Perihal Hujan



1
Satusatu hujan meluncur ke bumi
Aroma petrikor menelusuk hidung, lalu ke hati
Ah, menenangkan sekali
Hujan mengantar masa lalu

2
Seperti ritme piano, hujan sedang mengalunkan lagu klasik di atas atap
Saya bergegas ke kamar, membaca novel puitis di atas kasur tipis
Eh, menyenangkan sekali
Diam-diam saya berdoa, semoga hujannya awet

3
Hujan bersetia, mengurung Ibu dalam rumah
Gincu Ibu hampir-hampir rancu, ia terus mengomel
“Ih, menjengkelkan sekali,” kata Ibu
Matanya mendung

4
Dingin menyumsum, hujan tumpah ruah
 “Air merendam persawahan”, kata tetangga
Hati Bapak mengecut, dahinya mengerut
Diam-diam, butir air tumbuh di matanya

Makassar, 29 Desember 2015

Perihal Hujan