Menjemput Matahari

Menjemput Matahari



(Matahari pagi membelah gunung Singgalang dan Tandikek)
Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman terletak agak jauh dari kota Pariaman. Tapi jangan tanyakan soal keindahan, keelokan, kecantikan, ataupun ketampanannya.

Liku-liku Sungai Ja'niah (Jernih)  membelah nagari Sikucur. Airnya Jernih dan begitu segar, menjadi sumber air utama di sana. Mandi, mencuci, bahkan untuk memasak (setelah ditampung beberapa saat). Sungai ini juga dipenuhi ikan Larangan. Ikan yang menurut kepercayaan penduduk lokal hanya bisa ditangkap pada waktu-waktu tertentu, sayang saya tidak mendapat jawaban ketika kutanyakan mengapa. Saya maklum dengan sesuatu yang begitu diyakini dan dipercaya masyarakat. Mereka tak memiliki penjelasan tapi begitu yakin, takut ada sesuatu terjadi jika melanggarnya

Korong Durian Kadok adalah salah satu korong (dusun) tertampan di Sikucur. Liat saja ini foto-rotonya.
(Me)

(Kak Resi)






(Ardi)
(Iit)










Jadi, satu hari sebelum penarikan dari lokasi KKN, tepatnya tanggal 24 Juli 2014 setelah pulang dari kota Pariaman untuk sahur. Kami tak mau melewatkan salah satu momen indah di lokasi KKN.

(bukan cabe-cabean alias lado-ladoan)

(Selfie sama sapi)
 KKN Tematik kerja sama UNHAS-UNAND memberikan nilai plus dan kesan tersendiri.








Walaupun kami harus melakukan banyak aktivitas di sungai: mandi, mencuci pakaian dan piring, juga mengambil air untuk dibawa naik ke posko tidak lah masalah karena demikianlah KKN sesungguhnya (bede') merasakan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Dan kami percaya, akan selalu ada sesuatu hikmah dibalik semua itu.

(Surau Gadang atau Masjid besar yang berada di bukit, pinggir sungai. Di belakang masjid ini adalah posko kami)

(Menemukan sebutir telur ayam di pinggir kali, kemudian kami mencoba mengamatinya, dan tidak berani mengambilnya)



Baca selengkapnya »
Sebuah Pertemuan, Keluarga DKI

Sebuah Pertemuan, Keluarga DKI



Taukah kau rindu itu apa?
Tataplah jernihnya sungai Ja’niah
Yang membelah jalan dekat rumah kita dulu
Anak-anak sungai bertemu kemudian menyatu
Airnya jernih terus mengalir
Seperti itulah rindu.

