Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

(L)Upa'

“Jangan lupa kirimkan database anggota baru Kak” “Ingatkanka Dek, SMS saja. Karena Aku sering lupa” “Waduh, Aku juga kadang lupa Kak. Ingatkanka tuk SMS ki” Kemudian kau melepas tawa, juga Aku. Kita   menertawakan diri masing-masing kala itu. Mengapa Selalu saja kita men- judge diri sendiri sebagai pelupa. Sudah berapa banyak artikel tentang cara melawan lupa yang telah kita baca, kita lumat habis, hingga isinya sudah di hafal luar kepala. Bahkan ada juga yang rela merogoh kocek mengikuti berbagai seminar tentang melawan lupa. Katanya, Melawan lupa bisa dengan menulis dengan selalu membawa catatan kecil di saku, membiasakan bersikap tenang, sesekali me- refresh otak, dan sebagainya. Aku percaya itu, meski tak ada yang berani menjamin 100%. Adakah ? Aku tidak mau membahas itu. Terlalu munafik rasanya jika Aku menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana melawan lupa, sedang Aku sendiri adalah makhluk pelupa. Lupa adalah hal yang wajar dalam pergumulan hidup manu

Janji

“Menulislah terus. Tulis apa pun yang bisa kau tulis dalam blog mu. It doesn’t matter wrong or right. Karena melalui tulisan-tulisanmu pada blog, kamu bisa melihat perkembangan menulismu. Orang juga bisa menilaimu.” Kata mu suatu ketika. Di atas anyaman daun lontar Redup cahaya pelita menghapus gulita Menghidupkan jiwa yang belum mati Lubang hidungmu menghitam Kau merintih Tak apalah karena besok adalah Jumat Dan aku segera tiba Aku tak lagi segumpal darah