Karena Surga Terdekat adalah Rumah Kita

Karena Surga Terdekat adalah Rumah Kita



Review film “Ada Surga di Rumahmu”

*Maaf hanya foto laki-laki

Dua momen yang membahagikan hari tadi - di akhir bulan Maret. Pertama, FLP melalui Kak Wawan dapat undangan nonton alias tiket gratis XXI Penakukang “Ada Surga di Rumahmu” yang baru akan ditayangkan secara serentak tanggal 2 April besok. Beruntunglah Makassar dan Palembang dua kota terpilih sebagai tempat launching dan promosi film tersebut. Kedua, setelah nonton ditraktir makan sama Kak Nursam yang juga senior FLP. Seandainya, seandainya, seandainya dalam sebulan selalu ada hari seperti hari ini- sekali seminggu juga tidak apa-apa.
Hore... ditraktir :)

Dari judulnya, sudah bisa langsung ditebak kalau film ini bertema religi, islam tepatnya. Bisa ditonton untuk semua umur. Tapi menurut saya sangat recommended ditonton oleh kaum muda: mahasiswa, anak SMA-SMP, dan siapa saja yang merasa dirinya masih berjiwa muda (Hahaha… lebay) Bahkan bukan saja untuk yang muslim karena film ini memberikan nasihat moral tentang kasih sayang terhadap kedua orang tua.

Terinspirasi dari novel bestseller “Ada Surga di Rumahmu” karya Ustad Ahmad Alhabsyi tentang kisah hidupnya, kemudian ditulis kembali dalam bentuk naskah film oleh Oka Aurora. Dan akhirnya diproduksi dengan kerjasama Mizan, Smaradhana pro, dan Nava dengan dukungan dari PGM, energy for life. 

Mengambil latar di sekitar Sungai Musi Palembang, film ini mengisahkan kehidupan seorang anak, Ramadhan dengan orang tuanya. Ia dikirim ke sebuah pesantren yang dipimpin oleh pamannya sendiri dan hingga dewasa ia tetap tinggal mengajar di pesantren. Belajar di pesantren membuatnya memahami bahwa memuliakan orang tua adalah pintu keberkahan menuju surga-Nya, “Surga itu begitu dekat. Tapi, mengapa kita masih sibuk mengejar yang jauh.” Surga ada di rumah kita, ibu dan bapak.

Ramadhan, dipanggil Mad - seperti nama panggilan saya oleh beberapa teman (Hahaha… penting ya?) diperankan oleh Husein Alatas. Menurut saya, wajahnya yang sendu membuatnya sangat sesuai dengan perannya sebagai protagonis, anak pesantren yang sayang terhadap ibunya. Hal yang paling penting sehingga membuat film ini orisinil adalah adzan, mengaji dan ceramah diambil dari suara Husein sendiri (kalau tidak salah menyimak), Tidak seperti beberapa film lain yang biasanya bersuara merdu tapi ternyata diambil dari rekaman orang lain.

Saya juga suka dengan karakter Nayla (Nina Septiani). Jika dikatakan oleh Batara siang tadi bahwa film ini kurang konsisten karena Nayla yang sewaktu kecil tidak mau disentuh oleh Ramadhan karena menganggap bukan mahram, namun kemudian ketika dewasa ia mau saja dibonceng oleh Ramadhan. Saya justru menganggap bahwa hal itu justru menunjukkan bahwa seperti itulah kondisi beberapa perempuan masa kini. Mengatakan, “Maaf bukan muhrim,” namun tetap saja ada saat dimana ia bisa tergoda atau terpaksa untuk mematahkan kata-katanya sendiri. Jilbab bukan lagi sesuatu untuk menilai bahwa seseorang perempuan akan selalu menjaga sikapnya. Seperti Nayla, perempuan tidak akan mau memulai tapi hanya bisa dan akan selalu berusaha memberi kode kepada laki-laki.

