Langsung ke konten utama

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai. 

Yesterday morning (18/2), Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam)

Bangun jam setengah 6, took a shower, segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jalan yang masih lenggang, meski di pendakian demi mengejar waktu berjamaah. I have been here more than 6 weeks dan ini baru kali kedua shalat subuh di masjid. Buruk.

As usual, setiap minggu setelah shalat ada halaqah singkat: pengajian satu ayat satu orang dan makan-makan (snack) sambil membahas kandungan ayat yang dibaca ataupun hal lain. Ada yang bertanya tentang kandungan Ar-Rum ayat 30an, lalu dibahaslah mengenai hukum operasi plastik dan operasi kalamin, and etc. intinya tentang bagaimana batasan mengubah kodrat Allah atau apa yang diciptakannya, hingga merampat ke pembahasan hukum mendonasikan organ tubuh jika mati­—sepertinya ini memang cukup common di sini, termasuk ketika saya mengisi formulir asuransi di salah satu tempat praktik, ada pertanyaan “Do you want to donate ur organ after died,” begitulah kurang lebih.

Saat ingin keluar masjid, seseorang menahan saya dan teman. Ia mengajak untuk ikut kegiatan semacam jama’a tabliqh—menginap di masjid luar Aberdeen Jumat malam hingga Minggu sore. Wah, ini kesempatan untuk sekalian jalan-jalan, but then I said, I’ll confirm later. Tidak boleh gegabah.

Meninggalkan masjid, saya tidak langsung kembali ke flat, tapi menuju tempat yang tidak jelas, mencari jembatan dan sungai hanya bermodal Google Map. Harapannya, tempat yang disinggahi nanti bagus dan menarik untuk foto-foto.

Dalam perjalanan, tiba-tiba rantai sepeda terlepas dari gigi roda, lalu terjepit. Alhasil, saya tidak bisa memperbaikinya meskipun sudah dicungkir-balikkan, kaos tangan yang tadinya biru kini berubah jadi hitam. I tried and tried, tiba-tiba seseorang yang  lagi jogging berhenti di dekatku, “Do you need help?” Nessami bilangka “Yes.” He helped me to fix the chain, tapi ia juga tidak bisa setelah mencoba beberapa kali.

Karena merasa tidak enak sama beliau ini, dan tidak tahu bagaimana cara yang baik untuk menghentikan dan mempersilahkannya lanjut jogging, saya bertanya saja, “Is there any bicycle “place” near here?”

Ha! “tempat sepeda”? tempat parkir sepeda? Dalam hati saya ketawa sendiri karena menggunakan kata “bicycle place” untuk menanyakan bengkel. Maklum, hanya itu kata yang langsung muncul dalam pikiran saya karena betul-betul lupa bahasa Inggris dari bengkel. Later on saya cek di kamus elektronik, ternyata bahasa Inggrisnya adalah repair shop/workshop/machine shop. What the what! ternyata ini… kosa kata yang sangat common didengarkan sehari-hari. How poor I was.

Kalau tidak salah, dalam istilah linguistik ini disebut passive vocabulary, yaitu kosa kata yang sebenarnya kita tahu artinya (ada di otak), tapi mungkin karena jarang digunakan jadinya susah diutarakan, sekadar tinggal di kepala (atau mungkin pindah ke dengkul),. Jadi sebenarnya bukan tidak tahu sama sekali, hanya perlu di recall. Ok, kembali ke cerita.

Meski bicara saya error, si bapak ternyata paham, untungnya. Ia menjelaskan tempat yang bisa didatangi. Bla… bla… bla…. (tapi bukanya jam 10an karena hari minggu). Well, saya paham penjelasannya­—maaf, bahasanya— tapi tidak mengingat nama jalan dan bengkel yang ia maksud, karena memang saya susah mengingat nama. Saya OK OK saja di hadapannya. Dalam hati, nanti saya cari di Google. I realise I was foolish, seharusnya saya langsung mengeluarkan hp, membuka aplikasi Map supaya ia tidak perlu capek-capek menjelaskan. Ia kemudian melanjutkan “pelariannya.”

How did I feel then?
Saya rasa banyak dari kita yang mengalami seperti ini jika beruntung bertemu dengan orang baik, maka suatu masalah kadang tidak kita anggap sebagai masalah. Maksudnya, sejenak kita akan melupakan masalah, tidak ambil pusing, karena merasa senang dengan kebaikan orang lain. I didn’t even worry about my broken bicycle, saya tidak begitu CEMAS because what I thought was: how lucky I am, merasa beruntung masih ada orang sebaik ini yang peduli. Sama sekali tidak ada perasaan kecewa apalagi kesal yang muncul karena si bapak ternyata tidak berhasil memperbaiki. Yang ada perasaan kagum dan thankful, ia rela “memotong” waktu joggingnya demi menawarkan bantuan.
It was already 7 am…. 

*To be continued… alarm untuk mengerjakan tugas telah berbunyi dari tadi.

Sir Duncan Rice Library, 20 February 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…