Beberapa lelaki duduk di teras rumah joglo itu, bernyanyi sambil memainkan gitar. Rumah kedua di samping kanannya juga terbuat dari susunan batu bata dengan model yang sama, sekelompok wanita bergerumul di depan pintu masuk. Menatap kami (Aku dan Sofie) atau mungkin sekadar memandangi baju kami yang berwarna mencolok, merah hijau. “Mahasiswa KKN UNHAS” tertulis pada dada kanan dan ayam jantan bertengger kokoh di lengan kanan. Aku diliputi rasa canggung, deg-degan, dan sedikit cemas ketika pertama kali kulangkahkan kaki turun dari motor. Tak seorang pun yang kukenal kecuali Sofie yang datang bersamaku, begitu pula Sofie. “Selamat datang di Nagari Sikucur. Semoga betah selama KKN,” gumamku.
Mereka menyambut baik, meski kadang saling berbisik dalam bahasa yang tak mampu kuterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aku diliputi beberapa pertanyaan dari mereka, juga dari diriku sendiri. Bagaimana akan kulewati KKN ini selama satu bulan bersama orang-orang baru? Kucek pemberitahuan pada Hp, namun tak kudapati apa-apa dan takkan pernah ada. Tidak ada jaringan. Selamat!
Oh, maaf. Itu bukan posko kami. Itu posko korong (kelompok 3) yang nantinya akan menjadi tempat kita sering kumpul. Ada 5 korong yang akan ditempati mahasiswa KKN di Sikucur, alhasil aku berlainan Korong dengan Sofie. Korong 4 adalah takdirku dan ia di Korong 1. Hari semakin sore, kembali kuangkat koper dan tas. Motor melaju ke poskoku yang sesungguhnya. Sampai bertemu lagi Sofie!
Beberapa menit melewati jalan beraspal, motor berbelok ke jalan kerikil berdebu dan sempit, kiri kanannya adalah sawah dan beberapa bangunan yang belum jadi. Melewati sebuah jembatan dan sedikit pendakian hingga tibalah pada rumah sederhana di atas bukit. Dindingnya kayu dan tripleks yang disusun rapi dan dilubangi bebarapa titik sebagai jendela. Satu set kursi dan dua buah karpet dipasang pada lantai semen ruang tamu, juga sebagai ruang serba guna.
Kudapatilah mereka, orang-orang yang akan bersamaku selama sebulan penuh. Yang akan menjadi teman posko KKN, teman curhat, sekaligus teman jalan-jalan (ngarep). Tempat baru dan orang-orang baru. Ah, Aku tak perlu menjadi orang baru pula, mereka akan memahami aku yang apa adanya.
Hal pertama yang kulakukan tentunya adalah memperkenalkan diri dan mengenal mereka. Maklum saja, mereka telah saling kenal karena berasal dari kampus yang sama dan telah melalui pra-KKN. Mengunjungi lokasi KKN sama-sama serta telah merencanakan program kerja. Serta mereka tiba di posko sehari lebih awal dari pada aku. Logat Makassarku kutanggalkan untuk sesaat.
Mereka, mahasiswa UNAND tidak kalah modern seperti mahasiswa UNHAS, namun satu hal yang sangat kukagumi: kecintaan mereka terhadap bahasa sendiri, Minang. Entah di kampus atau di luar mereka lebih sering bercakap dalam bahasa Minang dari pada menggunakan bahasa Indonesia. Aku kesulitan mencerna pembicaraan mereka, tapi itulah tantangannya. Lagi pula mereka tak pernah keberatan untuk menjelaskan maksudnya. Dan belajar bahasa Minang adalah salah satu tujuanku mendaftar KKN ini (KKN Tematik Sumatera Barat, UNHAS-UNAND).
Aku banyak diam dan menyimak pada hari-hari pertama. Berusaha menyesuaikan dulu. Mereka juga sangat menghargai dan mengerti aku sebagai mahasiswa Makassar. Mereka selalu bertanya tentang kebiasaan orang-orang Makassar bahkan awalnya agak segan meminta tolong ke aku, sebaliknya aku yang segan kalau tidak membantu.
Tapi sepertinya aku masih merasa lebih beruntung dibanding mahasiswa Unhas di nagari lainnya, teman poskoku tak semuanya asli minang dan masih lebih gaul berbahasa. Tak selalu berbahasa Minang. Ah, Iyyokah? Baik, aku harus memperkenalkan mereka.
(Aku, Ardi, bang Ari dan It)
