Merevisi Niat



(Niat menentukan jalan kita)



Niat adalah pekerjaan hati. Tidak ada satu pun manusia yang tahu isi hati manusia lainnya, kecuali jika ia menceritakannya. Jika ia bercerita, pun belum tentu sesuai dengan hatinya. Orang yang katanya mampu membaca maksud hati seseorang, saya yakin ia hanya menerka-nerka.
Dalam masyarakat bugis, kita sering mendengar nasehat orang tua, keluarga, atau siapa pun yang menaruh perhatian dan kasih sayang kepada kita, “padecengi akkattamu” (perbaiki niatmu). Sepotong kalimat yang sering diucapkan ketika ada orang yang ingin melekukan pekerjaan atau bepergian.
Pemuda bugis yang berniat merantau untuk mencari nafkah, mengumpulkan uang untuk modal nikah dan uang panai misalnya maka ia akan diwanti-wanti oleh keluarganya untuk meluruskan dan memantapkan niat. Karena niatlah yang akan mengantarnya pada tindakan-tindakan dan perilaku di kampung orang di kemudian hari.
Dua orang pemuda yang bersama-sama merantau, berusaha bersama dan mendapatkan pekerjaan sama bisa saja mendapatkan hasil yang berbeda karena niat awal berbeda. Yang satu merantau karena betul-betul ikhlas ingin mencari ilmu dan mengumpulkan uang sedangkan satu lagi menyimpan niat lain dalam hatinya, mendapatkan kesenangan hidup yang tidak didapat di kampung halamannya. Niat menjadi salah satu faktor utama dari sekian penyebab lainnya.
Teringat potongan sebuah hadist, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.”
Demikian pula kita (saya) sebagai mahasiswa rantau, perlu merefleksi kembali dan meluruskan niat merantau dan masuk perguruan tinggi. Sudahkah didapatkan atau belum atau justru niat itu telah buram dalam ingatan dan dilupakan begitu saja karena ternyata ada hal yang lebih menarik di dalam prosesnya?
Yang namanya niat berarti harus berada di awal, sebelum kita mengambil tindakan. Tentu kita telah menimbang-nimbang kenapa memilih jurusan ini dan itu ketika masih di SMA dulu.
Saya ingin kuliah, memilih Sastra Inggris karena niatnya memang untuk belajar bahasa Inggris. Bukan karena saya tahu bahwa sastra adalah melakukan perlawanan (katanya). Dan saya belum paham dengan sastraan kala itu- maklum masih polos.
Bagaimana jika dalam prosesnya, tiba-tiba kita ingin merubah niat? Misalnya saya tiba-tiba lebih tertarik belajar sastra dibandingkan bahasa Inggris. “Ya, silahkan saja, niat memang perlu direvisi,” kata seorang sahabat.
Merevisi bukan hanya berarti mengganti, bisa juga menambahkan. Saya tidak perlu menggantikan niat belajar bahasa inggris dengan belajar sastra. Keduanya bisa dilakukan bersama. Ets, jangan lupa, restu orang tua perlu dipertimbangkan dalam merevisi niat.
Istilah lain yang memiliki makna berbeda adalah upgrade. Niat perlu diupgrade layaknya fitur-fitur dalam gadget. Diupgrade supaya sesuai dengan perkembangan tekhnologi.
Saya beranggapan niat agak mirip dengan visi. Keduanya sama-sama berisi tentang sesuatu yang bersifat imajinasi atau wawasan yang dimimpikan. Dan keduanya harus besar karena itulah yang akan mempengaruhi usaha kita. Seperti halnya visi, niat juga tidak boleh terlalu general, harus focus dan tajam. Misalnya kalau punya niat untuk berbuat baik, sebaiknya ditentukan berbuat baik yang seperti apa- membersihkan wc umum atau ingin berinfak, mentraktir teman-teman sejurusan.
Dalam berniat atau ber-visi, banyak orang menyimpannya dalam hati, ada yang menulis dalam secarik kertas, bahkan tak jarang yang melafaskan- bercerita ke orang-orang terdekatnya. Whatever, karena tidak ada ketentuan yang mengikat. Saya pribadi senang menulisnya pada sebuah buku, lalu menyimpannya baik-baik. Dibuka sewaktu-waktu.
Lantas apa niat saya menulis ini?


Jumat, 21 November 2014. Meluruskan niat memulai proposal.

Merevisi Niat