Langsung ke konten utama

The Stolen Child

The Stolen Child

(smartnovel.blogspot.com)


Ketika matahari terbit dan tenggelam dan saya tidak melakukan apa-apa, di situ saya kadang merasa sedih. :(

Sediakan buku sebelum datang masa ketika kamu sendiri di rumah dan bingung mau mengerjakan apa, atau sebelum masa ketika kamu telah mencapai titik jenuh atas aktivitas yang kamu lakukan secara berulang-ulang. Misalnya ketika lelah dengan pengerjaan skripsi yang membosankan itu. 

Seperti yang saya lakukan. Teman saya meminjamkan novel yang menurutnya keren, The Stolen Child karya Keith Donohue.

Sebuah novel terjemahan dari bahasa Inggris yang aslinya ditulis tahun 2006, diterjemahkan 2007 oleh Dastan Books. Kualitas terjemahannya lumayan bagus sehingga alur cerita mudah dipahami. Menurut teman saya, Dastan Books memang banyak menerjemahkan karya-karya terbaik dengan terjemahan mereka bagus.

The Stolen Child atau Anak yang Diculik, mengisahkan tentang kehidupan seorang anak yang diculik dan ditukar dengan seorang peri yang mengubah wajahnya seperti anak yang diculik tersebut. Penuh misteri dan teka-teki.

Ada dua gambaran kehidupan dalam karya. Pertama adalah kehidupan seorang manusia pada umumnya, seorang anak kecil yang tinggal di pinggir hutan bersama ibu bapaknya dan mempunyai dua adik perempuan kembar. Kedua, kehidupan kelompok peri yang disebut Hobgloblin yang secara fisik mirip anak-anak kecil manusia pada umumnya, namun sebenarnya mereka telah berumur berpuluh-puluh hingga beratus-ratus tahun. Fisik mereka tidak mengalami perkembangan. Hingga orang yang memainkan peran tersebut bertukar - Hobglobin akan menjadi anak manusia dan si anak manusia akan menjadi Hobglobin.

Hobglobin juga dulunya adalah seorang anak manusia yang menjalani kehidupan seperti biasa, lalu ia diculik dan ditukar oleh Hobglobin lainnya sehingga ia juga menjadi Hobglobin. Di dalam cerita tidak dijelaskan siapa yang pertama memulai penculikan sehingga memunculkan hobglobin-hobglobin baru.

Novel ini sedikit kompleks, saya agak pusing menjelaskan.

Kelompok peri ini menjalani kehidupannya di tengah hutan, memakan umbi-umbian, serangga, hewan buruan, dan sesekali mencuri makanan di kota. Mereka menggali dan tinggal di terowongan ketika musim dingin datang.

Hobglobin yang terdiri dari 11 anak kecil, perempuan maupun laki-laki. Setiap dari mereka akan mendapatkan giliran untuk bertukar dengan anak manusia. Yang mendapat giliran disebut sebagai Changeling. Ketika telah mendapatkan anak manusia sebagai target, mereka akan bekerja sama menguntit kehidupan si anak. Mencari tahu makanan kesukaannya, nama teman-temannya, kebiasan, dan semua hal. Perlu waktu sekitar satu tahun untuk memata-matai sebelum anak itu diculik dan ditukar dengan seorang Changeling

The Stolen Child, (*Hingga sekarang saya belum paham, kenapa novel asing ketika diterjemahkan, judul karyanya tidak ikut diterjemahkan) menurut saya novel yang unik, menggunakan dua sudut pandang. Dua tokoh utama masing-masing menceritakan kisahnya. Si Hobglobin yang telah mengambil kedudukan anak manusia dan Si anak yang bernama Henry Day yang sekarang menjalani kehidupan sebagai Hobglobin setelah namanya diganti menjadi Aniday.

Pada awal cerita, pengarang memberi gambaran tentang apa itu Hobglobin, dan bagaimana kehidupan mereka sehingga tidak membuat saya sebagai pembaca pusing dengan istilah-istilah peri. Namun justru yang memusingkan adalah nama kesebelas Hobglobin. Nama mereka terlalu sering muncul.

Buku ini, membuat pembaca percaya tidak percaya dengan mitos tentang Hobglobin atau peri hutan. Karena di satu sisi, dijelaskan dalam karya bahwa kehidupan para Hobglobin hanya dipercaya sebagai mitos belaka oleh masyarakat - sehingga tidak pernah terpikirkan bahwa pertukaran bisa saja benar-benar terjadi dan melibatkan anak mereka. Di sisi lain, melalui tokoh Changeling pengarang menegaskan bahwa peri hutan benar-benar ada dan pertukaran antara manusia dan Hobglobin benar-benar terjadi.

The Stolen Child saya selesaikan dalam beberapa minggu (maklum, pikiran terbagi antara skripsi dan membaca). Namun, sebenarnya jika menghitung hari membacanya hanya 3-4 hari. Novel terjemahan setebal 584 halaman ini masih meninggalkan teka-teki setelah membacanya. Mungkin itulah yang membuatnya menarik.

Saya menulis maka saya ada. Saya menulis “resensi” ini sebagai usaha untuk menjaga ingatan bahwa benar saya telah membaca The Stolen Child dan semoga saya tidak lupa dengan kisah-kisahnya yang misterius itu. Menarik. Wajarlah jika meraih The New York Times Bestseller.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai. 
Yesterday morning (18/2), Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam)
Bangun jam setengah 6, took a shower, segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jalan yang masih le…