Jangan Lelah Menghadapi Tantangan “Kompas Kampus”

Pojok koleksi majalah dan koran dalam perpustakaan pusat kampus selalu menjadi pilihan pertama tempat berlabuh bagi saya ketika bingung mau kemana. Maklum, mahasiswa semester akhir yang tidak lagi punya kuliah dan seringkali dirundung kemalasan mengurusi skripsi. Hanya satu dua orang di sana, tenang, meskipun tidak sesejuk pojok-pojok asing yang seolah-olah diratukan.

Membolak-balik koran, membaca yang menarik meski tidak sampai selesai. Ah, saya paling malas dengan kolom politik yang “busuk” itu. Membaca kadang membuat iri sebenarnya, membuat gereget ingin menulis seperti mereka dan ini itu.

Kolom Kompas Kampus salah satunya, yang memuat liputan-liputan kampus dan argumentasi mahasiswa. 

Telah berkali-kali saya mengikuti tantangan mengirim Argumentasi. Dimulai Januari 2014, Maret 2014-dua kali dan selalu gagal. Kowdong! Alhasil, kemarin (17 Februari 2015) dimuat juga. Alhamdulillah, luar biasa senang. Setelah ditolak berkali-kali tanpa ada konfirmasi.

Argumentasi itu saya kirim empat hari sebelum terbit. Hanya 1.300 karakter namun memerlukan dua jam untuk menyelesaikannya. Ditambah revisi sebelum dikirim. Memang harus dikoreksi matang-matang karena kita dituntut memadatkan kata. Singkat, jelas, dan berkesan atau beda.

Tulisan asli, sebelum diedit oleh redaktur Kompas Kampus, Tia.
Menegur Lewat Tindakan
Peraturan dibuat untuk dipatuhi. Namun ada pula yang berpikiran sebaliknya, peraturan dibuat untuk dilanggar. Segelintir orang bahkan merasa bangga jika berhasil melanggar aturan. Alasan lain karena sudah tahu aturan tapi menganggap “biasanya tidak apa-apa” jika dilanggar. Kenyamanan orang lain pun tidak dipikirkan. Itulah sifat pemberontak yang ada dalam diri setiap manusia yang tidak semua orang mampu mengendalikannya.

Ketika seseorang melanggar aturan kadang membuat geram, apalagi jika dilakukan di depan mata kita di tempat umum. Dalam kendaraan umum, misalnya, seseorang membuang sampah sembarangan. Sebagai kalangan terdidik, sudah menjadi kewajiban kita untuk menegur. Namun kebanyakan orang Indonesia belum memiliki cukup keberanian untuk menegur secara lisan. Terlebih, jika orang tersebut lebih tua dari pada kita.

Namun ada cara lain yang bisa dilakukan tanpa perlu takut terjadi adu mulut untuk membuat mereka sadar yaitu lewat tindakan. Misalnya, ketika melihat seseorang membuang sampah sembarangan. Sambil memberi senyum, kita langsung saja memungut benda tersebut lalu menyimpannya dalam saku atau tempat sampah. Kemungkinan besar akan muncul perasaan malu pada orang tersebut. Dan kemungkinan lain ia tidak akan mengulangi perbuatan seperti itu lagi.


(Tulisan yang sudah diedit)

Meski di Argumentasi tiga kali gagal, tapi di liputan kampus ada dua tulisan saya yang di-published: Kegiatan Bakti sosial dan KKN. Fee-nya cukup besar bagi seorang mahasiswa seperti saya. Satu liputan lagi ditolak.

Mungkin karena pengalaman yang berpengaruh. Ketika mengurus himpunan PERISAI, saya suka merapikan dan membaca koran kompas yang kadang dibiarkan berantakan dalam sekretariat. Setidaknya PERISAI mengajarkan itu.

Jangan Lelah Menghadapi Tantangan “Kompas Kampus”