Langsung ke konten utama

Menjemput Matahari

Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman terletak agak jauh dari kota Pariaman. Tapi jangan tanyakan soal keindahan, keelokan, kecantikan, ataupun ketampanannya.
(Matahari pagi membelah gunung Singgalang dan Tandikek)

Liku-liku Sungai Ja'niah (Jernih)  membelah nagari Sikucur. Airnya Jernih dan begitu segar, menjadi sumber air utama di sana. Mandi, mencuci, bahkan untuk memasak (setelah ditampung beberapa saat). Sungai ini juga dipenuhi ikan Larangan. Ikan yang menurut kepercayaan penduduk lokal hanya bisa ditangkap pada waktu-waktu tertentu, sayang saya tidak mendapat jawaban ketika kutanyakan mengapa. Saya maklum dengan sesuatu yang begitu diyakini dan dipercaya masyarakat. Mereka tak memiliki penjelasan tapi begitu yakin, takut ada sesuatu terjadi jika melanggarnya

Korong Durian Kadok adalah salah satu korong (dusun) tertampan di Sikucur. Liat saja ini foto-rotonya.
(Me)

(Kak Resi)






(Ardi)
(Iit)










Jadi, satu hari sebelum penarikan dari lokasi KKN, tepatnya tanggal 24 Juli 2014 setelah pulang dari kota Pariaman untuk sahur. Kami tak mau melewatkan salah satu momen indah di lokasi KKN.

(bukan cabe-cabean alias lado-ladoan)

(Selfie sama sapi)
 KKN Tematik kerja sama UNHAS-UNAND memberikan nilai plus dan kesan tersendiri.








Walaupun kami harus melakukan banyak aktivitas di sungai: mandi, mencuci pakaian dan piring, juga mengambil air untuk dibawa naik ke posko tidak lah masalah karena demikianlah KKN sesungguhnya (bede') merasakan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Dan kami percaya, akan selalu ada sesuatu hikmah dibalik semua itu.

(Surau Gadang atau Masjid besar yang berada di bukit, pinggir sungai. Di belakang masjid ini adalah posko kami)

(Menemukan sebutir telur ayam di pinggir kali, kemudian kami mencoba mengamatinya, dan tidak berani mengambilnya)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Alarm dan "Bicycle Place"

Finally, I got an empty seat—hopefully this appropriate place is enjoyable— in the 7th floor of library setelah mencari tempat sepi dari lantai 4, 5, 6 hingga di sini. Mengerjakan tugas kuliah tidak semudah dan semenarik menulis atau bercerita di blog, that’s why I write this. Meskipun ujung-ujungnya tugas juga tidak selesai-selesai. 
Yesterday morning (18/2), Alhamdulillah, bangun lebih pagi sebagaimana yang direncanakan. Bunyi alarm pertama (saya selalu memasang minimal tiga lapis alarm) berhasil menyita perhatian, “menggetarkan hati” *eh, tidak lagi dimatikan lalu tidur kembali seperti hari-hari lalu. Selama kita betul-betul meniatkan dengan baik, insyaallah Dia akan menggerakan hati. (Memang, telah diajak/diingatkan untuk berjamaah di masjid pas subuh oleh seorang teman ketika pulang dari perpustakaan jam 10an malam)
Bangun jam setengah 6, took a shower, segera memakai jaket, kaos tangan, kupluk, serta syal, mengambil sepeda, mengayuh pedal dengan cepat di tengah jalan yang masih le…