Langsung ke konten utama

Sebuah Pertemuan, Keluarga DKI



Taukah kau rindu itu apa?
Tataplah jernihnya sungai Ja’niah
Yang membelah jalan dekat rumah kita dulu
Anak-anak sungai bertemu kemudian menyatu
Airnya jernih terus mengalir
Seperti itulah rindu.

Beberapa lelaki duduk di teras rumah joglo itu, bernyanyi sambil memainkan gitar. Rumah kedua di samping kanannya juga terbuat dari susunan batu bata dengan model yang sama, sekelompok wanita bergerumul di depan pintu masuk. Menatap kami (Aku dan Sofie) atau mungkin sekadar memandangi baju kami yang berwarna mencolok, merah hijau. “Mahasiswa KKN UNHAS” tertulis pada dada kanan dan ayam jantan bertengger kokoh di lengan kanan. Aku diliputi rasa canggung, deg-degan, dan sedikit cemas ketika pertama kali kulangkahkan kaki turun dari motor. Tak seorang pun yang kukenal kecuali Sofie yang datang bersamaku, begitu pula Sofie. “Selamat datang di Nagari Sikucur. Semoga betah selama KKN,” gumamku.
Mereka menyambut baik, meski kadang saling berbisik dalam bahasa yang tak mampu kuterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aku diliputi beberapa pertanyaan dari mereka, juga dari diriku sendiri. Bagaimana akan kulewati KKN ini selama satu bulan bersama orang-orang baru? Kucek pemberitahuan pada Hp, namun tak kudapati apa-apa dan takkan pernah ada. Tidak ada jaringan. Selamat!
Oh, maaf. Itu bukan posko kami. Itu posko korong (kelompok 3) yang nantinya akan menjadi tempat kita sering kumpul. Ada 5 korong yang akan ditempati mahasiswa KKN di Sikucur, alhasil aku berlainan Korong dengan Sofie. Korong 4 adalah takdirku dan ia di Korong 1. Hari semakin sore, kembali kuangkat koper dan tas. Motor melaju ke poskoku yang sesungguhnya. Sampai bertemu lagi Sofie!
Beberapa menit melewati jalan beraspal, motor berbelok ke jalan kerikil berdebu dan sempit, kiri kanannya adalah sawah dan beberapa bangunan yang belum jadi. Melewati sebuah jembatan dan sedikit pendakian hingga tibalah pada rumah sederhana di atas bukit. Dindingnya kayu dan tripleks yang disusun rapi dan dilubangi bebarapa titik sebagai jendela. Satu set kursi dan dua buah karpet dipasang pada lantai semen ruang tamu, juga sebagai ruang serba guna.
Kudapatilah mereka, orang-orang yang akan bersamaku selama sebulan penuh. Yang akan menjadi teman posko KKN, teman curhat, sekaligus teman jalan-jalan (ngarep). Tempat baru dan orang-orang baru. Ah, Aku tak perlu menjadi orang baru pula, mereka akan memahami aku yang apa adanya.
Hal pertama yang kulakukan tentunya adalah memperkenalkan diri dan mengenal mereka. Maklum saja, mereka telah saling kenal karena berasal dari kampus yang sama dan telah melalui pra-KKN. Mengunjungi lokasi KKN sama-sama serta telah merencanakan program kerja. Serta mereka tiba di posko sehari lebih awal dari pada aku. Logat Makassarku kutanggalkan untuk sesaat.
Mereka, mahasiswa UNAND tidak kalah modern seperti mahasiswa UNHAS, namun satu hal yang sangat kukagumi: kecintaan mereka terhadap bahasa sendiri, Minang. Entah di kampus atau di luar mereka lebih sering bercakap dalam bahasa Minang dari pada menggunakan bahasa Indonesia. Aku kesulitan mencerna pembicaraan mereka, tapi itulah tantangannya. Lagi pula mereka tak pernah keberatan untuk menjelaskan maksudnya. Dan belajar bahasa Minang adalah salah satu tujuanku mendaftar KKN ini (KKN Tematik Sumatera Barat, UNHAS-UNAND).
Aku banyak diam dan menyimak pada hari-hari pertama. Berusaha menyesuaikan dulu. Mereka juga sangat menghargai dan mengerti aku sebagai mahasiswa Makassar. Mereka selalu bertanya tentang kebiasaan orang-orang Makassar bahkan awalnya agak segan meminta tolong ke aku, sebaliknya aku yang segan kalau tidak membantu.
Tapi sepertinya aku masih merasa lebih beruntung dibanding mahasiswa Unhas di nagari lainnya, teman poskoku tak semuanya asli minang dan masih lebih gaul berbahasa. Tak selalu berbahasa Minang. Ah, Iyyokah? Baik, aku harus memperkenalkan mereka.
(Aku, Ardi, bang Ari dan It)
