Langsung ke konten utama

Antigone, a classical Greek tragedy



Belakangan ini saya senang mencari-cari kenangan, menertawai foto-foto maba pada buku angkatan, juga membuka kembali kertas-kertas fotokopian yang tertumpuk semasa kuliah. Kudapati beberapa karya sastra klasik- karya yang seharusnya dibaca semasa kuliah sebagai tuntutan beberapa mata kuliah telaah sastra
Beberapa rangkap sebenarnya saya pinjam dari teman berbeda kelas. Karena setiap dosen memberikan karya yang berbeda-beda. Meminjam dengan alasan untuk dibaca waktu itu, dan segera dikembalikan jika selesai. Alhasil saya baru membacanya setelah wisuda, ketika galau dan gelisah mulai merangkak. *eh.
Tiga bulan bukan waktu yang sebentar dan mudah dilewati hingga sekarang- terhitung sejak 24 juni 2015. Dan banyak-banyak membaca adalah cara terbaik untuk menunjukkan ke teman-teman bahwa saya sebenarnya tidak sedang dan tidak pernah “kosong.” Sayangnya, membaca tidak berjalan bersama dengan kegiatan menulis, blog pun tidak pernah diisi.
Baiklah. Setelah lebih seminggu lalu membaca The Devil and Tom Walker kemudian hasilnya saya share di line untuk menjaga ingatan (waktu itu saya masih malas membuka blog), beberapa jam lalu akhirnya saya menyelesaikan Antigone. It is a classical Greek tragedy drama. Karya Sophocles, seorang penulis Yunani Kuno sekitar 400 tahun sebelum masehi. Antigone saya pinjam dari teman angkatan yang tidak saya ingat lagi siapa pemiliknya.
prepwise.com

Antigone drama ketiga dari trilogi Sophocles. Pertama adalah Oidipus Sang Raja, Oidipus di Kolunus, dan terakhir Antigone. Alhasil saya hanya memiliki buku ketiga.  Dan juga bukan karya bahasa asli, namun terjemahan yang dialihbahasakan oleh Rendra. Diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya, pertama kali pada tahun 1976 dengan tebal 57 halaman.
Pelaku:


ü  Antigone
ü  Ismene, saudari Antigone
ü  Creon, raja Thebes
ü  Euridice, istri Creon
ü  Haemon, putra Creon
ü  Teiresias
ü  Kapitan, pengawal
ü  Chorus/ paduan suara
ü  Pembawa pesan I
ü  Pembawa pesan II


 “Jenazah Eteocles ia makamkan dengan penghormatan lengkap. Dengan upaca gemilang ia antarkan sukmanya ke neraka. Tetapi untuk jenazah Polyneices yang malang. Ia kenakan larangan untuk menguburnya. Harus dibiarkan terkapar tanpa diratapi, tanpa pemakaman, menjadi mangsa burung-burung padang belantara.”

Antigone, putri Oidipus yang pernah berkuasa di Thebes melakukan perlawanan terhadap Creon, raja Thebes. Ia melanggar perintah Creon yang melarang siapapun dari rakyatnya untuk menguburkan jenazah Polyneices yang dianggap telah melawan kerajaan. Antigone melakukan hal tersebut karena menganggap saudaranya, Polyneices harus dikembalikan dengan tentram dan damai seperti pula jenazah Eteocles yang juga merupakan saudara Antigone.

Antigone telah dilarang oleh Ismene namun ia tetap bersikukuh untuk melakukan upacara untuk kematian kedua saudaranya. Tindakan Antigone diketahui oleh kapitan hingga ia dibawa menghadap ke tahta Creon.

“Nanti dulu. Ini undang-undang siapa? Manusia atau Dewata? Bukankah upacara pemakaman adalah upacara agama dan dengan begitu masuk undang-undang Dewata? Aku tidak menganggap bahwa undang-undang raja lebih tinggi dari undang-undang surga.” Antigone bagaikan karang, teguh bagaikan bapaknya.

Antigone dibawa ke padang belantara dan dikubur hidup-hidup dalam gua.

Haemon, calon istri Antigon yang juga putra Creon melawan bapaknya atas tindakan yang diambil. “Sebab Paduka bersalah menurut pendapatku,” katanya di hadapan bapaknya. Namun tetap saja, keputusan raja tidak dapat diintervensi.

Terisias, seorang penujum terpercaya Creon mendatangi istana. Ia menyampaikan ramalan kejadian yang akan menimpa keluarga Creon karena tindakan Creon sendiri. jika tidak segera menguburkan mayat Polyneices dengan melaksanakan upacara sebagaimana mestinya dan mengeluarkan Antigone yang dikubur hidup-hidup maka Dewata akan murka, kematian akan menimpa keluarganya. Nyawa dibayar nyawa.

“Berkeras kepala sama saja dengan tanpa kepala.”

Hingga ia luluh karena takut kutukan dewa. Ia segera menggali gua tempat mengubur Antigone. Namun Antigone telah menggantung diri dan Haemon rubuh di tubuh kekasihnya setelah menikamkan pedang ke dadanya sendiri.

Creon dan pasukan kembali ke istana dengan kesedihan. Di istana pun ia disambut dengan kabar istrinya yang menikam diri di depan altar. Sungguh tragis.

*Mari menjaga ingatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai. 
Yesterday morning (18/2), Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam)
Bangun jam setengah 6, took a shower, segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jalan yang masih le…