Langsung ke konten utama

Kiprah Mahasiswa Unhas di Ranah Minang


Kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) bukan hanya untuk memberdayakan masyarakat, tetapi juga untuk memberikan pengalaman dan pembalajaran bagi mahasiswa sendiri. Itulah yang diperolah oleh mahasiswa dua perguruan tinggi Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, dan Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat. Mahasiswa Unhas dari wilayah timur Indonesia yang mayoritas berasal dari suku Bugis Makassar dan Unand dari bagian barat dengan mayoritas mahasiswa dari suku Minang, sama-sama mendapat banyak manfaat saat bekerja sama melaksanakan KKN.

Sebanyak 20 mahasiswa Unhas dari berbagai jurusan dikirim ke Sumatera Barat untuk melakukan pengabdian masyarakat. Mereka ditempatkan di beberapa daerah terpencil di kabupaten Padang Pariaman.

Kerja sama itu untuk memberi pengalaman belajar lebih kepada mahasiswa Unhas. Tidak sekadar melaksanakan program-program pengabdian masyarakat, tetapi juga mempelajari budaya masyarakat suku Minangkabau. Sebaliknya, mahasiswa Unhas juga dapat memperkenalkan budayanya kepada mahasiswa Unand dan warga setempat.

KKN tersebut bertema “Pembangunan Karakter Mahasiswa Melalui Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat.” Bentuk aksinya mahasiswa Unhas dan Unand belajar kearifan lokal dan nilai-nilai sosial masyarakat setempat. Tentu saja mahasiswa Unhas harus menggunakan energi ektra karena persoalan perbedaan latar belakang budaya.

Beda bahasa
Dalam pelaksanaanya, mahasiswa Unhas mengikut aturan dan kebijakan badan pelaksana KKN Unand. Pada awalnya mahasiswa Unhas mengalami sedikit kesulitan dalam berkomunikasi dengan masyarakat setempat karena perbedaan bahasa. Beruntung, mahasiswa Unand membantu menjadi penerjemah dan ikut menyelesaikan program kerja.

Masa KKN selama sebulan lalu itu diisi mahasiswa Unhas-Unand melakukan sosialisasi penanganan gempa di daerah rawan gempa, mengajar siswa SD, mengadakan lomba-lomba, dan lainnya.

Sembari mengajari warga, peserta KKN juga belajar banyak budaya dari masyarakat. Misalnya peserta KKN Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, yang melaksanakan program latihan seni silat dan tari piring, kedua seni budaya asli Minang itu mulai tergerus oleh maraknya budaya asing. Ketika mahasiswa Unand mengajar, rekannya dari Mkaassar ikut mempelajari seni tersebut.

“Saya beruntung bisa ikut KKN di Sumbar. Kami bertemu orang-orang baru dengan bahasa Minangnya, bertukar resep makanan dengan teman posko. Pokoknya seru, KKN sambil belajar, juga jalan-jalan”, kata Sofia, mahasiswa Unhas. Bahkan mahasiswa Unhas yang memiliki usaha kafe keluarga ini mengaku sudah bisa membuat beberapa masakan khas Sumatera Barat.

Sementara Jihan Faradisa, mahasiswa Unand, mengaku senang bisa bekerja sama dengan mahasiswa Unhas. “Senang mendapat teman baru dari Sulawesi, lucu juga bahasanya beda, jadi bisa belajar bahasa baru meskipun terkesan lucu”, ujar mahasiswa Kesehatan Masyarakat Unand tersebut.

Tidak semua mahasiswa Unhas mendapat kesempatan melaksanakan KKN di luar Sulawesi karena harus ikut proses seleksi dari pihak kampus. Itulah sebabnya KKN tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi peserta dua perguruan tinggi itu.

 *Terbit di Kolom Kompas Kampus, Kompas edisi Selasa 26 Agustus. Cek teks asli yang aku kirim di sini

*Video yang dibuat sembarangan di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…