar.
Setelah kepala desa memberi pengumuman di masjid, satu per satu para siswa berdatangan. Mereka membawa peralatan tulis. Bahkan beberapa ibu-ibu yang mengantar anak mereka juga ikut duduk mendengarkan.
Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan umur dan tingkatan pendidikan masing-masing. Setiap kelompok terdiri dari empat hingga delapan orang yang dibimbing oleh satu atau dua orang. Siswa tingkat sekolah dasar merupakan peserta terbanyak, sedangkan siswa SMP berjumlah belasan dan SMA hanya empat orang.
Mereka belajar bahasa Inggris dasar lengkap dengan aneka permainan yang memudahkan untuk cepat memahami. Meski belajar Bahasa Inggris relative sulit, mereka menyukainya.
Masyarakat Desa Bonto Bahari yang sehari-hari bercakap dalam bahasa Makassar mayoritas memahami bahasa Indonesia. Akan tetapi mereka tidak mengerti cara menggunakannya dalam percakapan.
Begitu pula dengan kalangan pelajar, terutama siswa SD. Alhasil para pengajar menggunakan tiga bahasa untuk membantu mereka.
Sekitar pukul 15.00 Wita, kegiatan belajar-mengajar berakhir dan kami pun berkumpul di rumah kepala desa untuk beristirahat.

Belajar menari
Kegiatan kembali dilanjutkan sore hari. Seusai belajar bahasa Inggris, anak-anak perempuan belajar menari. Kami mengajarkan beberapa tarian daerah, misalnya tari padduppa, tari toraja dan tari kipas guna mendekatkan budaya lokal kepada mereka. Sementara bagi anak laki-laki diajarkan beberapa gerakan olahraga bela diri karate.
Kegiatan lain yang dilakukan panitia laki-laki adalah membersihkan area pemakaman warga. Pemakaman dengan luas kurang dari 1 hektar itu berlokasi di tengah tambak. Pemakaman ini tak begitu terurus.
Bermodal parang milik warga setempat, kami kemudian memangkas ilalang setinggi sekitar 1,5 meter yang menutupi pemakaman.
Ketika senja membayang di ufuk barat, panitia berbenah untuk pulang. Kami semua menyalami kepala desa dan warga yang berkumpul. Kami bahagia bisa melakukan sesuatu untuk warga setempat.
Terbit di kolom Kompas Kampus-Kompas
Edisi Selasa, 1 Januari 2014


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai. 
Yesterday morning (18/2), Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam)
Bangun jam setengah 6, took a shower, segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jalan yang masih le…