Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Tentang Cara Kita Memandang Penyair

“What does a poet bring to the table in the world, we are facing his skillset was the definition of useless.” Itulah yang dikatakan oleh dosen filsafat yang diperankan oleh James D’Arcy pada film After The Dark atau biasa dikenal The Philosopher . Film yang disutradarai oleh John Huddles ini berkisah tentang kegiatan pembelajaran filsafat di suatu sekolah internasional di Jakarta. Filsafat diajarkan oleh sang dosen dengan cara menantang mahasiswanya untuk melakukan percobaan pemikiran tentang bagaimana seharusnya mempertahankan peradaban manusia. (Karikatur oleh tempo) Diumpamakan sebuah bencana besar akan terjadi yang mengakibatkan meninggalnya manusia karena radiasi. Namun terdapat sebuah bangker yang dapat melindungi manusia dari dampak radiasi. Namun bangker tersebut hanya dapat menampung 10 orang selama setahun. Dua puluh mahasiswa diwajibkan ikut dalam percobaan tersebut, termasuk sang dosen dengan cara memilih sebuah kertas yang berisi daftar jenis pekerjaan m

Jangan Lelah Menghadapi Tantangan “Kompas Kampus”

Pojok koleksi majalah dan koran dalam perpustakaan pusat kampus selalu menjadi pilihan pertama tempat berlabuh bagi saya ketika bingung mau kemana. Maklum, mahasiswa semester akhir yang t ida k lagi punya kuliah dan seringkali dirundung kemalasan mengurusi skripsi. Hanya satu dua orang di sana, tenang, meskipun tidak sesejuk pojok-pojok asing yang seolah-olah diratukan. Membolak-balik koran, membaca yang menarik meski tidak sampai selesai. Ah, saya paling malas dengan kolom politik yang “busuk” itu. Membaca kadang membuat iri sebenarnya, membuat gereget ingin menulis seperti mereka dan ini itu. Kolom Kompas Kampus salah satunya, yang memuat liputan-liputan kampus dan argumentasi mahasiswa.  Telah berkali-kali saya mengikuti tantangan mengirim Argumentasi. Dimulai Januari 2014, Maret 2014-dua kali dan selalu gagal. Kowdong! Alhasil, kemarin (17 Februari 2015) dimuat juga. Alhamdulillah, luar biasa senang. Setelah ditolak berkali-kali tanpa ada konfirmasi. Argumenta

Cerita-Cerita yang menemani hujan Januari - awal Februari

Selepas seminar proposal untuk tugas akhir atau lebih sering disebut skripsi. Saya merasa tidak punya kegiatan apa-apa maka jadilah sehari-hari saya dipenuhi dengan membaca. Pertama membaca Al-Qur’an tentunya. Komunitas One Day One Juz (ODOJ) yang telah saya ikuti hampir setahun memang mewajibkan bagi setiap anggota untuk menyelesaikan 1 juz. Hikmah tidak usah ditanya, ada banyak. Allah memang mencintai orang2 yang selalu membaca Alquran (Hadits) Januari disambut hujan, butir-butir air membasahi bumi. Musim yang baik untuk menikmati baris-baris tulisan pada buku, sesekali memandang hujan. Setidaknya lebih baik dari pada menghabiskan banyak waktu hanya untuk tidur seharian. “Assalamuaikum Beijing” membuka Januari. Novel islami karya Asma Nadia ini sebenarnya saya miliki sejak April tahun lalu, sebelum difilmkan. Dan beberapa teman telah meminjam dan membacanya. While , saya baru membacanya ketika kisah novel ini telah tayang di bioskop dan orang-orang lagi ramai membicarak

Karena Batu Permata - Akik

Cabbenge, Sulawesi Selatan: Pukul 14:10 - Suhu 31 o C – 24 Januari 2014 (Diambil saat KKN di Sikucur ) Menjelang siang hingga sore hari, saya tidak betah berlama-lama di dalam rumah. Panas matahari menembus atap seng rumah panggung hingga terasa membakar kulit. Meski terdapat plafon, rasanya tak jauh beda. Dan jika kipas angin dinyalakan justru akan tercipta hembusan angin kering membuat semakin panas. Kolong rumah panggung pun menjadi alternatif sebagai tempat istirahat di siang hari- hal yang lumrah di kehidupan masyarakat bugis. Kondisi yang jauh berbeda dengan Makassar, orang-orang justru mengeluhkan hujan di januari . Sedangkan di Soppeng dan beberapa daerah lain di sekitarnya, hujan turun hanya sesekali, gerimis pula. Para petani menengadahkan tangan, mengharap banyak segera turunnya hujan. Prediksi cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sering kali meleset. Hujan memang susah ditebak. Siang itu, di atas balai-balai saya berbaring dan berus