Langsung ke konten utama

Januari


Mencoba menggerakkan tangan sendiri :)
Januari telah berakhir sejak beberapa hari lalu, tapi entah apa yang mendorongku untuk menulis tentang dirinya.


“Bulan Janda”, begitu disebutkan oleh salah seorang di kampungku. Manusia bugis dengan berani mengatakannya. Berharap itu bukan doa, hanya suatu istilah lain untuk menyebut bulan Januari.
Ada banyak cerita yang bisa dikisahkan sepanjang januari. Tentang angin, air, udara, dan tanah, atau tentang seekor semut yang meninggal tertindas truk. Namun kekuatan perut manusia lebih kuat dari pada ingatan.
Januari, bulan berlimpah buah. Saya masih ingat dua minggu awal januari saya habiskan di kampung. Januari menyuguhkan berbagai macam buah baik yang didapatkan di kebun maupun di pohon buah samping rumah yang dimanfaatkan sebagai pohon pelindung. Buah mangga yang beragam, muda maupun yang masak, buah nanas, kelapa muda, rambutan, durian, dan buah lainnya. Januari menjadi berkah bagi pecinta buah, juga bagi mereka yang senang diet.
Ah, siapa yang peduli itu. Bagi masyarakat metropolitan semua saja. Buah segar yang dibungkus plastik dan pengawet harus dibeli di supermarket.
Peralihan tahun merupakaan waktu yang kurang menguntungkan bagi pelaut, terlebih bagi Indonesia yang merupakan negara rawan karena ombak tinggi disertai angin kencang. Dan mencapai puncaknya pada januari. Mungkin ini lah mengapa “mereka” menyebutnya “bulan janda”, karena pada bulan januari tak jarang kapal tenggelam. Lelaki bugis terkenal sebagai perantau yang pemberani. Pada bulan januari banyak perantau yang pulang melepas rindu ke kampung halaman, atau sebaliknya pemuda bugis berangkat merantau, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun mengumpulkan uang menikah. Sebelum berangkat ia telah berjanji pada seorang gadis untuk kembali menikahinya setalah ia berhasil mengumpulkan banyak uang di rantau.
Januari sungguh menyisahkan luka bagi mereka yang terbuka kelopak mata hatinya. Banjir terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Sulawesi, Jawa, dan Sumatera. Banjir Bandang yang tiba-tiba menyapu kota Manado dan sekitarnya (ets, menurutku bukan tiba-tiba, karena manusia sendiri telah merencanakannya dengan strategi penebangan liar). Kerugian materi menurutku tidak seberapa di banding kerja keras sebatang pohon untuk melindungi atmosfer bumi. Manusia.
Dua mata
Di Jakarta, berbagai usaha telah dilakukan untuk mengurangi banjir yang terjadi setiap tahunnya. Namun kenyataannya sama saja, atau bahkan banjir tahun ini lebih besar dibanding tahun lalu. Kita tak bisa tak menghargai usaha pemerintah karena memang semua sudah diatur Sang Penguasa semesta. Juga diatur oleh masyarakat kelas atas dengan cara terus melakukan pembangunan perumahan elit dan gedung-gedung tinggi demi nilai uang yang menjanjikan yang telah dikalkulasi oleh si invisible hand. Dari mana mereka mendapatkan tanah untuk menimbun rawa-rawa demi menciptakan pondasi yang kuat kalau bukan dari tanah gunung yang terus dikeruk.
Belum lagi kisah Sinabung yang terus menyemburkan amarahnya dalam wujud abu panas. Ini bencana alam, tak ada yang dapat menampiknya, tak ada yang bisa disalahkan. Ini takdir. Tapi tidak kah tanah, air, udara, dan makhluk saling berhubungan, bukan hanya di Indonesia , tapi di belahan dunia manapun. Bisa jadi ini adalah hukuman untuk manusia, bukan untuk masyarakat di sekitar Sinabung, tapi untuk semua manusia.
Perlu milyaran tahun bagi bumi untuk melahirkan keseimbangan atmosfer dengan bantuan tumbuhan hijau yang mampu memanfaatkan energi matahari, mengisi atmosfer dengan oksigen demi paru-paru manusia. Tapi manusia hanya perlu bilangan tahun untuk mencakar langit dengan gedung-gedungnya.

Komentar

ismiiisma mengatakan…
ceki, semut itu tidak "meninggal", dek, tapi "mati"...

Oh iya, kamu jahat, harusnya kamu pulang bawa rambutan dan langsat :(
Balik lagi ke soppeng ambil buah, sana.. :p
Ahmad Mdi mengatakan…
hahaha... #grammatical error lg kyaknya ini.

Waduh, rambutan itu pemberian tetangga Kak :p
ismiiisma mengatakan…
jiiiaaahhh.. kecewa penonton
Ahmad Mdi mengatakan…
Sekecewa mana dibanding sebuah surat yang tak sampai? :)
Eh, sudah dapat info?. besok jam setengah 10 di lt.4 rektorat ada sosialisasi exchange student Jepan khusus mahasiswa Sospol dan Sastra

Postingan populer dari blog ini

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…