Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan



Fitrawan Umar Yang sulit dimengerti adalah perempuan
Fitrawan Umar mengangkat topik perempuan dalam judul bukunya Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan. Sebuah novel terbitan Exchange yang berkisah tentang dua teman kecil: Renja dan Adel yang bertemu kembali ketika di bangku perkuliahan. Saat itulah konflik asmara terjadi antara mereka, Renja mencintai Adel tapi Renja sulit mengerti apakah Adel juga mencintainya atau tidak. Adel adalah perempuan yang sulit dimengerti.

Perasaan Renja terus tumbuh meski diiringi keraguan, “Sepertinya memang begini ketika kita menyukai seseorang. Kita merasa yakin bahwa seseorang itu punya rasa suka yang sama. Namun, hati kecil juga berbisik untuk meragukannya,” ungkap Renja.

Memang perempuan sulit dimengerti, bahkan Sigmund Freud pun mengakuinya, “The great question that has never been answered and which I have not yet been able to answer, despite my 30 years of research into the feminine soul, is: ‘What does a woman want?’” 30 tahun Freud mencari tahu tentang perempuan namun ia masih juga tidak menemukan jawaban apa yang perempuan inginkan.

Adel, juga perempuan pada umumnya, toh tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena bisa jadi bukan mereka yang sulit dimengerti, tapi sebaliknya yang sulit mengerti mereka adalah lelaki. Seperti kata Marlon James dalam bukunya The book of Night Women, “That it’s not a secret at all; men just don’t know how to listen.”

Penulis cerdas dalam menempatkan tokoh. Adel sebagai tokoh utama perempuan yang sulit dimengerti yang menjadi sumber konflik dari cerita dan Renja yang sedikit inconsistent namun unik. Seorang antagonis yang cengeng. Ia pernah mengecam tindakan kasar senior, namun ketika telah menjadi senior ia justru melakukan hal-hal senonoh terhadap juniornya. Ia adalah sosok mahasiswa teknik yang keras namun sebenarnya cengeng jika menyangkut perempuan seperti pada akhir cerita ia ungkapkan, “Merinduinya, aku menangis sesenggukan.”

Tokoh Naufal, mahasiswa kedokteran gigi yang senang membaca membuat novel tersebut penuh kebijaksanaan. Ia begitu puitis dan bijaksana, seperti nasihatnya kepada Renja, “Kau hanya bisa melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan dari pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan.” Sedangkan Rustang membuat karya tersebut lebih humoris.

Banyaknya hal yang ingin disampaikan penulis tentu tidak dapat tercapai jika hanya melalui tokoh aku-Renja dan Adel, namun dengan menghadirkan tokoh Nauval dan Rustang, penulis mampu menjadikan novel ini terasa lebih hidup.

Bukan Sekadar Cerita Cinta
Membaca Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan seperti menggigit roti hamburger berisi daging, selembar keju, daun selada, saus tomat dan bumbu lainnya. Kisah cinta Renja dan Adel adalah roti yang mengapit beragam hal menarik di dalamnya.

Terlepas dari kisah Renja dan Adel, novel tersebut mengungkit dua isu sosial. Pertama mengenai isu kampus; bentrok antar Teknik dan Sospol, kasus pengaderan mahasiswa baru fakultas teknik Unhas dan gejolak demonstrasi mahasiswa Makassar menolak BHP pada sistem pendidikan tinggi dan menyikapi kasus Century di tahun 2009.

Kedua, mengungkit sejarah masa lalu yang mungkin telah dilupakan namun masih menyisahkan luka bagi orang-orang yang terlibat, Kospin. Sebuah investasi bodong yang telah banyak menjerat masyarakat terutama di Pinrang dan sekitarnya sekitar tahun 1997-1998.

Cara penulis mengungkapakan dua hal tersebut patut diacungi jempol. Bukan hal mudah membuat benang merah antara peristiwa sejarah sosial dengan cerita fiksi cinta Renja dan Adel. Namun Fitrawan Umar mampu menulisnya secara apik dengan menciptakan karakter Adel sebagai anak dari mantan bos Kospin di Pinrang yang merasa bersalah terhadap korban-korban Kospin ayahnya.

Novel ini mengingatkan pembaca bahwa kasus Kospin masih meninggalkan luka. Diceritakan bahwa Renja dan Adel menemui seorang lelaki korban kospin yang menderita gangguan jiwa dan sering menyendiri dalam keterpurukan di pinggir pantai Ujung Lero, perbatasan Pinrang dan Parepare.

“Keberadaan karya sastra menjadikan ia dapat diposisikan sebagai dokumen sosial budaya,” kata Iswanto. Dan dalam hemat saya, novel Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan berhasil mendokumentasikan kasus Kospin tahun 1998 dan nasib korbannya hingga sekarang, dan gejolak mahasiswa Makassar dan fakultas Teknik di tahun 2009.

Peristiwa tersebut tidak dapat dipisahkan dari pengalaman penulis sebagai alumni fakultas teknik Universitas Hasanuddin dan pria kelahiran Pinrang.  Memang, meskipun bersifat fiksi, karya sastra tetap tidak bisa dilepaskan dari kehidupan pengarang dan latar belakang sosial dan sejarah tertentu.
 *Dimuat pada kolom Apresiasi budaya Fajar, Minggu 3 Januari 2015

Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan