Konsolidasi Malam itu

Konsolidasi Malam itu

Aku masih teramat lelah kala itu, ketika mama memintaku ke rumah tetangga sebelah. Bagaimana tidak, baru sekitar sejam lalu aku tiba di rumah setelah lebih dari empat jam duduk berdesak-desak dalam mobil panter yang melaju melewati jalur Buludua.

Kusempatkan pulang hari itu, meski sebenarnya libur hanya sehari untuk pesta pemilu lima tahunan saja.

“Lumayan ada tambahan satu suara,” begitulah kata mama saat ia berusaha membujukku lewat telepon. Memang satu suara sangat penting bagi caleg manapun termasuk bagi sanak saudaraku yang menjadi caleg DPR Daerah. Kesempatan itu juga bisa melepaskanku dari masalah-masalah kampus barang satu atau dua hari.

Kumelangkah menuju rumah tetangga yang telah ramai sedari tadi. Kubiarkan Ridho, teman seasramaku yang ikut denganku ke kampung halaman istirahat sendiri di depan TV. Aku tak perlu kawatir jikalau dia mole karena ia selalu punya cara untuk melawan kesendirian.

Aku canggung ketika kaki-kakiku menuruni anak tangga. Karena yakin bahwa yang akan kutemui di sana bukan lah seumuranku. Kebanyakan orang tua. Belum lagi aku memang sedikit tertutup dengan orang-orang kampungku.

Ah! Kutanggalkan rasa itu. Bukankah sudah semestinya kubuang individualisme dan sifat kekanak-kanakanku. Malu sama usia yang sudah 21 tahun.

***
Kudapati mereka tengah asyik bercerita. Tak sepenuhnya kumengerti dan kuingat yang mereka perbincangkan. Yang jelas mereka berbicara bergantian dengan suara tegas. Kutangkap sedikit nada keangkuhan di dalamnya. Jika kalian dapati hal yang sama, kalian harus tahu, sesungguhnya itu bukan keangkuhan, hanya jati diri petarung yang ingin keluar. Itulah lelaki bugis sesungguhnya.

Beruntung aku pewe dengan tempat duduk yang kupilih dan orang-orang juga tidak begitu mempedulikan kedatanganku sehingga aku bisa menyimak dengan sebaik-baiknya.

“Namu Ikalaki Kumassiddi’ maki,” (biar kalah yang penting kita bersatu) kata salah seorang diantara mereka. Aku tersenyap. Masih sebesar itukah persatuan mereka, orang bugis?

Ilustrasi
Aku kagum tapi tak sepenuhnya percaya. Bisa saja itu hanyalah suara-suara kemunafikan yang dilontarkan supaya mereka terkesan peduli. Siapa yang lebih tahun hati manusia kecuali tuhannya.

Tak lupa saksi tiap TPS juga ditentukan dan aku dimintai membagikan surat mandat saksi yang sebelumnya telah diisi bidata (beruntung aku tak ditunjuk jadi saksi). Tentu surat mandat itu dibagikan bersama dengan amplop putih yang entah berapa rupiah isinya.

Dua hal yang masih sangat sulit untuk dilenyapkan begitu saja di masyarakat, money politic dan nepotisme. Tak jarang seseorang menerima uang dari caleg-caleg, bahkan lebih dari dua atau tiga caleg sekaligus. Sedangkan nepotisme, itu sudah pasti meski tak muncul jelas di permukaan. Konsolidasi malam itu adalah tindakan halus dari nepotisme sebenarnya. Dan entah lebih buruk yang mana, nepotisme atau politik uang.


Jarum jam terus berotasi hingga menjelang pukul 11 malam. Dan orang-orang terus saja berdatangan, memenuhi kolong rumah panggung yang makin sesak. Mereka masih saja membicarakan tentang apa yang dilakukan dan mengira-ngira yang akan terjadi besok.

