Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai. 
Yesterday morning (18/2), Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam)
Bangun jam setengah 6, took a shower, segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jalan yang masih le…

We don’t Need Money, We Need Recognition

‘We don’t need Money, We need Recognition,’ kalimat yang masih membekas dalam pikiran saya, kalimat yang membuat kagum, sedih, sekaligus marah. Tidak bisa dimungkiri, setiap orang butuh RECOGNITION, pengakuan bahwaia ada. Apalah arti harta dan ilmu jika kita tidak diakui di masyarakat misalnya. Apalagi sebuah kelompok yang besar, bangsa. Tentu mereka butuh pengakuan. Ya, setidaknya, menurut saya, kutipan dialog tersebut bisa mewakili perjuangan orang-orang Palestina tergambarkan di film The Wanted 18. Malam kemarin (16/2) Alhamdulillah, bersyukur bisa ikut nonton bareng dan diskusi film tentang Palestina yang diadakan oleh Arab House Society dan Aberdeen Student Palestine Society. Pertama, bisa mencicipi beberapa makanan khas timur tengah untuk pertama kali —Ah, dasar manusia, makanan selalu saja yang pertama kali muncul di ide atau pembicaraan, apalagi kalau gratis. Maaf, tapi karena memang ketika baru masuk ke ruangan, kami disambut dengan dipersilahkan mencoba makanan dan minuman ya…

Konsekuensi

Memulai awal semester di januari - yang normalnya dimulai pada September - memaksa kami harus berpikir lebih cepat. Penyebab utamanya adalah tesis (di sini disebut Disertasi) yang harus diselesaikan di pertengahan perkuliahan. Hampir semua jurusan harus mengikuti semester dua dulu, lalu mengerjakan disertasi, dan terakhir menghadapi semester satu. The problem is, biasanya mata kuliah pengantar yang menjadi pendukung dalam penulisan tugas akhir ada di semester satu.

Jurusan saya, English Literary Studies misalnya, di semester satu ada mata kuliah wajid dan paling penting Approaching Literature berisi tentang teori-teori yang bisa digunakan dalam mengkaji karya sastra. Unfortunately, itu baru bisa diambil setelah menyelesaikan disertasi. Tapi kita tidak bisa menyalahkan kurikulum kampus sepenuhnya, ini konsekuensi memilih awal perkuliahan di Januari. Dan mungkin mereka (kampus) berpikir bahwa orang-orang yang memutuskan datang awal tahun lebih siap dan lebih matang untuk men…