Langsung ke konten utama

WelcomeBack

Bismillahirrahmanirrahim.
Sekitar empat tahun yang lalu, saat saya masih mengenakan putih abu-abu rapi, rambut juga disisir rapi dan tak pernah dibiarkan tumbuh melewati daun telinga. Seseorang yang tak bisa disebutkan namanya yang saya kenal melalui kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) memperkenalkan tentang dunia blog. Tidak secara langsung sebenarnya, karena berawal dari postingan-postingannya yang di share ke timeline Facebook, kemudian saya iseng-iseng membuka tulisannya. Ternyata keren, meski ia sekedar mengisahkan kegiatan-kegiatannya tapi ia mampu menyulapnya menjadi kisah yang luar biasa.

Berawal dari situ, saya juga memberanikan diri ke warnet kemudian mebuat blog yang namanya sedikit alay “www.cerdasaktif.blogspot.com” mirip-mirip modul mate-matika :) Lalu saya isi dengan tulisan-tulisan seadanya, bahkan pernah juga saya “copas” dari blog orang lain. Kemudian ganti url menjadi “www.mencariahmad.blogspot.com” . Ah, biarlah setidaknya saya bisa memamerkan blog saya ke teman-teman SMA.

Tapi itu hanya terjadi sesaat, “Mate Colli” dalam istilah bugis. Mirip-mirip istilah layu sebelum berkembang, dimana semangat hanya sesaat saja. Bahkan hingga saya lanjut ke perguruan tinggi, tulisanku tidak juga bertambah. (Bukan kah saat SMA saya berjanji akan aktif di dunia blog. Menulis, menulis, dan curhat.

Kemudian saya bergabung di Forum Lingkar Pena saat memasuki semester 3. Dan sama saja, saya masih malas menulis. Tapi ada satu hal terbesar yang berubah, MEMBACA. Saya tiba-tiba gila baca, baca apa saja, termasuk meng-”Kepo”i profil-profil facebook teman. Namun saya tidak berhenti, tidak menghindar dari FLP, meski selalu saja merasa tersudutkan karena mengalungi status anggota FLP namun tak berkarya. Liat saja, tak ada pun satu postingan di blog ini selama 2013.

Sudahlah, Biarlah berlalu. Terlambat bukan berarti langkah terhenti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…