Langsung ke konten utama

Rencana Studi

Nama saya Ahmad, telah menyelesaikan pendidikan strata S1 pada jurusan Sastra Inggris, dengan  mengambil konsentrasi sastra di Universitas Hasanuddin. Saya selalu tertarik dengan sastra karena belajar sastra berarti mempelajari banyak cakupan bidang ilmu, sastra menjadi pintu ajaib untuk melihat pandangan dunia. Melalui sastra kita bisa memahami kondisi masyarakat suatu daerah setelah membacanya. Dengan didukung kemampuan memahami teks berbahasa Inggris membuat wawasan bacaan lebih luas.
Misalnya dalam skripsi saya, mengangkat judul “George Bernard Shaw’s Criticism on Social Classes of Victorian Era in Pygmalion,” saya mengkaji drama karya penulis Inggris G.B. Shaw. Dengan meggunakan pendekatan sosiologis dapat dipahami bagaiamana kesenjangan sosial di masyarakat Inggris pada masa Victoria. Selain belajar sastra secara teori, saya juga senang menulis cerpen maupun esai, beberapa diantaranya Alhamdulillah, telah diterbitkan di media cetak lokal maupun nasional sejak belajar di komunitas kepenulisan.
Sastra memang gampang-gampang susah. Gampang jika diminta untuk sekadar membaca dan menikmatinya, namun akan tidak mudah jika diminta untuk mengapresiasi, apalagi menciptakan karya sastra. Sastra kadang dianggap bukan hal penting dalam peradaban/kemajuan bangsa. Namun mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa beberapa karya sastra atau sastrawan dapat memberikan pengaruh besar dalam dunia. Misalnya “Uncle Tom’s Cabin” sebuah buku yang ditulis oleh seorang perempuan yang memicu terjadinya perang saudara di Amerika.
Di Indonesia, saya percaya bahwa suatu saat karya sastra kita akan bangkit dan maju tidak kalah dari negara-negara lain. Ada karya-karya Pramoedya Ananta Toer atau kitab Lagaligo, epos terpanjang di dunia.
Hal itulah yang menjadi pemantik semangat saya untuk melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan linier. Jika diberi kesempatan untuk menjadi salah penerima beasiswa Afirmasi LPDP, saya berencana mendaftar pada University of Leicester, yang berada di Leicester Inggris dengan mengambil jurusan Modern Literature and Creative Writing, Faculty of English Language and Literature.
Modern Literature and Creative Writing menawarkan keterampilan dalam teori dan kritik sastra, serta menawarkan pilihan untuk mengembangkan keterampilan menulis dengan program Creative Writing, dimana hal tersebut tidak hanya ditujukan kepada pelajar yang berpengalaman dalam penulisan kreatif, tetapi kepada yang punya kemauan kuat untuk belajar menulis. Dengan memilih jurusan ini, saya berharap dapat mempelajari sastra lebih dalam dan mengembangkan potensi saya dalam tulis menulis.
Dengan masa studi dua semester, saya akan melalui empat modul wajib utama yaitu:
Semester 1
1.      Bibliography, Research Methods, and Writing Skills 1,
2.      Modern Literature and Theory 1 (mencakup 3 bagian: The Caribbean Short Story, AIDS Narratives, dan Women’s Travel Writing and Feminist Postcolonial Theory),
Semester 2
3.      Modern Literature and Theory 2, (mencakup 3 bagian: The 1940s, Modernism, dan Muriel Spark)
4.      Dissertation: Creative Dissertation
Selain itu, saya juga akan mengambil dua mata kuliah pilihan. Poetry Writing and Contemporary Poetry pada semester satu, dimana dengan mengambil mata kuliah ini, saya akan belajar menganalisis puisi-puisi penyair Inggris seperti William Wordsworth, dan  diwaktu bersamaan saya akan diminta untuk menulis 4-5 puisi sebagai tugas akhir mata kuliah. Pada semester dua, saya akan mengambil Writing Fiction, mata kuliah yang membantu mengembangkan kemampuan dalam menulis prosa fiksi, terutama pada penggunaan figurative language, dialog, dan genre. Dengan mengambil mata kuliah ini pula, saya akan mengusulkan sinopsis dari proyek Creative Dissertation saya. Mahasiswa program MA Modern Literature and Creative Writing di University of Leicester  memang diwajibkan untuk membuat Creative Dissertation sebagai tugas akhir.
Saya berencana menulis novel atau kumpulan cerita pendek dengan mengangkat isu sosial. Misalnya mengenai kehidupan penderita HIV/AIDS, bagaimana mereka diterima dan diperlakukan di masyarakat yang berkaitan dengan mata kuliah AIDS Narratives pada modul Modern Literature and Theory 1. Informasi yang mendukung penulisan Creative Disertation tersebut dapat saya peroleh melalui skripsi salah seorang sahabat saya yang pernah meneliti mengenai perilaku pencarian pengobatan pada penderita HIV/AIDS.
Jika saya diberi kesempatan dan diterima di University of Leicester, saya akan bersungguh dalam menuntut ilmu. Insyallah, saya juga akan tetap menulis cerpen, esai atau artikel untuk diterbitkan di media-media lokal maupun nasional di Indonesia sembari belajar di negeri orang.
Semoga Yang Maha Pengasih merestui harapan dan cita-cita ini hingga kelak dapat menyelesaikan studi tepat waktu lalu kembali mengabdi, menikmati hangatnya matahari di Tanah Air, menjadi penulis juga kritikus, serta sebagai tenaga pendidik yang dengan rendah hati membagikan ilmu yang telah saya dapatkan.

*Rencana studi ini disubmit untuk pedaftaran LPDP 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…