Catatan Singkat dalam Bising Perpustakaan



Memasuki perpustakaan daerah Kabupaten Soppeng untuk pertama kalinya: lebih terasa seperti gedung perkantoran pemerintah daripada perpustakaan.

Begitu memasuki pintu seorang pegawai yang sedang duduk di meja resepsionis berdiri menyambut namun hanya dengan tatapan, tanpa kata. Ia pun baru bicara setelah saya yang memulai. Dengan terbata-bata – sepertinya ia bukan orang yang biasa atau sering menyambut pengunjung perpustakaan – ia meminta saya menyimpan tas di lemari yang cukup kecil untuk disebut sebagai rak penyimpanan. Ketika bertanya, ia menjawab kurang tegas, ragu, sehingga saya harus mengklarifikasi kembali.

Setelah mengeluarkan laptop, mengisi daftar pengunjung yang setidaknya sudah tidak konvensional lagi, saya melangkah melewati jejeran rak buku menuju meja baca, menyimpan laptop.
Perpustakaan ini terlalu sempit untuk menampung berak-rak buku. Rak tidak sesak oleh buku namun berdiri terlalu berhimpit-himpitan satu sama lain. Celah antar rak sangat kecil. Untungnya, tubuh saya cukup ramping untuk bisa dipaksakan berada di antara rak. Mencari dan memilih buku tentu tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Apalagi untuk melihat buku pada baris paling bawah, saya harus jongkok, tapi kenyataannya beberapa lokasi tidak memungkinkan saya untuk jongkok saking sempitnya.

Menemukan buku-buku berdebu tentu hal yang lumrah. Lumrah bagi perpustakaan yang sering tak dikunjungi, tak disentuh dan tak dijamah buku-bukunya. Termasuk di sini, buku berdebu dan masih tersusun rapi. Yang berdebu bukan hanya buku, bahkan rak-rak kayu pun demikian. Padahal sepertinya cukup banyak pegawai di sini. Tapi kita tidak seharusnya menyalahkan mereka sepenuhnya, namun menyalahkan diri sendiri, diri kita masing-masing, yang tidak melirik perpustakaan. Pun saya, hampir 26 tahun lahir dan besar di Soppeng, namun baru pertama kali ke sini.

Hari ini senin, 14 januari 2019, saya tiba sekitar jam 11 pagi. Mungkin karena ini perpustakaan ramai.
Perpustakaan ini ramai dan bising, namun bukan oleh pengunjung tapi oleh pegawai yang saling bercakap. Suara mereka memenuhi ruangan yang sempit ini. Tepat di samping kanan, tempat saya duduk saat ini ada empat staf yang membicarakan hal-hal sederhana perihal kehidupan sehari-hari yang sepertinya sangat mengasyikan.[1] Belum lagi pegawai-pegawai di pojok lain. Dalam hitungan jari saya ada lebih dari 13 orang, sebagian besar perempuan, wajar jika cukup bising. Sebuah meja di belakang saya – kami di antarai oleh beberapa rak –  juga sepertinya sedang asyik dengan permainan hp hingga suaranya sampai ke telinga saya.

Mungkin saya salah memilih posisi duduk. Tapi Ah, tidak. Semua posisi duduk, di pojok mana pun, sama saja. Tidak ada ruangan-ruangan khusus untuk pengunjung. Semua adalah ruang “diskusi”. Jika saja saya di perpustakaan kampus University of Aberdeen yang dulu, maka saya adalah seorang yang terjebak dalam ruang diskusi dan membutuhkan ruang baca atau ruang diam.

Sangat disayangkan, jumlah pegawai tidak sebanding dengan jumlah pengunjung. Hanya saya dan dua orang lain duduk tepat di depan saya.[2] Sama seperti saya, mereka juga menikmati saja  mendengar suara-suara bising. Mereka tidak bersuara kecuali suara keybord laptop yang sesekali terdengar.

Untuk memperoleh ketenangan kita tidak harus berada di tempat yang sunyi, bukan? Kita bisa saja tenang di tengah keramaian. Begitu pula ketika berada di sini, meski telinga saya cukup sesak oleh sekelompok ibu-ibu tepat di samping kanan saya yang berbicara cukup cepat dan keras tentang masakan spesial yang telah dan akan mereka buat, saya masih bisa menenangkan pikiran. Malah kadang-kadang jadi inspirasi. Ha!

Sayang sekali ini tidak berlangsung seterusnya. Mungkin telinga saya lelah. Ketika suara mereka tidak bisa lagi membantu melancarkan tangan saya untuk mengetik – atau mungkin memang saya yang jenuh – saya hentikan catatan ini. Saya pasang headset ke telinga,[3] lalu membaca kumpulan karya sastra terjemahan Rusia yang dialihbahasakan oleh Prof. Dr. H. Moh. Tadjuddin, M.A.

Ternyata  beberapa cerpen dalam buku ini, salah satunya Catatan Harian Orang Gila yang satu-satunya bisa saya selesaikan di sini, adalah sumber inspirasi Budi Darma dalam menulis novel Olenka yang saya baca beberapa waktu lalu.
Mungkin itu pula yang mendorong saya secara tidak sadar memilih buku ini dari rak kesusastraan.



[1] Saya menoleh ke kanan setelah menulis catatan ini (sebelum duhur), ternyata jumlah mereka sekarang ada enam. Saya kembali menoleh ke kanan saat mengedit catatan ini sebelum diposting (2.30pm), masih ada empat orang.
[2] Menjelang jam 12 siang, kedua orang laki-laki dan perempuan itu meninggalkan perpustakaan, membiarkan saya sendiri menikmati perpustakaan. Setelah jam istirahat, dua pengunjung lain datang.
[3] Bahkan ketika musik saya mainkan keras-keras suara mereka pun masih kedengaran. Apalagi ketika seorang perempuan mengangkat telepon berbicara kepada seseorang. Bagaimana pun tetap mengasyikan.

Catatan Singkat dalam Bising Perpustakaan