Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Karena Surga Terdekat adalah Rumah Kita

Review film “Ada Surga di Rumahmu” *Maaf hanya foto laki-laki Dua momen yang membahagikan hari tadi - di akhir bulan Maret. Pertama, FLP melalui Kak Wawan dapat undangan nonton alias tiket gratis XXI Penakukang “Ada Surga di Rumahmu” yang baru akan ditayangkan secara serentak tanggal 2 April besok. Beruntunglah Makassar dan Palembang dua kota terpilih sebagai tempat launching dan promosi film tersebut. Kedua, setelah nonton ditraktir makan sama Kak Nursam yang juga senior FLP. Seandainya, seandainya, seandainya dalam sebulan selalu ada hari seperti hari ini- sekali seminggu juga tidak apa-apa. Hore... ditraktir :) Dari judulnya, sudah bisa langsung ditebak kalau film ini bertema religi , islam tepatnya. Bisa ditonton untu k semua umur. Tapi menurut saya sangat recommended ditonton oleh kaum muda: mahasiswa, anak SMA-SMP, dan siapa saja yang merasa dirinya masih berjiwa muda (Hahaha… lebay) Bahkan bukan saja untuk yang muslim karena film ini memberikan nasihat mo

The Stolen Child

The Stolen Child (smartnovel.blogspot.com) Ketika matahari terbit dan tenggelam dan saya tidak melakukan apa-apa, di situ saya kadang merasa sedih. :( Sediakan buku sebelum datang masa ketika kamu sendiri di rumah dan bingung mau mengerjakan apa, atau sebelum masa ketika kamu telah mencapai titik jenuh atas aktivitas yang kamu lakukan secara berulang-ulang. Misalnya ketika lelah dengan pengerjaan skripsi yang membosankan itu.  Seperti yang saya lakukan. Teman saya meminjamkan novel yang menurutnya keren, The Stolen Child karya Keith Donohue. Sebuah novel terjemahan dari bahasa Inggris yang aslinya ditulis tahun 2006, diterjemahkan 2007 oleh Dastan Books. Kualitas terjemahannya lumayan bagus sehingga alur cerita mudah dipahami. Menurut teman saya, Dastan Books memang banyak menerjemahkan karya-karya terbaik dengan terjemahan mereka bagus. The Stolen Child atau Anak yang Diculik, mengisahkan tentang kehidupan seorang anak yang diculik dan ditu