Yudhistira Asri Poetra-dipanggil Ardi, ketua korong kami (semacam kordes) adalah orang paling sering mengajakku jalan keluar dari posko, terutama pada awal-awal KKN. Beli air galon dan bahan buka puasa, mandi atau pun sekadar kumpul di Korong lain. Dan tentu selalu memberi lampu hijau jika aku ingin jalan-jalan bersama yang lain. Pokoknya pengertian. Ia jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UNAND.
Iit (Itmardi Lismana), jurusan Ekonomi Pembangunan, FE juga sama baiknya. Ngajak jalan, dan sebaginya. Dialek Soloknya membuatku kadang susah menangkap pembicaraannya apalagi saat di atas motor. Tapi dia guide yang baik, selalu memberikan penjelasan tentang tempat-tempat yang dilalui dan dikunjungi misalnya ketika ke Bukit Tinggi.
Bang Ari (Yuari Kamizal) paling suka melucu kayaknya. Sering mencairkan suasana di posko dengan cara mengganggui Icha, mencandaiku juga kadang-kadang. Selalu butuh tambahan waktu 5 menit kalau dibagunkan sahur. Tapi dia juga rajin dan strong naknya. Ia 2010 di jurusan Teknik Sipil. Eh, Ia senang memanggilku si Somad. :) 
(Kak Resi, Gabby, Icha, Eby)
Resi Zulyani, kami memanggilnya Akak Resi, angkatan 2010 Pendidikan Dokter yang sementara KOAS. Paling dihormati dan disegani di posko. Juga paling dekat sama anak-anak kecil dan ibu-ibu Durian Kadok. Selalu sabar dan santai mengahadapi candaan cobaan bahkan sebelum negara api menyerang (apa?)
Icha, alias Jihan Faradisha. Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang jas almamaternya dipenuhi lambang organisasi ini dan itu, lengan kanan dan kirinya sudah hampir penuh. Cengeng, kyaknya tidak. Tapi manja iyya. Hahahha… (maaf Ica, bukan aku yang bilang kok). Lucu juga iyya kyaknya. Dan pastinya asyik didengar bercerita.
Fabby Catherine, Eby. Paling jago masak, cukup menelpon mama terus minta resep, jadilah menu berbuka puasa kami. Beberapa kali jatuh sakit di posko, tapi sebenarnya dia strong, iyyalah anak UKM Olahrahga. Semoga sekarang sehat terus ya Eby.
Geby- Gabby Chikita, jurusan Ilmu Hukum. Paling pendiam diantara kita, tapi ia juga sering gabung kalau lagi bercanda-bercanda. Ardi, sabar ya… (Hahaha…. peace Ardi).
Dan terakhir adalah Yoga. Kucing kesayangan kami yang selalu menemani kami tidur. Sahur pun ia bangun. Diam-diam ia paling suka pulang tengah malam lewat jendela. Ujung-ujungnya, perutnya membesar. Hamil. Tapi sayang kami tidak mendapatkan siapa pelakunya sebelum kami meninggalkan lokasi KKN. Mungkinkah kau sudah melahirkan sekarang? Maafkan aku tak bisa hadir di acara akikahan anak-anakmu. (sad)
Lokasi posko kami yang agak terpencil, hanya satu rumah di samping posko kami, membuat kami lebih senang mengahabiskan waktu di sana, apalagi pada minggu pertama. Dan fasilitas jaringan 3G dibandingkan Korong lain menaiknya rating posko kami sebagai paling sering dikunjungi. Hahaha…
Tepat di sudut depan kanan posko kami ada masjid gadang (besar) yang begitu megah, karena berada tepat di atas bukit (Posko kami tidak nampak dari jalan utama karena terhalang oleh masjid). Masjid itu dibangun setelah bencana gempa di tahun 2008 dengan menelan biaya miliaran dari bantuan Oman (katanya). Namun sayangnya digunakan hanya untuk shalat jumat. Atapnya mulai bocor.
(Buka puasa minggu pertama)
Pohon durian dan jengkol yang berbatang besar dan tinggi juga banyak tumbuh liar di depan dan kiri posko sehingga monyet dan tupai begitu mudah ditemui kala pintu rumah dibuka. Pohon manggis, sawo, duku, dan jeruk nipis juga ada di sekitar tempat tinggal kami. Kami sungguh beruntung karena, waktu KKN adalah musim durian, duku, dan manggis sehingga Alhamdulillah bisa dinikmati.
Ada banyak hal telah kita lalui selama KKN dari yang menyedihkan, menakutkan, menggalaukan, hingga ketawa-ketawa bareng. Senang bisa mengenal kalian, semoga kelak kita bisa bertemu kembali, melepas rindu yang tak kan pernah usai.

