Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Segelas Teh Manis Minggu Pagi Masih Berselancar

“Bukan” sebuah tulisan Telah berjam-jam kucoba berselancar di internet. Mencari-cari pemahaman atas “masalah” yang kualami sejak dulu. Bukan hanya aku, tapi juga bebarapa teman-teman yang ketika kuceritakan hal tersebut juga merasakan hal sama. Pencernaan tiba-tiba menjadi lancar setelah meneguk segelas teh manis di pagi hari. Kadang kopi, kadang susu. Tapi sama saja. Serasa dikejar-kejar itu… Belum juga kudapatkan penjelasan yang betul-betul clear. Yang kutangkap bahwa memang teh maupun kopi memang memiliki kandungan yang dapat memperlancar pencernaan. Tapi ada juga yang membantah dan mengatakan sebalikya, kopi malah membuat proses pencernaan menjadi sulit ( www.akuinginsuks*s.com/fakt*-sebenarny*-tentan*-mito*-minu*-kop*/ ). Situs tidak terpercaya menurutku, lihat saja dari alamat url-nya. Menurut kebanyakan orang, seharusnya itu bukanlah hal yang mesti dipermasalahkan. Bukankah justru merupakan hal yang baik ketika pencernaan kita lancar? Ya, aku juga tahu itu. Ta

Kiprah Mahasiswa Unhas di Ranah Minang

Kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) bukan hanya untuk memberdayakan masyarakat, tetapi juga untuk memberikan pengalaman dan pembalajaran bagi mahasiswa sendiri. Itulah yang diperolah oleh mahasiswa dua perguruan tinggi Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, dan Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat. Mahasiswa Unhas dari wilayah timur Indonesia yang mayoritas berasal dari suku Bugis Makassar dan Unand dari bagian barat dengan mayoritas mahasiswa dari suku Minang, sama-sama mendapat banyak manfaat saat bekerja sama melaksanakan KKN. Sebanyak 20 mahasiswa Unhas dari berbagai jurusan dikirim ke Sumatera Barat untuk melakukan pengabdian masyarakat. Mereka ditempatkan di beberapa daerah terpencil di kabupaten Padang Pariaman. Kerja sama itu untuk memberi pengalaman belajar lebih kepada mahasiswa Unhas. Tidak sekadar melaksanakan program-program pengabdian masyarakat, tetapi juga mempelajari budaya masyarakat suku Minangkabau. Sebaliknya, mahasiswa Unhas juga dapat me

Memulai Cerita KKN

Mari kita mulai saja bercerita tentang KKN yang telah dilalui beberapa waktu lalu. Tak ada lagi kata menunda, malas, atau tak ada mood . Kenapa mesti diceritakan, bukankah setiap mahasiswa pernah, sedang, atau akan menghadapi KKN juga. Toh, mereka akan tahu juga tentang bagaimana ber-KKN itu? Ah, tidak. Kita harus tetap bercerita. Menulis supaya dibaca dan diketahui orang lain bukanlah tujuan utama kenapa mesti menulis. Tapi untuk membuat sejarah atas diri kita sendiri, bahwa sesuatu telah terlewati dan kita kan melangkah ke tahap-tahap selanjutnya yang entah kapan akhirnya. Menulis juga untuk “melawan lupa,” membuat kita tidak melupakan sesuatu begitu saja. Namanya manusia: kala tua daya ingat akan menurun. Well , sebenarnya sekarang saya sementara menyusun laporan hasil KKN, menulis dengan mengikuti format yang telah ditentukan, selalu sama dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin hal itu pula lah yang membuat kebanyakan mahasiswa KKN memilih copy-paste-edit dari laporan-laporan s