Sayu di Tengah Ramainya Kenangan yang Lalu-lalang di Pikiran Sendiri

Sayu di Tengah Ramainya Kenangan yang Lalu-lalang di Pikiran Sendiri



Segelas cappucino yang ku seduh belum genap 10 menit yang lalu hampir habis, saya menyeruputnya begitu cepat. Selain karena tidak begitu panas untuk ukuran kopi, juga karena bingung mau memulai bercerita dari mana setelah sekian lama tidak mengisi blog karena alasan yang mungkin semua orang akan mengatakannya, “sibuk.” Padahal sebenarnya banyak kisah yang bisa diceritakan, karena sedang berada di lingkungan baru. Saya terbawa suasana lain waktu itu dan memilih menikmati saja.
Mungkin karena dulu sering disibukkan dengan banyak kegiatan dan banyak teman, sekarang merasa aneh sendiri tanpa itu semua. Apalagi jika kebetulan melihat foto, mengingat, atau berada di tempat yang dulu sering dijadikan tempat ngumpul dengan teman. Masa kuliah yang membuat kita sibuk dengan tugas-tugas makalah yang saya senang mengerjakannya menjelang deadline, di tambah dengan kegiatan rapat organisasi di sana sini. Lulus kuliah, meski jobless, tetap saja sibuk dengan kegiatan organisasi. Moreover, saat lulus LPDP dan mengikuti program pengayaan bahasa malah seperti anak sekolahan yang datang ke kelas dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, selama 4 bulan. Ini yang paling membuat susah move-on. Saat sendiri seringkali terbayang kebersamaan dengan mereka yang sudah seperti keluarga berbagai suka dan duka, saling menyemangati, dan berjuang bersama demi mimpi di hati kita. Melihat foto saja rasanya sedikit nyesek dan terus kepikiran, “Kapan ya bisa kumpul sama mereka lagi!” Ah, tidak mau bahas ini sekarang, nanti jadi baper :(
Well, sore kemarin selepas mengunjungi kost adik, menelusuri jalan-jalan kota yang begitu ramai sesesak kenangan-kenangan di pikiran kita. Dan tidak ada agenda khusus hari itu membuat saya bingung mau kemana  dan ngapain hari ini, hingga ketika motor berbelok ke arah kampus saya memutuskan berhenti di tepi danau menikmati kesendirian.
Pelataran Ipteks dan halamannya yang disesaki orang-orang rapat dan latihan seperti biasanya, mengharuskan saya memilih tempat di bawah pohon dan jauh dari suara-suara mereka. Sekadar duduk, mengamati sekitar, dan automatically cerita-cerita yang lalu teringat kembali. Kukeluarkan laptop dari dalam tas, membuka aplikasi Chrome setelah mengaktifkan hotspot hp. Mencari informasi persyaratan pendaftaran kampus, membuka email hingga facebook sambil menulis CV. Namun gerakan tangan saya serba lambat karena lebih senang mengamati orang-orang sekitar dan danau yang sendu baru saja ditinggal hujan.
Kudapati beberapa serangga yang entah jatuh dari atas pohon atau bergerak dari bawah tumpukan daun-daun kering,  pada lengan jaket yang kukenakan. Bahkan saya merasa salah satu dari mereka kembali ke jaket setelah ku jatuhkan ke tanah. Tapi saya tidak begitu peduli dan tetap di posisi duduk, sebaliknya selama tidak menggigit saya menikmatinya saja, mungkin mereka sengaja dikirim untuk menemani saya.
Tiga perempuan dan seorang laki yang sedari tadi berjalan memegang baki berisi minuman dingin berjalan ke arah saya. Saya yakin mereka sekelompok panitia kegiatan yang akan menawarkan minuman dengan alasan, “lagi pencarian dana Kak!” Pura-pura cuek dan asyik main laptop saja, padahal saya juga kehausan duduk sedari tadi, sendiri pula. Kubayar segelas minuman bersoda dan mereka berlalu pergi, lebih cepat dari pelangi yang hilang ditelan matahari.
Lucky, tiba-tiba pelangi muncul di atas danau
 Inspirasi-inspirasi untuk menulis baru muncul di saat perasaan sayu di tengah ramainya kenangan yang lalu-lalang di pikiran sendiri seperti ini, namun suara adzan magrib masjid kampus seberang danau mengharuskan saya beranjak dari tempat duduk.
Baca selengkapnya »
Aesop dan Perayaan Kebahagiaan