Buku, jika diadopsi ke dalam film kemungkinan besar akan ada beberapa bagian yang dipotong, diubah atau dihilangkan. Saya belum membaca buku “Ada Surga di Rumahmu” tapi saya sangat yakin banyak ada hal yang dipotong dan diubah sehingga membuat alur ceritanya melompat dan terkesan kurang logis. Saya merasa  sedikit dipaksakan dan kurang logis pada bagian Ramadhan tiba-tiba saja diminta untuk mengisi peran figuran oleh salah seorang kru (bukan sutradara) yang sedang mengadakan suting film di pesantren tempat Ramadhan mengajar. Ditambah lagi diminta ke Jakarta untuk mengikuti casting film laga.

Bagaimanapun, film ini berhasil menggugah hati. Saya cukup terharu (menangis atau tidaknya itu rahasia) dengan kisah kasih sayang antar orang tua dan anak yang digambarkan dengan tajam dalam film. Kalau sudah membahas keluarga, apa lagi tentang ibu, siapa sih yang bisa tahan untuk tidak ikut sedih dan larut dalam cerita. Ikatan antara Ramadhan dan Ibunya (Elma Theana) tidak terkesan dibuat-buat. Apalagi ketika ia mencium tangannya dengan khidmatnya.

Sutradara juga berhasil memasukkan dan menempatkan humor dengan baik. Misalnya melalui pemeran-pemeran pembantu seperti sahabat Ramadhan - Si gendut (saya lupa namanya) yang suka makan dan sering disalahkan dan penggambaran kondisi sosial Palembang yang apa adanya. Begitupun dengan kisah asmara yang digambarkan dengan sederhana, meski masih menjadi teka-teki karena penonton hanya bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi setelahnya karena film berakhir tanpa ada kepastian Ramadhan menikah dengan Nayla atau dengan Kirana (Zeezee Shahab) atau perempuan lain.

Soundtrack tidak ketinggalan, ia membuat film ini terasa lebih hidup. Musik religious yang dimasukkan sesuai saman, berupa kontemporer sehingga saya sebagai penonton dan pendengar yang masih anak muda lebih mudah paham dan merasuk langsung kena ke hati. Lagunya bagus diputar ketika lagi galau dan ingin merenung sendiri.

Terakhir, kisah Ustad Alhabsyi ini menjadi teladan bagi saya pribadi. “Seorang ibu rela mati demi 10 orang anaknya, tapi seorang anak belum tentu mau berkorban demi ibunya,” betapa besarnya kasih sayang seorang ibu. Banyak pelajaran moral ditunjukkan kepada penonton tentang bagaimana seharusnya anak terhadap orang tua dan sebaliknya. Nasihat untuk selalu mendoakan, membahagiakan, menyayangi ibu bapak. 

Semoga kita makin cinta dengan surga-Nya karena surga terdekat adalah rumah kita, kedua orang tua kita. 

Rasa rasanya saya masih ingin menonton kembali film ini. Jika ada tiket gratis lagi. Hahaha…
Baca selengkapnya »
The Stolen Child

The Stolen Child

The Stolen Child

(smartnovel.blogspot.com)


Ketika matahari terbit dan tenggelam dan saya tidak melakukan apa-apa, di situ saya kadang merasa sedih. :(

Sediakan buku sebelum datang masa ketika kamu sendiri di rumah dan bingung mau mengerjakan apa, atau sebelum masa ketika kamu telah mencapai titik jenuh atas aktivitas yang kamu lakukan secara berulang-ulang. Misalnya ketika lelah dengan pengerjaan skripsi yang membosankan itu. 

Seperti yang saya lakukan. Teman saya meminjamkan novel yang menurutnya keren, The Stolen Child karya Keith Donohue.

Sebuah novel terjemahan dari bahasa Inggris yang aslinya ditulis tahun 2006, diterjemahkan 2007 oleh Dastan Books. Kualitas terjemahannya lumayan bagus sehingga alur cerita mudah dipahami. Menurut teman saya, Dastan Books memang banyak menerjemahkan karya-karya terbaik dengan terjemahan mereka bagus.

The Stolen Child atau Anak yang Diculik, mengisahkan tentang kehidupan seorang anak yang diculik dan ditukar dengan seorang peri yang mengubah wajahnya seperti anak yang diculik tersebut. Penuh misteri dan teka-teki.

