Langsung ke konten utama

Buka Puasa- Puncak Merapi Sumbar

“Keliling-Keliling Nagari,” begitulah beberapa mahasiswa Unand memberi arti dari KKN. Kegiatan KKN memang merupakan proses pengabdian masyarakat, tapi tak bisa dimungkiri sebagian besar mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlibur, alias jalan-jalan. Seperti halnya saya, tak membiarkan moment KKN berlalu begitu saja. Sambil nyelam minum air, juga makan snack balado.
Bahkan sebelum dinyatakan lulus sebagai peserta KKN tematik di Padang, Sumatera barat, telah kurencanakan apa-apa yang akan dilakukan nantinya di sana. Termasuk mendaki gunung.
Tiba di lokasi KKN, saya bertemu dengan teman se-nagari salah satunya adalah Andri, mahasiswa Antropologi Unand yang senang mendaki dan kebetulan sudah pernah ke Makassar bahkan sempat mendaki gunung Bawakaraeng. Kami bercerita panjang lebar, tentang studi saya, tentang Makassar, Sumatera Barat, hingga saya mengatakan keinginan untuk mendaki. Alhasil, dia langsung menjawab, “iyya, ntar kita mendaki merapi Mad.” Wah… :)
***
Minggu terakhir KKN, ketika teman se-posko saya sedang sibuk-sibuknya mengadakan lomba. Mereka dengan sangat baik hati membiarkan saya melakukan pendakian. Sekitar pukul sembilan malam, kami meninggalkan lokasi KKN dengan persiapan seadanya.
3 motor beriringan, membelah angin bukit barisan. Beberapa kali kami berhenti karena banyak bahan makanan dan peralatan yang harus dibeli. Dan ban depan salah satu motor tiba-tiba kempis.
Dinginnya malam makin menusuk memaksa kami berhenti mengisi perut dan baterai Hp di warung Martabak Mesir kota Padang Panjang. Jaraknya tidak begitu jauh lagi dari titik pendakian. Hampir dua jam kami di sana sambil sharing mengenai medan yang akan ditempuh. Maklum saja, diantara kami hanya Andri yang berpengalaman mendaki merapi.
Tiba di starting point pendakian. Motor kami parkir, tak perlu kawatir karena ada security disana. Cukup mengisi buku pengunjung dan membayar Rp. 5.000 per orang. Jadi jika ada pendaki yang tersesat atau hilang bisa dengan mudah diketahui.
Medan awal yaitu jalan beton setapak ±1 km, kiri-kanannya merupakan perkebunan sayur warga, tanaman cabe keriting dan sawi-sawian.  Hingga akhirnya tiba di pos Nol, area lapang yang cukup untuk mendirikan beberapa tenda. Di sini juga dilengkapi dua buah toilet.
Sekelompok pecinta alam yang mengaku berasal dari berbagai daerah di sumatera menyambut kami. Beberapa gelas kopi mereka tawarkan. Kami duduk melingkari api unggun, menghangatkan badan, meski bagian punggung masih saja dingin. Bercerita banyak hingga sekitar pukul tiga malam. Dan akhirnya mendirikan satu tenda buat Sofie sedangkan kami laki-laki beristirahat diluar tenda beralaskan matras beratapkan langit. Menatap bintang.
(View pos Nol)
Dingin menusuk kulit membuat kami tak bisa lelap. Dan sebelum fajar sebungkus nasi (dengan daun pisang) yang seperti beku kami masukkan ke lambung bersama mie instant rebus. Lumayan buat mengisi energi kami bertiga sebelum pendakian. Puasa harus tetap jalan.
***
Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan pos nol, foto-foto tak boleh ketinggalan. Karena di pos nol kita bisa menikmati fajar membelah gunung Singgalang dan Tandikek tepat di depan mata. Beruntung pagi itu awan berbaik hati, tak banyak mengganggu moment foto-foto kami.
Gunung merapi memiliki sedikit sumber mata air, hanya pada perjalanan ke pos satu dan pos terakhir sebelum puncak. Jadinya beberapa jeriken kecil air dan botol air minum kami bawa setelah menemukan sumber air beberapa meter dari pos nol.
(Menuju KM 2)
Bersama dengan beberapa anggota kelompok pecinta alam, kami bergerak menuju pos satu. Mereka punya kegiatan lain di sana, sejenis climbing mungkin. Sehingga hanya kami yang melanjutkan perjalanan. Pohon pinus dan bambu masih mendominasi pada daerah kaki gunung ini. Yang terpenting, kita harus tetap waspada karena Harimau Sumatera masih berkeliaran, apalagi pada petang hari. Beruntung, dalam perjalanan kami hanya mendapat jejaknya saja.
Semakin ke puncak, semakin beragam pula tumbuhan yang kami temui. Dari tumbuhan bunga hingga pohon besar yang baru kutemui, pohon yang memiliki buah berduri, banyak berserakan di tanah sehingga beberapa kali menusuk pantat atau tangan kami ketika break.
Beberapa kali kami harus break karena memang tak ada persiapan fisik sebelumnya (hanya bermodal mental kebaranian),terutama Sofie. Medan pendakian di sini sebagian besar adalah tanjakan, kalau dapat jalan datar itu adalah bonus. Beda dengan Bawakaraeng yang naik turun. Dan break terlama adalah di KM 4 karena hampir semua personil sudah lelah.
 Membuat api unggun untuk menghangatkan badan padahal saat itu hampir pukul 12 siang. Dan yang terpenting adalah makan. Ets, only some of us karena saya dan bang Ari alhamdulillah masih tahan godaan haus dan lapar, while Taufik had been surrender. Istirahat makin panjang karena hujan tiba-tiba memaksa kami mendirikan tenda, menghindari kuyup.
(kala hujan turun)
Kami kembali bercerita tentang apa pun yang terlintas di pikiran kami. Salah satunya adalah tentang suara Mancik dan Tikus yang diperdepatkan yang ternyata sama. Mancik adalah Tikus dan Tikus adalah Mancik, bedanya satu bahasa Minang satu lagi bahasa Indonesia. Itulah gunanya ber- KKN lintas budaya. Hampir sejam, hingga kami bergegas melanjutkan perjalanan. Embun terus bergerak di sela-sala kanopi pohon mengantar kami menuju puncak.
Lelah tak pernah dikeluhkan karena ambisi kuat untuk segera mencapai puncak. Jalan makin sempit dan licin, melawati batuan celah batu-batu besar atau pun tanah yang sebentar lagi menjadi batu. Monyet bersahut-sahutan, mungkin si jantan sedang menggoda betinanya. Entah telah berapa kali Andri menjanjikan puncak yang katanya sudah dekat.
Kami dan matahari terus bergerak. Kami ke atas sedang ia ke bawah. Siul merdu burung menggantikan cekikikan monyet. Mereka menyambut kami menuju puncak, sepertinya. Tak ada lagi pohon besar yang menjulang, hanya tanaman-tanaman kecil yang memenuhi tanah batuan. Tibalah kami di pos terakhir, tempat mendirikan camp.