Aesop dan Perayaan Kebahagiaan



 “Mungkin saja, teman-temanku mencuri dan mengubahnya.” Keluh Aesop kepada gadis cilik yang ia temui dalam mimpi.
Ia sedih bercampur kecewa serta sedikit jengkel karena kisah Kelinci dan Kura-kura yang dibuatnya ternyata berbeda dengan kisah yang diceritakan orang-orang. Bahkan banyak orang seolah-olah menganggap Aesop tidak ada. Ia dilupakan sebagai pengarang cerita. Memang sering kali pengarang dilupakan begitu saja, beberapa pembaca sekadar menikmati karya tanpa melihat siapa pengarangnya.
Meskipun dilupakan, Aesop menimpali “mungkin lebih baik menyamar. Menyamar berarti tidak ada orang yang tahu siapa kamu sebenarnya,” katanya dalam kumpulan fabel yang disusun oleh Jane Olliver. Kenyataannya, Aesop adalah seorang pengarang pada masa yunani kuno yang terkenal dengan fabelnya.
Tidak banyak diketahui tentang Aesop, namanya hanya disebut malalui buku-buku kuno. Ia kurang dikenal namun memiliki banyak karya yang bisa dinikmati hingga sekarang. Karya-karyanya yang ditulis kembali oleh pengarang lain lebih dikenal dibandingkan Aesop sendiri. Mungkin itulah kebahagiaan di mata Aesop.
Kabar cemas merayakan kebahagiaan
Sungai Mamasa, Temban, Enrekang.
***
Menurut cerita ayah si gadis, semua burung dan binatang lain bernyanyi untuk kegembiraan Kura-kura. Kura-kura bahagia sekali karena telah mengalahkan Kelinci yang sombong dalam lomba lari. Si Kelinci pun merasa malu serta mendapat celaan dari binatang lain.
Sedangkan menurut cerita Aesop sebagai pengarang sebenarnya. Si Kura-kura sangat bahagia sekali karena telah menang lomba lari. Teman-temannya memberikan ucapan selamat termasuk Kelinci yang menjadi lawannya dalam pertandingan. Sebaliknya, Kelinci juga bahagia karena telah membuat kura-kura bahagia. Ia dapat membagi kegembiraan kepada Kura-kura.
Kura-kura tidak tahu (sebagai pembaca tentu kita berharap semoga ia tidak pernah tahu sampai kapan pun karena ia bisa saja bersedih) bahwa ternyata Kelinci sengaja membuat dirinya kalah. Kelinci hanya berpuru-pura tidur pulas di bawah pohon sehingga seolah-olah ia tidak sengaja berusaha kalah. Kelinci yang baik hati berbohong karena mengutamakan kebahagiaan Kura-kura di atas kebahagiaannya sendiri.
Dongeng yang diperankan oleh binatang selalu menggambarkan watak manusia. Jadi wajar saja seorang anak manusia sering disamakan dengan binatang karena perilakunya. Adakah binatang yang mewakili watak kita? Dan tentu fabel bukan hanya bacaan bagi anak kecil karena orang dewasa pun perlu diingatkan (kembali) tentang nilai kebaikan dan budi pekerti.
Jika merasa mulai sombong, maka kisah Kelinci dan Kura-kura akan mengingatkanmu kembali bahwa “Kesombongan akhirnya tak berarti,” seperti kata burung hantu pada cerita versi ayah si gadis. Membaca dongeng binatang tentu tidak sama dengan menonton film kartun binatang.
***
“Apakah kamu memiliki sesuatu untuk menjamu tamu?” Sang istrinya pun menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita.”
Lalu sang suami meminta istrinya untuk mengajak anak-anak mereka bermain supaya rasa lapar mereka teralihkan, hingga kemudian diajak tidur. Tamu pun dijamu sedangkan mereka berpura-pura telah makan. Keluarga itu tidur dalam keadaan menahan lapar.
Kisah seorang sahabat di zaman nabi Muhammad tersebut mungkin terdengar berlebihan di telinga kita. Mereka mementingkan tamu dari pada anak dan diri sendiri, tapi mungkin demikianlah kebahagiaan menurut mereka. Yang entah masih atau tidak ada lagi manusia seperti itu di zaman ini.
***
Ketika masih kanak-kanak, beberapa tetangga duduk di balai-balai di bawah rumah panggung kami. Lalu ibu menyuguhkan teh panas dan biskuit yang baru ia beli di pasar dan disimpan pada toples kecil. Di depan orang-orang saya bertanya, kenapa ibu memberi biskuit yang utuh dan baik ke mereka, sedangkan untuk saya - anaknya hanya diberi potongan-potongan yang tersisa pada bungkusan biskuit. Mereka menertawakan saya yang belum fasih bicara sedangkan ibu hanya tersenyum, senyum bahagia. Sekarang saya faham betapa ibu sebagaimana ibu lain pandai menciptakan kebahagiaan.
Ibu, sahabat Muhammad, Aesop, dan Kelinci menciptakan dan membagi kebahagiaan seperti yang dikatakan Jon Krakauer dalam bukunya Into the Wild yang juga telah diadopsi dalam bentuk film, “Happiness [is] only real when shared.” Kebahagiaan hakiki adalah ketika kebahagiaan itu dibagikan. Setiap orang  punya jalan sendiri untuk merayakan kebahagiaan.
Temban Enrekang
Bukit Teletabies, Temban Enrekang
Merayakan kebahagiaan itu penting tapi tak perlu menunggu hari kebahagiaaan internasional yang telah ditetapkan PBB untuk merayakannya. Saya sedang berbahagia hari ini.