Ada dua gambaran kehidupan dalam karya. Pertama adalah kehidupan seorang manusia pada umumnya, seorang anak kecil yang tinggal di pinggir hutan bersama ibu bapaknya dan mempunyai dua adik perempuan kembar. Kedua, kehidupan kelompok peri yang disebut Hobgloblin yang secara fisik mirip anak-anak kecil manusia pada umumnya, namun sebenarnya mereka telah berumur berpuluh-puluh hingga beratus-ratus tahun. Fisik mereka tidak mengalami perkembangan. Hingga orang yang memainkan peran tersebut bertukar - Hobglobin akan menjadi anak manusia dan si anak manusia akan menjadi Hobglobin.

Hobglobin juga dulunya adalah seorang anak manusia yang menjalani kehidupan seperti biasa, lalu ia diculik dan ditukar oleh Hobglobin lainnya sehingga ia juga menjadi Hobglobin. Di dalam cerita tidak dijelaskan siapa yang pertama memulai penculikan sehingga memunculkan hobglobin-hobglobin baru.

Novel ini sedikit kompleks, saya agak pusing menjelaskan.

Kelompok peri ini menjalani kehidupannya di tengah hutan, memakan umbi-umbian, serangga, hewan buruan, dan sesekali mencuri makanan di kota. Mereka menggali dan tinggal di terowongan ketika musim dingin datang.

Hobglobin yang terdiri dari 11 anak kecil, perempuan maupun laki-laki. Setiap dari mereka akan mendapatkan giliran untuk bertukar dengan anak manusia. Yang mendapat giliran disebut sebagai Changeling. Ketika telah mendapatkan anak manusia sebagai target, mereka akan bekerja sama menguntit kehidupan si anak. Mencari tahu makanan kesukaannya, nama teman-temannya, kebiasan, dan semua hal. Perlu waktu sekitar satu tahun untuk memata-matai sebelum anak itu diculik dan ditukar dengan seorang Changeling

The Stolen Child, (*Hingga sekarang saya belum paham, kenapa novel asing ketika diterjemahkan, judul karyanya tidak ikut diterjemahkan) menurut saya novel yang unik, menggunakan dua sudut pandang. Dua tokoh utama masing-masing menceritakan kisahnya. Si Hobglobin yang telah mengambil kedudukan anak manusia dan Si anak yang bernama Henry Day yang sekarang menjalani kehidupan sebagai Hobglobin setelah namanya diganti menjadi Aniday.

Pada awal cerita, pengarang memberi gambaran tentang apa itu Hobglobin, dan bagaimana kehidupan mereka sehingga tidak membuat saya sebagai pembaca pusing dengan istilah-istilah peri. Namun justru yang memusingkan adalah nama kesebelas Hobglobin. Nama mereka terlalu sering muncul.

Buku ini, membuat pembaca percaya tidak percaya dengan mitos tentang Hobglobin atau peri hutan. Karena di satu sisi, dijelaskan dalam karya bahwa kehidupan para Hobglobin hanya dipercaya sebagai mitos belaka oleh masyarakat - sehingga tidak pernah terpikirkan bahwa pertukaran bisa saja benar-benar terjadi dan melibatkan anak mereka. Di sisi lain, melalui tokoh Changeling pengarang menegaskan bahwa peri hutan benar-benar ada dan pertukaran antara manusia dan Hobglobin benar-benar terjadi.

The Stolen Child saya selesaikan dalam beberapa minggu (maklum, pikiran terbagi antara skripsi dan membaca). Namun, sebenarnya jika menghitung hari membacanya hanya 3-4 hari. Novel terjemahan setebal 584 halaman ini masih meninggalkan teka-teki setelah membacanya. Mungkin itulah yang membuatnya menarik.

Saya menulis maka saya ada. Saya menulis “resensi” ini sebagai usaha untuk menjaga ingatan bahwa benar saya telah membaca The Stolen Child dan semoga saya tidak lupa dengan kisah-kisahnya yang misterius itu. Menarik. Wajarlah jika meraih The New York Times Bestseller.
Baca selengkapnya »

Sosial Media