*Korong kami hanya bernama Durian Kadok, “Indah” hanyalah tambahan untuk memberinya singkatn DKI
Baca selengkapnya »
Buka Puasa- Puncak Merapi Sumbar

Buka Puasa- Puncak Merapi Sumbar

“Keliling-Keliling Nagari,” begitulah beberapa mahasiswa Unand memberi arti dari KKN. Kegiatan KKN memang merupakan proses pengabdian masyarakat, tapi tak bisa dimungkiri sebagian besar mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlibur, alias jalan-jalan. Seperti halnya saya, tak membiarkan moment KKN berlalu begitu saja. Sambil nyelam minum air, juga makan snack balado.
Bahkan sebelum dinyatakan lulus sebagai peserta KKN tematik di Padang, Sumatera barat, telah kurencanakan apa-apa yang akan dilakukan nantinya di sana. Termasuk mendaki gunung.
Tiba di lokasi KKN, saya bertemu dengan teman se-nagari salah satunya adalah Andri, mahasiswa Antropologi Unand yang senang mendaki dan kebetulan sudah pernah ke Makassar bahkan sempat mendaki gunung Bawakaraeng. Kami bercerita panjang lebar, tentang studi saya, tentang Makassar, Sumatera Barat, hingga saya mengatakan keinginan untuk mendaki. Alhasil, dia langsung menjawab, “iyya, ntar kita mendaki merapi Mad.” Wah… :)
***
Minggu terakhir KKN, ketika teman se-posko saya sedang sibuk-sibuknya mengadakan lomba. Mereka dengan sangat baik hati membiarkan saya melakukan pendakian. Sekitar pukul sembilan malam, kami meninggalkan lokasi KKN dengan persiapan seadanya.
3 motor beriringan, membelah angin bukit barisan. Beberapa kali kami berhenti karena banyak bahan makanan dan peralatan yang harus dibeli. Dan ban depan salah satu motor tiba-tiba kempis.
Dinginnya malam makin menusuk memaksa kami berhenti mengisi perut dan baterai Hp di warung Martabak Mesir kota Padang Panjang. Jaraknya tidak begitu jauh lagi dari titik pendakian. Hampir dua jam kami di sana sambil sharing mengenai medan yang akan ditempuh. Maklum saja, diantara kami hanya Andri yang berpengalaman mendaki merapi.
Tiba di starting point pendakian. Motor kami parkir, tak perlu kawatir karena ada security disana. Cukup mengisi buku pengunjung dan membayar Rp. 5.000 per orang. Jadi jika ada pendaki yang tersesat atau hilang bisa dengan mudah diketahui.
Medan awal yaitu jalan beton setapak ±1 km, kiri-kanannya merupakan perkebunan sayur warga, tanaman cabe keriting dan sawi-sawian.  Hingga akhirnya tiba di pos Nol, area lapang yang cukup untuk mendirikan beberapa tenda. Di sini juga dilengkapi dua buah toilet.
Sekelompok pecinta alam yang mengaku berasal dari berbagai daerah di sumatera menyambut kami. Beberapa gelas kopi mereka tawarkan. Kami duduk melingkari api unggun, menghangatkan badan, meski bagian punggung masih saja dingin. Bercerita banyak hingga sekitar pukul tiga malam. Dan akhirnya mendirikan satu tenda buat Sofie sedangkan kami laki-laki beristirahat diluar tenda beralaskan matras beratapkan langit. Menatap bintang.
(View pos Nol)
Dingin menusuk kulit membuat kami tak bisa lelap. Dan sebelum fajar sebungkus nasi (dengan daun pisang) yang seperti beku kami masukkan ke lambung bersama mie instant rebus. Lumayan buat mengisi energi kami bertiga sebelum pendakian. Puasa harus tetap jalan.
***
Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan pos nol, foto-foto tak boleh ketinggalan. Karena di pos nol kita bisa menikmati fajar membelah gunung Singgalang dan Tandikek tepat di depan mata. Beruntung pagi itu awan berbaik hati, tak banyak mengganggu moment foto-foto kami.
Gunung merapi memiliki sedikit sumber mata air, hanya pada perjalanan ke pos satu dan pos terakhir sebelum puncak. Jadinya beberapa jeriken kecil air dan botol air minum kami bawa setelah menemukan sumber air beberapa meter dari pos nol.
(Menuju KM 2)
Bersama dengan beberapa anggota kelompok pecinta alam, kami bergerak menuju pos satu. Mereka punya kegiatan lain di sana, sejenis climbing mungkin. Sehingga hanya kami yang melanjutkan perjalanan. Pohon pinus dan bambu masih mendominasi pada daerah kaki gunung ini. Yang terpenting, kita harus tetap waspada karena Harimau Sumatera masih berkeliaran, apalagi pada petang hari. Beruntung, dalam perjalanan kami hanya mendapat jejaknya saja.
Semakin ke puncak, semakin beragam pula tumbuhan yang kami temui. Dari tumbuhan bunga hingga pohon besar yang baru kutemui, pohon yang memiliki buah berduri, banyak berserakan di tanah sehingga beberapa kali menusuk pantat atau tangan kami ketika break.
Beberapa kali kami harus break karena memang tak ada persiapan fisik sebelumnya (hanya bermodal mental kebaranian),terutama Sofie. Medan pendakian di sini sebagian besar adalah tanjakan, kalau dapat jalan datar itu adalah bonus. Beda dengan Bawakaraeng yang naik turun. Dan break terlama adalah di KM 4 karena hampir semua personil sudah lelah.
 Membuat api unggun untuk menghangatkan badan padahal saat itu hampir pukul 12 siang. Dan yang terpenting adalah makan. Ets, only some of us karena saya dan bang Ari alhamdulillah masih tahan godaan haus dan lapar, while Taufik had been surrender. Istirahat makin panjang karena hujan tiba-tiba memaksa kami mendirikan tenda, menghindari kuyup.
(kala hujan turun)
Kami kembali bercerita tentang apa pun yang terlintas di pikiran kami. Salah satunya adalah tentang suara Mancik dan Tikus yang diperdepatkan yang ternyata sama. Mancik adalah Tikus dan Tikus adalah Mancik, bedanya satu bahasa Minang satu lagi bahasa Indonesia. Itulah gunanya ber- KKN lintas budaya. Hampir sejam, hingga kami bergegas melanjutkan perjalanan. Embun terus bergerak di sela-sala kanopi pohon mengantar kami menuju puncak.
Lelah tak pernah dikeluhkan karena ambisi kuat untuk segera mencapai puncak. Jalan makin sempit dan licin, melawati batuan celah batu-batu besar atau pun tanah yang sebentar lagi menjadi batu. Monyet bersahut-sahutan, mungkin si jantan sedang menggoda betinanya. Entah telah berapa kali Andri menjanjikan puncak yang katanya sudah dekat.
Kami dan matahari terus bergerak. Kami ke atas sedang ia ke bawah. Siul merdu burung menggantikan cekikikan monyet. Mereka menyambut kami menuju puncak, sepertinya. Tak ada lagi pohon besar yang menjulang, hanya tanaman-tanaman kecil yang memenuhi tanah batuan. Tibalah kami di pos terakhir, tempat mendirikan camp.

