Langsung ke konten utama

We don’t Need Money, We Need Recognition

‘We don’t need Money, We need Recognition,’ kalimat yang masih membekas dalam pikiran saya, kalimat yang membuat kagum, sedih, sekaligus marah. Tidak bisa dimungkiri, setiap orang butuh RECOGNITION, pengakuan bahwa ia ada. Apalah arti harta dan ilmu jika kita tidak diakui di masyarakat misalnya. Apalagi sebuah kelompok yang besar, bangsa. Tentu mereka butuh pengakuan. Ya, setidaknya, menurut saya, kutipan dialog tersebut bisa mewakili perjuangan orang-orang Palestina tergambarkan di film The Wanted 18.
Kuliah di University of Aberdeen
Malam kemarin (16/2) Alhamdulillah, bersyukur bisa ikut nonton bareng dan diskusi film tentang Palestina yang diadakan oleh Arab House Society dan Aberdeen Student Palestine Society. Pertama, bisa mencicipi beberapa makanan khas timur tengah untuk pertama kali —Ah, dasar manusia, makanan selalu saja yang pertama kali muncul di ide atau pembicaraan, apalagi kalau gratis. Maaf, tapi karena memang ketika baru masuk ke ruangan, kami disambut dengan dipersilahkan mencoba makanan dan minuman yang disediakan. Tidak seperti pada kebanyakan kegiatan yang dulu sering saya ikuti dulu yang ketika datang kita disambut dengan administasi—isi buku tamu menjadi hal wajib dan syarat sebelum masuk. Karena semuanya terlihat baru di mataku, jadi saya ambil saja sampel masing-masing, hehehe… Tapi Mas Irham yang paling senang dengan “menu” malam kemarin, I found Tho'miyyah (a mouth-watering local cuisine of Egypt) that I have not tested it since 2.5 years,” katanya di status fb. Wajar sih, pernah di Mesir 4 tahun membuatnya akrab dan rindu dengan makanan tersebut, Sedangkan saya, ternyata, it was not as delicious as I thought. Apalagi yang mirip salad itu rasanya aneh, sangat. Kalau Tho'miyyah lumayan enak. Maaf, bicara makanan sampai sepanjang ini.
Tho'miyyah (bulat)
Yang kedua, dan paling penting tentang filmnya, The Wanted 18. Merupakan film dokumenter, plus animasi (18 ekor sapi yang bisa bicara dan masing-masing punya nama) tentang perjuangan warga Palestina, khususnya di daerah Beit Sahour melawan militer. Melalui 18 ekor sapi mereka berjuang untuk memproduksi susu sendiri dan mendistribusikannya ke penduduk Beit Sahour, mereka ingin lepas dari tangan Israel. Ya, mereka dilarang memproduksi makanan sendiri, tapi harus membeli dari Israel sendiri. 18 sapi itulah kemudian menjadi kekawatiran Israel­ militer Israel mengingikan sapi tersebut dihilangkan—hingga penduduk Beit Sahour berjuang memindah-sembunyikan sapi-sapi tersebut. Apa daya, Palestine kalah “power.”

Film ini sangat menarik, memberikan pengetahuan baru tentang ‘Intifada’ misalnya jujur, saya baru tahu istilah ini­—merupakan perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel. Film ini tentang Intifada pertama (1987–1993). Mengetahui bahwa ternyata yang berjuang di Palestine bukan hanya orang-orang muslim, bahkan katanya di Beit Sahour mayaroritas penduduknya adalah Kristen. Mereka sama-sama berjuang melawan. Saya banyak belajar, JUGA saya semakin sadar bahwa masih banyak yang tidak saya tahu tentang Palestina.

Mengenai ketika perasaan yang bercampur saat menonton film ini seperti yang saya katakan di awal tadi: Kagum, tentu karena perjuangan mereka dalam melawan Israel dan berusaha mengembangkan ekonomi sendiri; sedih melihat bagaimana militer Israel memperlakukan mereka; sekaligus marah, jengkel terhadap kebiadaban Israel. Saya pikir kisah mereka membeli, memproduksi susu, dan mempertahankan 18 sapi tersebut adalah contoh yang sempurna.



Yang ketiga dari forum ini tentu ketemu dengan orang-orang baru. Hal yang lumrah sebenarnya, tapi karena kita tidak pernah menemui karakter yang sama dalam setiap forum jadi harus masuk dalam cerita. The man who sits beside us orang Jerman, and in front of me orang Turki (tidak kena foto). Berawal dari kenalan, tanya jurusan, hingga cerita tentang negara masing-masing. Yang mengejutkan: Max (Jerman) mengenal Indonesia dengan negara yang banyak orang Cinanya. Memang sudah separah itu ya? Pikirku malam itu. Ternyata dia memang pernah tinggal di beberapa negera, termasuk Maroko, jadi wajaralah pengetahuannya dalam dan “aneh”. But I think mereka termasuk kategori friendly dibandingkan teman sekelas yang sifat individualismenya lumayan. Mungkin karena yang di forum ini kebanyakan masih mahasiswa undergraduate.

Komunitas ini, Aberdeen Student Palestine Society, pun ternyata memiliki member yang bukan hanya muslim, bahkan kalau saya lihat sekilas lebih banyak non-muslim. I don’t mind to labeling by religion, tapi saya kagum dengan apa yang mereka lakukan untuk Palestina. Beberapa bahkan telah ke Palestina berbagi dengan penduduk sana. Salah seorang peserta bertanya, “So, what can we do for this (to give support)?” 

“Boycott the products of Israel or which support them. As simple as that.” Jawabnya. Ya, jika tidak memungkinkan bergabung dengan komunitas tersebut, maka hal kecil tapi bisa berpengaruh besar adalah hati-hati dalam membeli sesuatu, jika memungkinkan, jangan produk Israel. 

Aberdeen, 17 February 2017.

Komentar

Unknown mengatakan…
������
Unknown mengatakan…
������

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai. 
Yesterday morning (18/2), Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam)
Bangun jam setengah 6, took a shower, segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jalan yang masih le…