Langsung ke konten utama

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Memulai Cerita KKN

Mari kita mulai saja bercerita tentang KKN yang telah dilalui beberapa waktu lalu. Tak ada lagi kata menunda, malas, atau tak ada mood.
Kenapa mesti diceritakan, bukankah setiap mahasiswa pernah, sedang, atau akan menghadapi KKN juga. Toh, mereka akan tahu juga tentang bagaimana ber-KKN itu?
Ah, tidak. Kita harus tetap bercerita. Menulis supaya dibaca dan diketahui orang lain bukanlah tujuan utama kenapa mesti menulis. Tapi untuk membuat sejarah atas diri kita sendiri, bahwa sesuatu telah terlewati dan kita kan melangkah ke tahap-tahap selanjutnya yang entah kapan akhirnya. Menulis juga untuk “melawan lupa,” membuat kita tidak melupakan sesuatu begitu saja. Namanya manusia: kala tua daya ingat akan menurun.
Well, sebenarnya sekarang saya sementara menyusun laporan hasil KKN, menulis dengan mengikuti format yang telah ditentukan, selalu sama dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin hal itu pula lah yang membuat kebanyakan mahasiswa KKN memilih copy-paste-edit dari laporan-laporan sebelumnya, atau meminta dari teman se-posko (termasuk saya). Beruntunglah ada jurnal harian yang diisi oleh mahasiswa semasa ber-KKN, membuat mahasiswa bebas menulis kegiatan sehari-harinya, lebay sedikit tidak apa lah.
Olehnya itu, sambil mengedit laporan saya akan bercerita sedikit banyak selama ber-KKN di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Kebetulan dan keberuntungan KKN yang saya ikuti adalah KKN Tematik Sumatera Barat, yaitu kerja sama Universitas Hasanuddin dan Universitas Andalas (UNAND).
Kerja sama ini sudah memasuki tahun kedua. Tahun lalu (2013) Unhas mengirimkan delegasi sebanyak 50 mahasiswa dan tahun ini (2014) dikurangi jadi 20 mahasiswa saja. Alasannya, pihak UPT KKN kebablasan jika harus mendampingi 50 mahasiswa, mungkin juga karena dana.
Oh, iyya. Universitas Hasanuddin sebagai salah satu perintis kegiatan KKN memang telah melaksanakan KKN sejak tahun 1973/1974. Dan hingga KKN yang saya ikuti ini telah mencapai gelombang 87. Tentunya dengan banyak perubahan dan inovasi termasuk adanya beberapa KKN tematik seperti yang saya ikuti. Juga KKN Profesi, Kebangsaan, dll.
Mahasiswa KKN Tematik Padang diberangkatkan lebih awal dari pada KKN reguler, tepatnya tanggal 24 Juni 2014 siang, sehari setelah pemberangkatan KKN Tematik ke pulau Miangas, juga KKN Profesi ke Kab. Maros. Namun, kami tiba di lokasi lebih awal dari pada anak-anak Miangas, maklum mereka harus menempuh perjalanan laut selama 7 hari 7 malam.
Kami berada di lokasi KKN selama 30 hari, karena mengikut pada jadwal KKN mahasiswa Unand. Kami harus mengikut pada semua aturan yang ditetapkan Unand selama ber-KKN karena begitulah kesepakatannya, tapi toleransinya tentu banyak. Namun kami juga punya banyak waktu untuk jalan-jalan baik sementara KKN atau pun setelah KKN ketika telah kembali ke kota Padang. Jalan ke sini lah, ke situ, pokoknya kemana-kemana kalau ada kesempatan (Baca di cerita-cerita selanjutnya), bahkan kami harus ikhlas berlebaran di Padang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'. Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini. Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD. Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi di

Catatan Singkat dalam Bising Perpustakaan

Memasuki perpustakaan daerah Kabupaten Soppeng untuk pertama kalinya: lebih terasa seperti gedung perkantoran pemerintah daripada perpustakaan. Begitu memasuki pintu seorang pegawai yang sedang duduk di meja resepsionis berdiri menyambut namun hanya dengan tatapan, tanpa kata. Ia pun baru bicara setelah saya yang memulai. Dengan terbata-bata – sepertinya ia bukan orang yang biasa atau sering menyambut pengunjung perpustakaan – ia meminta saya menyimpan tas di lemari yang cukup kecil untuk disebut sebagai rak penyimpanan. Ketika bertanya, ia menjawab kurang tegas, ragu, sehingga saya harus mengklarifikasi kembali. Setelah mengeluarkan laptop, mengisi daftar pengunjung yang setidaknya sudah tidak konvensional lagi, saya melangkah melewati jejeran rak buku menuju meja baca, menyimpan laptop. Perpustakaan ini terlalu sempit untuk menampung berak-rak buku. Rak tidak sesak oleh buku namun berdiri terlalu berhimpit-himpitan satu sama lain. Celah antar rak sangat kecil. Untungnya, tu

Angka Kembar dan Lelaki yang Tak Dirindukan

Peringatan! Tulisan ini mengandung unsur ke-alay-an, bagi yang berusia 18+ tahun jangan dibaca. “Mungkin seseorang sedang merindukanmu.” “Ah, siapa yang rindu kepadaku!” Jawabku sambil tertawa terpintal-pintal. Padahal hati saya berkata lain, “Wah, siapa ya yang merindukan saya? Mungkinkah si dia, perempuan yang menatapku sore kemarin. A tau dia, perempuan lain yang pernah sekadar lewat di hatiku, atau mungkin….” Saya tersenyum malu-malu. “Iyya Dek, temanku pernah bilang begitu. Dan saya juga percaya. ” Alarm digital ketika mati lampu :) *** Itu hanyalah potongan pengalaman sekitar tiga tahun lalu-masih semester 3, ketika saya sering mendapati angka-angka kembar pada jam digital H p. Saya kemudian menceritakan pengalaman kepada salah seorang senior (s ebut saja namanya Mawar ) di sebuah organisasi yang baru saya masuki. Sejak percakapan sore itu, saya justru makin sering menemukan angka-angka kembar. T epat ketika secara kebetulan saya melihat angka -ang