Langsung ke konten utama

Tentang Cara Kita Memandang Penyair



“What does a poet bring to the table in the world, we are facing his skillset was the definition of useless.” Itulah yang dikatakan oleh dosen filsafat yang diperankan oleh James D’Arcy pada film After The Dark atau biasa dikenal The Philosopher. Film yang disutradarai oleh John Huddles ini berkisah tentang kegiatan pembelajaran filsafat di suatu sekolah internasional di Jakarta. Filsafat diajarkan oleh sang dosen dengan cara menantang mahasiswanya untuk melakukan percobaan pemikiran tentang bagaimana seharusnya mempertahankan peradaban manusia.
(Karikatur oleh tempo)
Diumpamakan sebuah bencana besar akan terjadi yang mengakibatkan meninggalnya manusia karena radiasi. Namun terdapat sebuah bangker yang dapat melindungi manusia dari dampak radiasi. Namun bangker tersebut hanya dapat menampung 10 orang selama setahun.

Dua puluh mahasiswa diwajibkan ikut dalam percobaan tersebut, termasuk sang dosen dengan cara memilih sebuah kertas yang berisi daftar jenis pekerjaan mereka. Hanya 10 orang yang dapat bertahan hidup dalam bangker, sedangkan 11 lainnya harus ikhlas menerima kematian. Mereka sendiri memilih secara voting siapa dari teman mereka yang harus dipertahankan dan masuk ke dalam bangker, dengan mempertimbangkan seberapa penting dan dibutuhkannya jenis pekerjaan mereka di masa depan.

Percobaan pemikiran dilakukan beberapa kali di lokasi berbeda. Dua kali berturut-turut seorang mahasiswa yang bekerja sebagai penyair ”ditembak” oleh sang dosen. Alasannya, penyair adalah  orang paling tidak dibutuhkan di masa depan. Tanpa penyair manusia bisa tetap hidup. Setelah penyair, yang juga bernasib serupa adalah pemain harpa, penata busana, penyanyi opera, dan 6 lainnya ditembak. Semuanya dianggap tidak penting dalam peradaban manusia.

Kisah lain dalam film Dead Poets Society juga mengingatkan kita tentang bagaimana pandangan orang-orang terhadap penyair. Film ini bercerita tentang kehidupan murid dan guru di sebuah sekolah khusus laki-laki di Amerika tahun 1989. Sang guru menginspirasi dan mengajak murid-muridnya untuk tertarik kepada puisi.

Neil Perry salah satu dari tujuh murid laki-laki yang begitu senang belajar puisi dan drama. Ia memutuskan belajar drama meski penuh dengan tekanan orang tuanya yang memaksa untuk belajar kedokteran. Pada akhir cerita, Neil bunuh diri karena trauma setelah penampilan drama pertamanya gagal menyenangkan orang tuanya.

Penyair atau sastrawan sering kali dianggap remeh. Misalnya orang tua yang tidak merestui anaknya menjadi penyair karena beranggapan bahwa itu adalah pekerjaan yang tidak mendatangkan banyak uang. Masih teringat dengan ucapan salah seorang dosen saya yang mengatakan, “Saya tahu jika Anda jadi ahli sastra, mungkin Anda akan susah cari kerja”. Tetapi ia kemudian menambahkan bahwa yang paling penting adalah kemampuan membaca sastra karena sangat sedikit orang yang bisa melakukannya.

Ada pula Michael H. Hart, penulis buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia, yang diterbitkan tahun 1978 dan menempatkan Shakespeare pada posisi ke-36. “Saya menempatkan Shakespeare begitu rendah bukan lantaran saya tidak menghargai daya hasil seninya, tetapi semata-mata karena saya yakin bahwa pada umumnya kesusasteraan atau tokoh-tokoh seniman tidaklah punya pengaruh besar dalam sejarah.” Itulah alasan Micheal soal pemeringkatan Shakespeare. Michael mungkin lupa dengan seorang perempuan yang menulis buku Uncle Tom’s Cabin yang memicu terjadinya perang saudara di Amerika.

Banyak yang tidak suka dengan penyair, tapi banyak pula yang berlomba-lomba ingin menjadi penyair – orang yang menciptakan baris-baris syair yang indah. Kata-kata dalam syair memang mampu meluluhkan hati seseorang.

Dikisahkan dalam cerita Yunani kuno tentang para Siren dan Orpheus. Siren adalah makhluk bersayap, tinggal di sebuah pulau, suka membuai para pelaut dengan nyanyian sehingga secara tidak sadar mereka akan menabrak pulau. Sedangkan Orpheus adalah seorang penyair dan pemain musik lagendaris yang mampu mempesona semua makhluk dengan musik liranya, yang bahkan mengalahkan para Siren.

Suatu ketika Orpheus ikut dalam petualangan Argonauts. Dalam perjalanan, mereka dihalangi oleh para Siren. Namun dengan liranya, Orpheus mampu membuat nyanyian yang lebih merdu daripada nyanyian para Siren. Ia pun berhasil mengalahkan dan mengusir para Siren.

Penyair yang andal memang mampu menggugah dan membuat pendengarnya terkagum-kagum. Seperti yang diungkapkan Soren Kierkegaard, “...And people flock around the poet and say: Sing again soon” Penyair adalah seorang pria yang kurang bahagia, menyembunyikan kesedihan mendalam di hatinya. Tetapi ketika berbicara kedengarannya seperti musik yang indah. Dan orang-orang berduyun-duyun di sekitarnya dan berkata, “Nyanyikan lagi segera.

Bagaimanapun cara orang-orang di sekitar saya memandang seorang penyair, saya tetap yakin bahwa penyair memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan orang lain. Penyair mengobati hati yang luka.
*Dimuat pada kolom Literasi Koran Tempo Makassar, 20 Desember 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…