Langsung ke konten utama

Sukses Terbesar dalam Hidupku


Sukses, sebuah kata kerja
Saya teringat hampir 9 tahun silam, ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Karena didorong oleh teman-teman sekelas, saya maju mendaftar sebagai calon ketua OSIS bersaing dengan dua calon lainnya. Saat itu pemilihan dilakukan dengan cara mengutus 5-6 siswa perwakilan kelas. Tiba saatnya pemilihan, kami berkumpul di aula, setiap peserta menulis satu nama dan nomor urut calon pada sepotong kertas yang dibagikan. Setelah semua memilih dan hasil dibacakan. Alhasil saya hanya memperoleh 2 suara: satu suara dipilih oleh saya sendiri dan satu lagi entah siapa.
Saya merasa sangat malu. Malu pada siswa lain, juga pada diri sendiri. Lebih dari itu, saya kecewa terhadap lima teman sekelas saya yang ikut memilih, saya pikir mereka semua akan memilih saya, tapi ternyata mereka lebih memilih orang lain. Saya bahkan tidak dimasukkan dalam susunan kabinet pengurus, rata-rata pengurus diambil dari anggota Pramuka dan PMR.
Seiring waktu, saya mencoba mengintropeksi diri. Mungkin saya memang belum pantas memegang amanah itu. Meskipun selalu juara kelas dan selalu menjadi ketua kelas, namun itu belum cukup. Ketua OSIS terpilih adalah anggota pramuka aktif yang sering diutus sekolah pada kegiatan-kegitian luar, sedangkan saya tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apapun.
Memasuki kelas 1 SMA saya mulai bergabung dengan Pramuka, lalu PMR dan pecinta mushallah. Bekerja semaksimal mungkin dan menjalin hubungan kerja sama dan emosional yang baik dengan rekan se-organisasi. Ketika masih semester genap di kelas 1, saya memberanikan diri maju sebagai calon ketua OSIS. Meski tidak terpilih, suatu kesyukuran saya ditunjuk sebagai sekretaris OSIS. Saat kelas 2, saya kembali mencalonkan diri dan terpilih sebagai ketua pada pemilihan umum dengan rentang perolehan suara yang lumayan jauh dengan tiga calon lain. Alhamdulillah, akhirnya Allah memberikan amanah itu setelah melalui perjuangan.
Selain OSIS, saya pun sering dipercaya mewakili sekolah pada lomba-lomba tingkat kabupaten: debat pramuka, debat bahasa inggris, hingga siswa berperestasi, namun dari semuanya saya hanya mampu memberikan juara empat, kecuali lomba teater yang mendapat juara pertama. Saat perpisahaan pun, saya berada di posisi ke empat lulusan terbaik (akumulasi nilai rapor dan ujian nasional).
Sukses dapat disama-artikan dengan berhasil, yaitu mendapatkan hasil atau capaian setelah melakukan usaha. Jadi menurut saya, sukses ditekankan pada usaha yang dilakukan, bukan pada hasil yang besar atau kecil. Atau, jika boleh saya mengatakan bahwa sukses adalah sebuah kata kerja, kita diminta bekerja dan berusaha.
Saya diterima di jurusan Sastra Inggris melalui jalur ujian tertulis SNMPTN. Suatu kebahagiaan yang luar biasa bisa diterima sebagai penerima beasiswa bidikmisi. Allah menjawab doa hambanya. Ketika SMA, saya sangat mendambakan beasiswa swasta yang sering diiklankan di televisi, bahkan saya ke warnet untuk mencari informasi lebih. Namun, Alhamdulillah, bahkan Dia memberikan yang lebih baik, beasiswa bidikmisi.
Di penghujung tahun 2012, sebelum semester tiga berakhir, suatu kesyukuran Allah memberikan hadiah melalui program kemendikbud. Saya terpilih sebagai salah satu mahasiswa bidikmisi berprestasi mewakili Universitas Hasanuddin pada forum bidikmisi nasional di Jakarta.

Cemburu yang Positif
Mengambil jurusan sastra memotivasi saya untuk belajar menulis. Saya pun bergabung dengan komunitas Forum Lingkar Pena, sebuah organisasi kepenulisan berbasis dakwah. Menulis tidak segampang yang saya pikirkan, tidak semudah menyelesaikan novel setebal 300 halaman. Saya mulai minder ketika cerpen teman-teman se-angkatan di FLP lolos proyek antologi dan beberapa bahkan telah menerbitkan di media cetak.
Saya cemburu, tapi mungkin sebaik-baik cemburu adalah cemburu yang membangkitkan gairah untuk melakukan hal lebih baik darinya. Saya tidak menyerah dan terus memperbanyak bacaan. Hingga setelah setahun lebih, Alhamdulillah untuk pertama kali tulisan saya diterbitkan di koran nasional.
Proses yang menyenangkan. Kami saling cemburu satu sama lain, namun cemburu itulah yang memicu semangat kami untuk terus menulis, tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau mundur, lalu berhenti berkarya. Saya banyak belajar dari teman-teman. Meskipun mungkin apa yang saya lakukan belum ada apa-apanya dibandingkan penulis-penulis hebat. Namun, kecemburuan terhadap mereka membuat saya terus berjuang dan berkarya melalui tulisan-tulisan di blog maupun di media hingga sekarang. Saya percaya, tidak ada proses yang sia-sia.
Saya bahagia, sangat bersyukur atas apa yang telah diberikan Yang Maha Pengasih, namun belum puas. Seperti yang dikatakan Salim A. Fillah bahwa terjebak pada kepuasan adalah perangkap gawat yang hanya akan menghapus gairah untuk meloncat lebih tinggi. Maka manusia tidak boleh berpuas, tapi wajib bersyukur.

*Esai ini disubmit pada pendaftaran beasiswa LPDP 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai. 
Yesterday morning (18/2), Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam)
Bangun jam setengah 6, took a shower, segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jalan yang masih le…