.......dan cahaya berenang
mempermainkan warna
Tuhan, kenapa kita bisa berbahagia?
(Goenawan Mohamad)

*Dimuat di kolom Literasi Tempo Makassar, edisi 19 September 2015, setelah diedit oleh redaktur. :)



Baca selengkapnya »
Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan



Fitrawan Umar Yang sulit dimengerti adalah perempuan
Fitrawan Umar mengangkat topik perempuan dalam judul bukunya Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan. Sebuah novel terbitan Exchange yang berkisah tentang dua teman kecil: Renja dan Adel yang bertemu kembali ketika di bangku perkuliahan. Saat itulah konflik asmara terjadi antara mereka, Renja mencintai Adel tapi Renja sulit mengerti apakah Adel juga mencintainya atau tidak. Adel adalah perempuan yang sulit dimengerti.

Perasaan Renja terus tumbuh meski diiringi keraguan, “Sepertinya memang begini ketika kita menyukai seseorang. Kita merasa yakin bahwa seseorang itu punya rasa suka yang sama. Namun, hati kecil juga berbisik untuk meragukannya,” ungkap Renja.

Memang perempuan sulit dimengerti, bahkan Sigmund Freud pun mengakuinya, “The great question that has never been answered and which I have not yet been able to answer, despite my 30 years of research into the feminine soul, is: ‘What does a woman want?’” 30 tahun Freud mencari tahu tentang perempuan namun ia masih juga tidak menemukan jawaban apa yang perempuan inginkan.

Adel, juga perempuan pada umumnya, toh tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena bisa jadi bukan mereka yang sulit dimengerti, tapi sebaliknya yang sulit mengerti mereka adalah lelaki. Seperti kata Marlon James dalam bukunya The book of Night Women, “That it’s not a secret at all; men just don’t know how to listen.”

