Sampai Kapan Menolak Berpuisi?



Di atas panggung, kusembunyikan canggung yang hampir-hampir melumpuhkan organ gerak. Kemudian kuberteriak lantang, sorotkan mata tajam, dan sesekali berbisik lembut. Hingga penonton terkagum-kagum – mungkin meleleh.

Ah! Itu hanyalah hayal yang sering muncul di benakku sejak menghadiri kegiatan Sekolah Islam Athirah. Acara temu penulis yang menghadirkan sastrawan Indonesia, Taufik Ismail. Juga mengundang beberapa organisasi dan komunitas se-Makassar untuk turut membacakan atau pun musikalisasi puisi.

Atau mungkin bukan karena itu, tapi sejak kami (saya, Kak Syahrir, Kak Isma dan Kak Fika menghabiskan se-sore-an di Cafe Baca untuk latihan berpuisi. Bukan kami sebenarnya, tapi hanya Kak Syahrir dan Kak Fika, while saya dan Kak Isma adalah komentator terhebat yang tak bisa berpuisi.

Pernah sekali, beberapa hari lalu di Sekolah Kritis PERISAI saya memberanikan diri membacakan puisi “Membaca Tanda-tanda” karya Taufik Ismail, itu pun karena kami hanya beberapa orang di sana. Dan itu adalah kali pertama sejak masa SMA dulu. Tak peduli seberapa buruk teman-teman menilainya.

Sungguh, Saya belum berani berpuisi.

Dan malam ini saya lebih memilih mendengar puisi saja dari pada menghadiri dua acara puisi. Pertama, dengan alasan yang sebenarnya tidak berterima di akal, kukatakan aku tak bisa hadir pada Sastra Bulan Purnama di Fakultas Sastra. Padahal itu hanya alasan agar aku tak jadi membacakan puisi salah seorang dosen yang telah saya iya-kan untuk menampilkannya. Manalah aku berani berpuisi di depan teman-teman fakultas sastra yang banyak diantara mereka jauh lebih keren.

Kedua, menolak ajakan teman-teman FLP (Kak Syahrir, Kak Fika dan Batara) berpuisi di LASKAR EBS FM. Sedang saya hanya mampu menyumbat telinga dengan mendengar puisi-puisi menggetarkan gendang telinga.

Sudahlah.

Suatu kesyukuran saya tidak Disleksia, sehingga air yang kutuang ke dalam gelas tetaplah air, tak menjelma huruf-huruf yang kemudian jatuh satu persatu ke dalam gelas menjelma puisi.

Kak Isma, ayo berpuisi, TAPI selesaikan dulu Skripsinya.

Sampai Kapan Menolak Berpuisi?