Yudhistira Asri Poetra-dipanggil Ardi, ketua korong kami (semacam kordes) adalah orang paling sering mengajakku jalan keluar dari posko, terutama pada awal-awal KKN. Beli air galon dan bahan buka puasa, mandi atau pun sekadar kumpul di Korong lain. Dan tentu selalu memberi lampu hijau jika aku ingin jalan-jalan bersama yang lain. Pokoknya pengertian. Ia jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UNAND.
Iit (Itmardi Lismana), jurusan Ekonomi Pembangunan, FE juga sama baiknya. Ngajak jalan, dan sebaginya. Dialek Soloknya membuatku kadang susah menangkap pembicaraannya apalagi saat di atas motor. Tapi dia guide yang baik, selalu memberikan penjelasan tentang tempat-tempat yang dilalui dan dikunjungi misalnya ketika ke Bukit Tinggi.
Bang Ari (Yuari Kamizal) paling suka melucu kayaknya. Sering mencairkan suasana di posko dengan cara mengganggui Icha, mencandaiku juga kadang-kadang. Selalu butuh tambahan waktu 5 menit kalau dibagunkan sahur. Tapi dia juga rajin dan strong naknya. Ia 2010 di jurusan Teknik Sipil. Eh, Ia senang memanggilku si Somad. :) 
(Kak Resi, Gabby, Icha, Eby)
Resi Zulyani, kami memanggilnya Akak Resi, angkatan 2010 Pendidikan Dokter yang sementara KOAS. Paling dihormati dan disegani di posko. Juga paling dekat sama anak-anak kecil dan ibu-ibu Durian Kadok. Selalu sabar dan santai mengahadapi candaan cobaan bahkan sebelum negara api menyerang (apa?)
Icha, alias Jihan Faradisha. Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang jas almamaternya dipenuhi lambang organisasi ini dan itu, lengan kanan dan kirinya sudah hampir penuh. Cengeng, kyaknya tidak. Tapi manja iyya. Hahahha… (maaf Ica, bukan aku yang bilang kok). Lucu juga iyya kyaknya. Dan pastinya asyik didengar bercerita.
Fabby Catherine, Eby. Paling jago masak, cukup menelpon mama terus minta resep, jadilah menu berbuka puasa kami. Beberapa kali jatuh sakit di posko, tapi sebenarnya dia strong, iyyalah anak UKM Olahrahga. Semoga sekarang sehat terus ya Eby.
Geby- Gabby Chikita, jurusan Ilmu Hukum. Paling pendiam diantara kita, tapi ia juga sering gabung kalau lagi bercanda-bercanda. Ardi, sabar ya… (Hahaha…. peace Ardi).
Dan terakhir adalah Yoga. Kucing kesayangan kami yang selalu menemani kami tidur. Sahur pun ia bangun. Diam-diam ia paling suka pulang tengah malam lewat jendela. Ujung-ujungnya, perutnya membesar. Hamil. Tapi sayang kami tidak mendapatkan siapa pelakunya sebelum kami meninggalkan lokasi KKN. Mungkinkah kau sudah melahirkan sekarang? Maafkan aku tak bisa hadir di acara akikahan anak-anakmu. (sad)
Lokasi posko kami yang agak terpencil, hanya satu rumah di samping posko kami, membuat kami lebih senang mengahabiskan waktu di sana, apalagi pada minggu pertama. Dan fasilitas jaringan 3G dibandingkan Korong lain menaiknya rating posko kami sebagai paling sering dikunjungi. Hahaha…
Tepat di sudut depan kanan posko kami ada masjid gadang (besar) yang begitu megah, karena berada tepat di atas bukit (Posko kami tidak nampak dari jalan utama karena terhalang oleh masjid). Masjid itu dibangun setelah bencana gempa di tahun 2008 dengan menelan biaya miliaran dari bantuan Oman (katanya). Namun sayangnya digunakan hanya untuk shalat jumat. Atapnya mulai bocor.
(Buka puasa minggu pertama)
Pohon durian dan jengkol yang berbatang besar dan tinggi juga banyak tumbuh liar di depan dan kiri posko sehingga monyet dan tupai begitu mudah ditemui kala pintu rumah dibuka. Pohon manggis, sawo, duku, dan jeruk nipis juga ada di sekitar tempat tinggal kami. Kami sungguh beruntung karena, waktu KKN adalah musim durian, duku, dan manggis sehingga Alhamdulillah bisa dinikmati.
Ada banyak hal telah kita lalui selama KKN dari yang menyedihkan, menakutkan, menggalaukan, hingga ketawa-ketawa bareng. Senang bisa mengenal kalian, semoga kelak kita bisa bertemu kembali, melepas rindu yang tak kan pernah usai.

*Korong kami hanya bernama Durian Kadok, “Indah” hanyalah tambahan untuk memberinya singkatn DKI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…