Baca selengkapnya »
Bakti Sosial di Dusun Sabang

Bakti Sosial di Dusun Sabang





Suatu hari Dusun Sabang, Desa Bonto Bahari, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros terlihat begitu ramai. Sekelompok mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin baru saja tiba dari Kota Makassar, setelah menempuh jarak sekitar 40 kilometer atau selama satu jam lebih.
Jauh dari hiruk pikuk kota, suasana begitu berbeda dengan yang biasa kami lewati sehari-hari. Embusan angin laut yang melewati celah-celah tanaman bakau terasa begitu sejuk meski matahari berada tepat di atas kepala kami. Di daerah pesisir inilah, kami menggelar kegiatan bakti sosial dengan tema “Satu Langkah Kecil dengan Kepedulian Besar.”
“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat, juga inilah salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang merupakan salah satu dari tridarma perguruan tinggi,” kata Darmayanti, yang merupakan penanggung jawab dari kegiatan tersebut.
Kegiatan bakti sosial adalah salah satu program kerja Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris (PERISAI) Unhas, yang kami persiapkan jauh hari sebelumnya.
Setelah briefing di rumah kepala desa setempat dan beribadah, panitia bakti sosial segera melaksanakan kegiatan sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan sebelumnya kepada setiap orang.
Ada tiga tim yang dibentuk sesuai dengan tugas masing-masing. Ada tim yang bertugas memasang marka jalan, ada yang membersihkan masjid, juga ada yang bertindak sebagai tenaga pengajar.

Tetap semangat
Terik matahari yang menyengat tidak mengurangi semangat tim pemasang marka jalan. Warga setempat pun ikut membantu sehingga kami dapat menyelesaikan tugas lebih cepat dari yang diperkirakan.
Marka jalan dianggap penting di desa ini karena memiliki potensi wisata, namun kurang dikenal oleh masyarakat umum. Salah satunya, ada dermaga Dusun Sabang yang menghadap ke barat sehingga pengunjung dapat menikmati panorama matahari terbenam.
Di sisi lain, tim kebersihan masjid sedikit kewalahan karena saat itu kondisi masjid yang masih dalam proses renovasi. Jadi kami lebih memfokuskan kebersihan di ruang dalam masjid.
Desa yang populasi seluruhnya beragama islam penduduknya adalah muslim ini memiliki masjid yang sederhana, tetapi indah karena berdiri di tengah-tengah tambak masyarakat.
Setelah masjid dibersihkan, baru kemudian tempat ibadah ini juga dipakai sebagai tempat belajar-mengajar. Anak-anak sekolah di Dusun Sabang ini ternyata begitu antusias belajar.
Setelah kepala desa memberi pengumuman di masjid, satu per satu para siswa berdatangan. Mereka membawa peralatan tulis. Bahkan beberapa ibu-ibu yang mengantar anak mereka juga ikut duduk mendengarkan.
Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan umur dan tingkatan pendidikan masing-masing. Setiap kelompok terdiri dari empat hingga delapan orang yang dibimbing oleh satu atau dua orang. Siswa tingkat sekolah dasar merupakan peserta terbanyak, sedangkan siswa SMP berjumlah belasan dan SMA hanya empat orang.
Mereka belajar bahasa Inggris dasar lengkap dengan aneka permainan yang memudahkan untuk cepat memahami. Meski belajar Bahasa Inggris relative sulit, mereka menyukainya.
Masyarakat Desa Bonto Bahari yang sehari-hari bercakap dalam bahasa Makassar mayoritas memahami bahasa Indonesia. Akan tetapi mereka tidak mengerti cara menggunakannya dalam percakapan.
Begitu pula dengan kalangan pelajar, terutama siswa SD. Alhasil para pengajar menggunakan tiga bahasa untuk membantu mereka.
Sekitar pukul 15.00 Wita, kegiatan belajar-mengajar berakhir dan kami pun berkumpul di rumah kepala desa untuk beristirahat.

Belajar menari
Kegiatan kembali dilanjutkan sore hari. Seusai belajar bahasa Inggris, anak-anak perempuan belajar menari. Kami mengajarkan beberapa tarian daerah, misalnya tari padduppa, tari toraja dan tari kipas guna mendekatkan budaya lokal kepada mereka. Sementara bagi anak laki-laki diajarkan beberapa gerakan olahraga bela diri karate.
Kegiatan lain yang dilakukan panitia laki-laki adalah membersihkan area pemakaman warga. Pemakaman dengan luas kurang dari 1 hektar itu berlokasi di tengah tambak. Pemakaman ini tak begitu terurus.
Bermodal parang milik warga setempat, kami kemudian memangkas ilalang setinggi sekitar 1,5 meter yang menutupi pemakaman.
Ketika senja membayang di ufuk barat, panitia berbenah untuk pulang. Kami semua menyalami kepala desa dan warga yang berkumpul. Kami bahagia bisa melakukan sesuatu untuk warga setempat.
Terbit di kolom Kompas Kampus-Kompas
Edisi Selasa, 1 Januari 2014


Baca selengkapnya »

Sosial Media