Lewat pukul lima, kami menyegerakan shalat Asar. Beberapa dari kami mendirikan tenda, ada yang mengumpulkan kayu untuk unggun,juga dedaunan sebagai alas tenda karena tanah dan batu akan terasa amat dingin pada malam hingga pagi.
Sofie segera menyiapkan makan malam dan buka puasa. Sayangnya tikus-tikus hutan mencium makanan kami, tak tahu berapa jumlahnya, mereka seperti monster bergantian bergerak gesit menyerang, bermaksud merebut makanan kami. Beberapa orang histeris (tak perlu kusebutkan siapa). Lama-lama mereka bosan juga mengganggu.
Awan dan matahari bersepakat. Matahari akan segera menghilang meninggalkan senja yang sangat indah. Langit memerah, lautan awan berbentuk. Betapa luar biasa Tuhan yang menciptakan. Memasukkan malam ke dalam siang.
Segelas Cadbury hangat membasahi kerongkongan. Alhamdulillah, betapa indahnya perjuangan berbuka puasa kali ini, Sabtu, 19 Juli 2014. Saya dan Bang Ari bisa mempertahankan puasa. Terima kasih Bang atas semangatnya. Terima kasih Sofie atas Cad Burry nya.
(Segelas Cadbury tuk buka puasa)
Klik, klik, klik. Bunyi kamera. Kami bergantian berpose.
Malam itu tak ada bulan, tapi cahaya kota Padang Panjang dan kota Bukit Tinggi tampak dari sana. Bukit Tinggi masih lebih ramai dan terang dari pada Padang Panjang.
Api unggun mulai redup dan malam makin dingin. Saya memutuskan segera istirahat, yang lain masih memilih menikmati malam. Namun, dalam tenda tetap saja dingin. Saya hanya bisa tidur ayam. Dinginnya menembus tulang-tulang meski menggunakan sleeping bag. Paling lambat pukul setengah 5 subuh kami harus menuju puncak, menemui fajar.
Persediaan makanan dan minuman sebenarnya hampir tidak mencukupi. Hanya 3 bungkus nasi dan 5 bungkus mie instant untuk 2 hari. Namun patut disyukuri karena saya dan Bang Ari tetap puasa sehingga tidak membutuhkan banyak minum. Subuh itu, saya dan bang Ari sarapan 2 bungkus mie dan beberapa potong roti serta beberapa teguk air yang amat dingin. Puasa tidaklah dinilai dari sahurnya.
Lagi-lagi saya kembali ke tenda sedangkan bang Ari lebih suka memanjat pohon, menikmati angin. Kami menunda menemui senja karena dingin yang teramat. Kami bisa melakukannya di pagi hari.
Pukul sembilan. Kami meninggalkan barang bawaan kecuali sebuah tas yang dibawa oleh Taufik. Semua barang memang sebaiknya ditinggalkan di tenda karena medan menuju puncak adalah cadas dan batuan-batuan berpasir. Tidak lupa memanjatkan doa.
Itulah perjalanan yang sebenarnya oleh kami, melawati lapisan tanah yang keras, batu-batu pada pasir dan tanah. Tak ada lagi pohon meski yang kecil. Kami berkeringat dalam dingin dan tekad yang makin kuat. Kami ber-5 akan menaklukan merapi sumatera barat. Teringatlah film 5 cm meski sebenarnya beda.
(Bukan 5cm)
Jadi akan kujelaskan dulu siapa-siapa kami ini: Andri, mahasiswa Antropologi Unand yang telah kujelaskan sebelumnya; Taufik, mahasiswa peternakan 011 Unand yang dikenal pendiam dan pemalu. Baru kali ini mendaki gunung; Bang Ari, teman se posko saya yang tiba-tiba saja mau ikut, beberapa jam sebelum keberangkatan. Meski baru pertama kali mendaki, dia yang paling tangguh dan semangat; Sofie, perempuan yang senang jalan-jalan, termasuk mendaki. Mahasiswi FKM Unhas yang ditempatkan se-nagari dengan saya. Kalau soal masak-memasak tidak diragukan lagi; Dan tentu saja saya, mahasiswa kurus tapi tangguh.
