Karena Batu Permata - Akik



Cabbenge, Sulawesi Selatan: Pukul 14:10 - Suhu 31oC – 24 Januari 2014

(Diambil saat KKN di Sikucur)
Menjelang siang hingga sore hari, saya tidak betah berlama-lama di dalam rumah. Panas matahari menembus atap seng rumah panggung hingga terasa membakar kulit. Meski terdapat plafon, rasanya tak jauh beda. Dan jika kipas angin dinyalakan justru akan tercipta hembusan angin kering membuat semakin panas. Kolong rumah panggung pun menjadi alternatif sebagai tempat istirahat di siang hari- hal yang lumrah di kehidupan masyarakat bugis.

Kondisi yang jauh berbeda dengan Makassar, orang-orang justru mengeluhkan hujan di januari. Sedangkan di Soppeng dan beberapa daerah lain di sekitarnya, hujan turun hanya sesekali, gerimis pula. Para petani menengadahkan tangan, mengharap banyak segera turunnya hujan. Prediksi cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sering kali meleset. Hujan memang susah ditebak.

Siang itu, di atas balai-balai saya berbaring dan berusaha tidur - hanya sendiri. Gaduh kendaraan yang lalu-lalang sedikit mengusik. Siswa smp dan sma baru saja pulang, mengendarai motor secara beriringan dan berkelompok, laki-laki maupun perempuan. Roda motor bergerak pelan, sambil bercerita satu sama lain. Sesekali mobil di belakang mereka membunyikan klakson bertubi-tubi, merasa jalan mereka dihalangi. Saya kembali melanjutkan usaha untuk tidur.

Saya memaksa diri sendiri seperti bayi yang dipaksa tidur siang oleh ibunya. Adik sepupu saya yang laki-laki dan masih kelas satu smp tiba-tiba datang. Hanya meletekan tas, melepas kemeja putihnya dan tanpa mengganti celana,  lalu langsung menemui saya. Ia merengek ingin meminjam hp, katanya mau dengar lagu Peterpen yang juga pernah ia putar kemarin. Karena  malas mendengar bujukannya tiada henti, akhirnya saya pinjamkan.

Ia mengambil tempat lain memutar lagu.

Saya bangkit dari pembaringan, tidak tahu harus melakukan apa, hingga kutemui sepupu saya yang berbaring di tempat lain. Dan kudapati ternyata tidak sekadar mendengar musik, tapi juga menggoreskan dua buah batu secara bergantian pada layar hp.

Betapa kaget dan saltingnya ia ketika kutegur. Lalu kutanyakan apa yang dikerjakannya. Katanya mengecek keaslian batu akik yang ia punya. What ? anak sekecil ini... Memang menurut bapak-bapak pecinta batu akik/permata, batu bisa dikatakan asli jika bisa menggerakkan touchscreen android.

( Foto profil BBM sepupu)
Memang ia memiliki beberapa koleksi batu akik. Beberapa didapatkan dari bapaknya sendiri dan dari teman-temannya. Dan hari itu ia membawa satu batu lagi dari sekolah, batu permata warna hitam kecoklatan yang ditawarkan oleh teman sekelasnya seharga Rp. 15.000. Batu itu belum dibayar, ia ingin memperlihatkan ke bapaknya dulu kalau-kalau ia tertarik.

Saya sedikit jengkel dibuatnya, lalu sedikit memarahinya. Ia pun segera pergi entah dengan perasaaan bersalah atau tidak.

Matahari bergerak makin ke barat seiring panas juga makin menyusut. Saya sedang mencari-cari channel tv yang tepat untuk dinonton. Belum ditemukan siaran yang tepat, sebuah suara terdengar dari bawah- Om saya, ayah dari sepupu tadi. Saya segera turun. Ternyata ia membawa beberapa batu akik di tangannya, dan mau meminjam hp. Sepertinya, sepupu saya telah menceritakan yang dilakukannya dan menyuruh ayahnya untuk mengetes batu-batunya juga.

Terasa sangat berat saya menelan ludah. Kusodorkan hp, lalu mengikutinya dari belakang menuju balai-balai, lalu menyaksikannya menggoreskan satu persatu batu ke layar hp. Untungnya sudah dilapisi anti gores jadi saya tidak perlu cemas dengan garis-garis yang ditimbulkan, layarnya juga sudah gorilla glass, biarkan saja.

Ya, saya tidak begitu memikirkan hp saya. Hanya berpikir, sebegini besarkah demam orang-orang pada batu akik atau permata. Seperti halnya Kakak laki-laki saya yang kedua, seringkali menghabiskan berjam-jam waktu hanya untuk mengasah bongkahan batu, lalu memperhalusnya lagi dengan daun pisang kering dan pada bambu.
(Batu-batu akik yg diperoleh setelah kami pulang kampung. hahaha...)

Ketika saya ke tetangga, hal yang paling lazim dibicarakan adalah batu, batu dan batu, sambil mereka (bapak-bapak bahkan anak kecil) memperlihatkan kehebatan batu-batu mereka.

Dari yang saya perhatikan, batu akik akan dianggap bagus dan hebat jika: memiliki warna bagus, mencolok atau hitam; tembus cahaya jika disenter; diperoleh dari tempat yang jauh; dan tentu dapat menggerakkan layar android. Meski belakangan saya tahu dari teman saya yang juga pecinta batu bahwa bergerak atau tidaknya layar bukan hanya tergantung dari batunya, tapi juga dari android.

Siang itu, saya bertemu dengannya di perputakaan fakultas lalu menceritakan tentang kejadian di atas. Lalu ia segera mengeluarkan cincin dan tabnya dan jadilah kami seperti bapak-bapak yang lagi memperdebatkan batu akik. Cincin yang ia punya ternyata bisa menggerakkan layar tabnya tapi tidak bisa menggerakkan layar androidku. Ia juga bercerita banyak tentang batu akik bahkan menunjukkan kehebatan batu akiknya. Maklum, ia penggemar batu akik.

Satu lagi hal aneh. Pernah satu ketika, kakak saya berteriak-teriak malam-malam ketika kami sudah hamper terlelap. Menghimbau kami untuk tidak membuang batu akik yang ia simpan dalam freezer kulkas. Katanya batu itu harus dibekukan. Saya bingung, memangnya itu batu akik terbuat dari salju yang diambil dari gunung Everest!

Entah, kapan demam batu akik ini akan berkhir. Saya yakin ia hanya seperti Layang-layang pada musimnya, akan berakhir jika “musim angin” berakhir.

*Kemarin, ketika saya ingin memberikan surat tugas kepada salah satu dosen pembimbing skripsi, ia menolaknya dan menyuruhku membawanya dilain hari bersama dengan proposal yang berisi bab 1-3. Saya berjalan keluar ruangan dengan kecewa dan terdengar suara dosen lain yang juga di ruangan itu, “Bawa surat dan proposal itu dengan batu akik.” Ia tertawa.

Karena Batu Permata - Akik