Lewat pukul lima, kami menyegerakan shalat Asar. Beberapa dari kami mendirikan tenda, ada yang mengumpulkan kayu untuk unggun,juga dedaunan sebagai alas tenda karena tanah dan batu akan terasa amat dingin pada malam hingga pagi.
Sofie segera menyiapkan makan malam dan buka puasa. Sayangnya tikus-tikus hutan mencium makanan kami, tak tahu berapa jumlahnya, mereka seperti monster bergantian bergerak gesit menyerang, bermaksud merebut makanan kami. Beberapa orang histeris (tak perlu kusebutkan siapa). Lama-lama mereka bosan juga mengganggu.
Awan dan matahari bersepakat. Matahari akan segera menghilang meninggalkan senja yang sangat indah. Langit memerah, lautan awan berbentuk. Betapa luar biasa Tuhan yang menciptakan. Memasukkan malam ke dalam siang.
Segelas Cadbury hangat membasahi kerongkongan. Alhamdulillah, betapa indahnya perjuangan berbuka puasa kali ini, Sabtu, 19 Juli 2014. Saya dan Bang Ari bisa mempertahankan puasa. Terima kasih Bang atas semangatnya. Terima kasih Sofie atas Cad Burry nya.
(Segelas Cadbury tuk buka puasa)
Klik, klik, klik. Bunyi kamera. Kami bergantian berpose.
Malam itu tak ada bulan, tapi cahaya kota Padang Panjang dan kota Bukit Tinggi tampak dari sana. Bukit Tinggi masih lebih ramai dan terang dari pada Padang Panjang.
Api unggun mulai redup dan malam makin dingin. Saya memutuskan segera istirahat, yang lain masih memilih menikmati malam. Namun, dalam tenda tetap saja dingin. Saya hanya bisa tidur ayam. Dinginnya menembus tulang-tulang meski menggunakan sleeping bag. Paling lambat pukul setengah 5 subuh kami harus menuju puncak, menemui fajar.
Persediaan makanan dan minuman sebenarnya hampir tidak mencukupi. Hanya 3 bungkus nasi dan 5 bungkus mie instant untuk 2 hari. Namun patut disyukuri karena saya dan Bang Ari tetap puasa sehingga tidak membutuhkan banyak minum. Subuh itu, saya dan bang Ari sarapan 2 bungkus mie dan beberapa potong roti serta beberapa teguk air yang amat dingin. Puasa tidaklah dinilai dari sahurnya.
Lagi-lagi saya kembali ke tenda sedangkan bang Ari lebih suka memanjat pohon, menikmati angin. Kami menunda menemui senja karena dingin yang teramat. Kami bisa melakukannya di pagi hari.
Pukul sembilan. Kami meninggalkan barang bawaan kecuali sebuah tas yang dibawa oleh Taufik. Semua barang memang sebaiknya ditinggalkan di tenda karena medan menuju puncak adalah cadas dan batuan-batuan berpasir. Tidak lupa memanjatkan doa.
Itulah perjalanan yang sebenarnya oleh kami, melawati lapisan tanah yang keras, batu-batu pada pasir dan tanah. Tak ada lagi pohon meski yang kecil. Kami berkeringat dalam dingin dan tekad yang makin kuat. Kami ber-5 akan menaklukan merapi sumatera barat. Teringatlah film 5 cm meski sebenarnya beda.
(Bukan 5cm)
Jadi akan kujelaskan dulu siapa-siapa kami ini: Andri, mahasiswa Antropologi Unand yang telah kujelaskan sebelumnya; Taufik, mahasiswa peternakan 011 Unand yang dikenal pendiam dan pemalu. Baru kali ini mendaki gunung; Bang Ari, teman se posko saya yang tiba-tiba saja mau ikut, beberapa jam sebelum keberangkatan. Meski baru pertama kali mendaki, dia yang paling tangguh dan semangat; Sofie, perempuan yang senang jalan-jalan, termasuk mendaki. Mahasiswi FKM Unhas yang ditempatkan se-nagari dengan saya. Kalau soal masak-memasak tidak diragukan lagi; Dan tentu saja saya, mahasiswa kurus tapi tangguh.