Tibalah kami di tugu Abel, sebuah tugu untuk mengenang salah seorang pendaki bernama Abel Tasman. Adalah pintu masuk menuju puncak merapi. Gunung Singgalang dan Tandikek tampak kokoh jika dipandang dari sini. Kami termasuk beruntung karena awan tipis sehingga semua terlihat jelas dan megah termasuk pinggir laut Padang Pariaman, Kota Bukit Tinggi, dan Panjang. Puas foto-foto kami bergegas menuju puncak yang sudah di depan mata.
Di gunung merapi ini juga terdapat lapangan yang katanya sering dipakai pendaki bermain sepak bola. Lapangan luas berpasir. Juga untuk menuliskan nama atau komunitas. Baik itu menulis di tanah berpasir langsung, ataupun dengan batu-batu yang disusun. Saya juga ikut menulis nama FLP dan Caterpillar 2011, nama angkatan saya. Menurutku, itu jauh lebih baik dari pada menulis menggunakan cat semprot pada batu-batu besar.
Bau gas belerang pada kawah merapi semakin menusuk hidung mendekati merapi. Masker atau penutup hidung lainnya memang harus disiapkan. Di gunung ini terdapat 3 kawah, dua diantaranya masih aktif. Berjalan ke puncak pun harus ekstra hati-hati karena jalan berpasir dan semakin sempit.
(Tanjakan terakhir menuju puncak)
Takluklah merapi. Kami berdiri tepat di puncak. Danau Singkarak dan kota Solok terlihat dari puncak. Rasanya ingin berlama-lama memandang betapa indah ciptaan Tuhan. Kami tak banyak bergerak di puncak karena terlalu sempit dan berisiko. Jika jatuh akan sangat dalam, atau malah masuk ke kawah.
Kami memutuskan segera turun sebelum tengah hari. Saya, Taufik, dan Bang Ari berjalan mengelilingi kawah. Sedangkan Sofie dan Andri melewati jalan yang sama saat datang. Kami akan bertemu di tugu Abel.
Jalan yang kami bertiga ambil ternyata sangat ekstrim. Tanah berpasir dan miring membuat kami harus melangkah pelan-pelan. Bisa saja tergelincir ke kanan lalu jatuh ke bawah, kaki gunung atau masuk ke kawah jika jatuh ke kiri.
Saya dan Taufik yang mulai lelah segera ke tugu Abel menemui Sofie dan Andri. Sedangkan bang Ari yang masih semnagat berjalan sendiri ke taman Edelweis.
Awan telah menutupi pandangan kami dari sekeliling ketika bang Ari telah kembali membawa setangkai Edelweis (sebenarnya dilarang). Lagi-lagi kami befoto sebelum meninggalkan rindu menuju camp membereskan peralatan.
(Selfie di puncak)
(Tiba di kaki gunung)
Setelah duhur kami segera turun. Perjalanan terasa lebih cepat dibandingkan ketika mendaki. Sofie yang paling semangat diantara kami, padahal kamarin dia yang paling sering minta istirahat. Lutut terasa bergetar melangkah turun, tapi tak mau minta istirahat. Malu kalau kalah sama Sofie. Beberapa pendaki lain kami temui dalam perjalanan turun. Kami selalu saling menyapa. Hingga lewat pukul empat kami tiba di pos nol.
Tak lupa singgah berfoto di rumah puisi Taufik Ismail. Terakhir, buka puasa dengan bakso yang terkenal di Padang Panjang. Hingga kembali ke posko, beraktivitas sebagai mahasiswa KKN.
Terima kasih. Ini tak akan terlupakan :)
Baca selengkapnya »

Sosial Media