Langsung ke konten utama

Cerita-Cerita yang menemani hujan Januari - awal Februari



Selepas seminar proposal untuk tugas akhir atau lebih sering disebut skripsi. Saya merasa tidak punya kegiatan apa-apa maka jadilah sehari-hari saya dipenuhi dengan membaca.

Pertama membaca Al-Qur’an tentunya. Komunitas One Day One Juz (ODOJ) yang telah saya ikuti hampir setahun memang mewajibkan bagi setiap anggota untuk menyelesaikan 1 juz. Hikmah tidak usah ditanya, ada banyak. Allah memang mencintai orang2 yang selalu membaca Alquran (Hadits)

Januari disambut hujan, butir-butir air membasahi bumi. Musim yang baik untuk menikmati baris-baris tulisan pada buku, sesekali memandang hujan. Setidaknya lebih baik dari pada menghabiskan banyak waktu hanya untuk tidur seharian. “Assalamuaikum Beijing” membuka Januari. Novel islami karya Asma Nadia ini sebenarnya saya miliki sejak April tahun lalu, sebelum difilmkan. Dan beberapa teman telah meminjam dan membacanya. While, saya baru membacanya ketika kisah novel ini telah tayang di bioskop dan orang-orang lagi ramai membicarakannya. Maklum saja mahasiswa seperti saya harus berpikir berkali-kali teman mengajak nonton. Hahaha… Membaca lebih memiliki sensasi tersendiri, membutuhkan imaginasi lebih dan tentu lebih detail.

Ide ceritanya bukanlah hal yang baru. Tentang perempuan yang bernama Asma alias Ra batal menikah dengan kekasihnya karena ada orang ketiga yang juga menyukai laki-laki yang bernama Dewa, padahal undangan telah disebar. Dewa pun menikah dengan orang ketiga yang bernama Anita meskipun dari ia masih sangat mencintai Asma, sedangkan Asma harus menyibukkan dirinya sehingga bisa melupakan Dewa. Hingga suatu hari Asma mendapat tugas di Beijing, di sanalah ia bertemu dengan Zhongwen, lelaki china yang menjadi muallaf dan rela meninggalkan keluarga demi Asma. Endingnya, Asma menikah dengan Zhongwen meski dengan kondisi Asma yang cacat dan sakit-sakitan.

Apa yang membuatnya menarik untuk dibaca? Karena teknik bercerita penulis yang beda, kita seolah-olah berada pada dua situasi yang berbeda pada awal cerita karena nama Ra dan Asma yang ternyata adalah orang yang sama. Kedua, karena settingnya di Beijing sehingga pembaca juga mendapat banyak informasi baru tentang Beijing, China. Ketiga, semakin mendekati ending semakin bikin gregetan untuk dibaca.

Dalam tiga hari saya bisa menyelesaikan cerita setebal 336 halaman itu. Mungkin saking tidak adanya kegiatan saat itu.

“surat untuk ruth” karya Bernard Batubara selanjutnya. Novel ini masih ada kaitannya dengan cerpen Milana yang terkenal itu. Tokoh, setting, bahkan ide ceritanya banyak yang mirip, atau mungkin ini sengaja dibuat untuk menjelaskan lebih lengkap tentang cerpen itu. Banyak bercerita tentang Bali, senja, pantai serta perempuan (yang menunggu).

Tokoh utama, Are bertemu dengan Ruth pada sebuah pantai di Bali. Are yang hobi memotret dan Ruth yang senang melukis menjalin hubungan seperti orang pada umumnya. Namun lagi-lagi ada orang ketiga seperti halnya pada “Assalamualaikum Beijing,” tapi di sini orang ketiga adalah laki-laki yang pernah berpacaran dengan Ruth, tanpa ada kata putus. Lagi-lagi konfliknya tentang cinta. Bahkan orang tua Ruth telah merestui hubungannya dengan lelaki yang bernama Abimanyu hingga ke jenjang pernikahan.

Endingnya keren, membuat shocked. Ternyata Are sebagai tokoh utama yang juga sebagai pencerita meninggal. Sedangkan Ruth yang lari dari acara penikahannya dengan Abimanyu menunggu kedatangan Are pada dek kapal feri sebuah pantai. Ia akan selalu menunggu bersama senja.

Bacaan ketiga di Januari, “Naruto Hicho, Catatan Naruto yang hilang.” Novel terjemahan karya Eiji Yoshikawa. Sebenarnya saya membaca buku ini karena tidak ada lagi stock buku lain. Dan hujan membuat saya malas ke kampus sekadar untuk meminjam buku di perpustakaan. Tapi tidak pernah menyesal membacanya. Saya belajar banyak bagaimana penulis membuat deskripsi suasana yang sangat detail dan betul-betul menuntut banyak imajinasi dari pembaca. Terlebih karena settingya adalah Jepang.

Saya sedikit pusing karena tokoh dalam novel yang begitu banyak, juga menggunakan berbagai setying tempat dan klan-klan di Jepang. Sepertinya novel ini memang berisi kritik sosial pada masa kediktatoran pemimpin Jepang. Alhasil saya dibuat kecewa karena endingya sangat gantung. Karena ini seri pertama dan saya tidak memiliki seri keduanya. Ya, buku ini hadiah dari salah satu penerbit.

Memasuki Februari, kampus mulai makin ramai. Dan saya mulai geram dengan hujan yang mengurungku di asrama. Iseng-iseng ke perpustakaan dan bertemu dengan teman-teman Caterpillar yang mulai sibuk mengurusi skripsi. Kesempatan untuk meminjam buku.

Novel terbitan Balai Pustaka, “Lajar Terkembang” karya St. Takdir Alisjahbana berhasil dipinjam dengan kartu perpus Akram sebagai jaminan. Pembaca seperti dibawa kembali ke masa silam, tahun 1930an yang tidak pernah saya alami. Bahasanya masih tempoe doeloe dan diksinya terkesan sangat lebay.

“Dan ditengah-tengah keindahan jang dilaluinja itu timbul dalam kalbunja perasaan kesentosaaan jang hanja terdapat pada seseorang jang pertjaja dan jakin akan kekuatan dirinja dan rahmat tenaga tenaga sekelilingnja pada dirinya”

Saya kadang tertawa sendiri membacanya.

            Banyak yang beranggapan bahwa buku-buku terbitan balai pustaka memang diterbitkan untuk membuai dan membuat terlena pemuda Indonesia saat itu, sehingga ia teralihkan dari perjuangan dan nasionalisme membela Indonesia di tengah jaman kolonial Belanda. Dan tergambar jelas pada kisah percintaan Tuti, Maria, dan Yusuf pada novel terkenal karya Takdir Alisjahbana ini (lagi-lagi tentang cinta). Buku ini pro-modernism dan kolonialisme Belanda, menurutku.

            Mari membaca. “A book is a dream that you hold in your hand,” -Neil Gaiman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…