Tibalah kami di tugu Abel, sebuah tugu untuk mengenang salah seorang pendaki bernama Abel Tasman. Adalah pintu masuk menuju puncak merapi. Gunung Singgalang dan Tandikek tampak kokoh jika dipandang dari sini. Kami termasuk beruntung karena awan tipis sehingga semua terlihat jelas dan megah termasuk pinggir laut Padang Pariaman, Kota Bukit Tinggi, dan Panjang. Puas foto-foto kami bergegas menuju puncak yang sudah di depan mata.
Di gunung merapi ini juga terdapat lapangan yang katanya sering dipakai pendaki bermain sepak bola. Lapangan luas berpasir. Juga untuk menuliskan nama atau komunitas. Baik itu menulis di tanah berpasir langsung, ataupun dengan batu-batu yang disusun. Saya juga ikut menulis nama FLP dan Caterpillar 2011, nama angkatan saya. Menurutku, itu jauh lebih baik dari pada menulis menggunakan cat semprot pada batu-batu besar.
Bau gas belerang pada kawah merapi semakin menusuk hidung mendekati merapi. Masker atau penutup hidung lainnya memang harus disiapkan. Di gunung ini terdapat 3 kawah, dua diantaranya masih aktif. Berjalan ke puncak pun harus ekstra hati-hati karena jalan berpasir dan semakin sempit.
(Tanjakan terakhir menuju puncak)
Takluklah merapi. Kami berdiri tepat di puncak. Danau Singkarak dan kota Solok terlihat dari puncak. Rasanya ingin berlama-lama memandang betapa indah ciptaan Tuhan. Kami tak banyak bergerak di puncak karena terlalu sempit dan berisiko. Jika jatuh akan sangat dalam, atau malah masuk ke kawah.
Kami memutuskan segera turun sebelum tengah hari. Saya, Taufik, dan Bang Ari berjalan mengelilingi kawah. Sedangkan Sofie dan Andri melewati jalan yang sama saat datang. Kami akan bertemu di tugu Abel.
Jalan yang kami bertiga ambil ternyata sangat ekstrim. Tanah berpasir dan miring membuat kami harus melangkah pelan-pelan. Bisa saja tergelincir ke kanan lalu jatuh ke bawah, kaki gunung atau masuk ke kawah jika jatuh ke kiri.
Saya dan Taufik yang mulai lelah segera ke tugu Abel menemui Sofie dan Andri. Sedangkan bang Ari yang masih semnagat berjalan sendiri ke taman Edelweis.
Awan telah menutupi pandangan kami dari sekeliling ketika bang Ari telah kembali membawa setangkai Edelweis (sebenarnya dilarang). Lagi-lagi kami befoto sebelum meninggalkan rindu menuju camp membereskan peralatan.
(Selfie di puncak)
(Tiba di kaki gunung)
Setelah duhur kami segera turun. Perjalanan terasa lebih cepat dibandingkan ketika mendaki. Sofie yang paling semangat diantara kami, padahal kamarin dia yang paling sering minta istirahat. Lutut terasa bergetar melangkah turun, tapi tak mau minta istirahat. Malu kalau kalah sama Sofie. Beberapa pendaki lain kami temui dalam perjalanan turun. Kami selalu saling menyapa. Hingga lewat pukul empat kami tiba di pos nol.
Tak lupa singgah berfoto di rumah puisi Taufik Ismail. Terakhir, buka puasa dengan bakso yang terkenal di Padang Panjang. Hingga kembali ke posko, beraktivitas sebagai mahasiswa KKN.
Terima kasih. Ini tak akan terlupakan :)

Komentar

Reskiawati Anwar mengatakan…
Serunya kak Ceki. Berasa jadi pemainnya mki ini 5 cm?. Haha
Ahmad Mdi mengatakan…
Hahhha... Dan saya sebagai Genta :)
cuma kurang satu pemain. Dinda nda ikut :D

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…