Penulis cerdas dalam menempatkan tokoh. Adel sebagai tokoh utama perempuan yang sulit dimengerti yang menjadi sumber konflik dari cerita dan Renja yang sedikit inconsistent namun unik. Seorang antagonis yang cengeng. Ia pernah mengecam tindakan kasar senior, namun ketika telah menjadi senior ia justru melakukan hal-hal senonoh terhadap juniornya. Ia adalah sosok mahasiswa teknik yang keras namun sebenarnya cengeng jika menyangkut perempuan seperti pada akhir cerita ia ungkapkan, “Merinduinya, aku menangis sesenggukan.”

Tokoh Naufal, mahasiswa kedokteran gigi yang senang membaca membuat novel tersebut penuh kebijaksanaan. Ia begitu puitis dan bijaksana, seperti nasihatnya kepada Renja, “Kau hanya bisa melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan dari pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan.” Sedangkan Rustang membuat karya tersebut lebih humoris.

Banyaknya hal yang ingin disampaikan penulis tentu tidak dapat tercapai jika hanya melalui tokoh aku-Renja dan Adel, namun dengan menghadirkan tokoh Nauval dan Rustang, penulis mampu menjadikan novel ini terasa lebih hidup.

Bukan Sekadar Cerita Cinta
Membaca Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan seperti menggigit roti hamburger berisi daging, selembar keju, daun selada, saus tomat dan bumbu lainnya. Kisah cinta Renja dan Adel adalah roti yang mengapit beragam hal menarik di dalamnya.

Terlepas dari kisah Renja dan Adel, novel tersebut mengungkit dua isu sosial. Pertama mengenai isu kampus; bentrok antar Teknik dan Sospol, kasus pengaderan mahasiswa baru fakultas teknik Unhas dan gejolak demonstrasi mahasiswa Makassar menolak BHP pada sistem pendidikan tinggi dan menyikapi kasus Century di tahun 2009.

Kedua, mengungkit sejarah masa lalu yang mungkin telah dilupakan namun masih menyisahkan luka bagi orang-orang yang terlibat, Kospin. Sebuah investasi bodong yang telah banyak menjerat masyarakat terutama di Pinrang dan sekitarnya sekitar tahun 1997-1998.

Cara penulis mengungkapakan dua hal tersebut patut diacungi jempol. Bukan hal mudah membuat benang merah antara peristiwa sejarah sosial dengan cerita fiksi cinta Renja dan Adel. Namun Fitrawan Umar mampu menulisnya secara apik dengan menciptakan karakter Adel sebagai anak dari mantan bos Kospin di Pinrang yang merasa bersalah terhadap korban-korban Kospin ayahnya.

Novel ini mengingatkan pembaca bahwa kasus Kospin masih meninggalkan luka. Diceritakan bahwa Renja dan Adel menemui seorang lelaki korban kospin yang menderita gangguan jiwa dan sering menyendiri dalam keterpurukan di pinggir pantai Ujung Lero, perbatasan Pinrang dan Parepare.

“Keberadaan karya sastra menjadikan ia dapat diposisikan sebagai dokumen sosial budaya,” kata Iswanto. Dan dalam hemat saya, novel Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan berhasil mendokumentasikan kasus Kospin tahun 1998 dan nasib korbannya hingga sekarang, dan gejolak mahasiswa Makassar dan fakultas Teknik di tahun 2009.

Peristiwa tersebut tidak dapat dipisahkan dari pengalaman penulis sebagai alumni fakultas teknik Universitas Hasanuddin dan pria kelahiran Pinrang.  Memang, meskipun bersifat fiksi, karya sastra tetap tidak bisa dilepaskan dari kehidupan pengarang dan latar belakang sosial dan sejarah tertentu.
 *Dimuat pada kolom Apresiasi budaya Fajar, Minggu 3 Januari 2015
Baca selengkapnya »

Sosial Media