(L)Upa'

(L)Upa'



“Jangan lupa kirimkan database anggota baru Kak”
“Ingatkanka Dek, SMS saja. Karena Aku sering lupa”
“Waduh, Aku juga kadang lupa Kak. Ingatkanka tuk SMS ki”
Kemudian kau melepas tawa, juga Aku. Kita  menertawakan diri masing-masing kala itu.
Mengapa Selalu saja kita men-judge diri sendiri sebagai pelupa.
Sudah berapa banyak artikel tentang cara melawan lupa yang telah kita baca, kita lumat habis, hingga isinya sudah di hafal luar kepala. Bahkan ada juga yang rela merogoh kocek mengikuti berbagai seminar tentang melawan lupa.
Katanya, Melawan lupa bisa dengan menulis dengan selalu membawa catatan kecil di saku, membiasakan bersikap tenang, sesekali me-refresh otak, dan sebagainya. Aku percaya itu, meski tak ada yang berani menjamin 100%. Adakah ?
Aku tidak mau membahas itu. Terlalu munafik rasanya jika Aku menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana melawan lupa, sedang Aku sendiri adalah makhluk pelupa.
Lupa adalah hal yang wajar dalam pergumulan hidup manusia, siapa pun bisa dilanda lupa karena ada banyak hal yang kita kerja dalam sehari dan tak mungkin kita mengingat semua itu. Entah lupa akut ataupun lupa biasa, keduanya sama saja bisa berakibat fatal. Banyak bencana kebakaran yang disebabkan karena pemilik rumah lupa mematikan kompor, bahkan seseorang bisa saja dipecat dari pekerjaannya hanya karena lupa menjembut bosnya.
Namun, ada juga orang-orang yang kadang malah mengambil keuntungan dari orang-orang pelupa. Sebut saja dua tokoh kita, Si Pelupa dan Si Upa’. Si Upa’ meminjam sejumlah uang pada Si Pelupa dan berjanji akan mengambalikan paling lambat dalam seminggu. Namun berminggu-minggu kemudian, Si Pelupa tak juga menagih Si Upa’. Maka beruntunglah Si Upa’ karena ia tak perlu membayar uang itu. Ia pura-pura tak tau saja.
Tapi, mari kita kembali pada pernyataan di atas bahwa, “Siapa pun bisa dilanda lupa”. Jadi bisa saja Si Upa’ juga lupa dengan utangnya. Maka tak apalah jika kita saling mengingatkan. Itu lebih baik.
Dan contoh paling sering terjadi adalah, karena Si Pelupa lupa mengambil barangnya, misalnya hand phone yang dia letakkan di atas meja restoran. Kemudian Si Upa’ yang duduk semeja dengannya tak menegurnya. Ia malah mengantongi barang tersebut dan berpura-pura tak tau apa-apa. Dasar! Aku tak paham jelas itu termasuk mencuri, merampok, atau apa. Yang Aku tahu dalam agama apa pun itu tidak dibenarkan. Maka beruntunglah Si Upa’, tapi mungkin itu adalah keberuntungan terakhir yang ia peroleh.
Ada juga orang yang suka berpura-pura lupa. Menutupi kebohongannya dengan kata lupa. “Maaf Pak, Aku lupa kalau tugas ini minimal lima lembar,” padahal ia hanya malas untuk menulis lebih banyak. “Maaf, Aku lupa membayarnya kemarin,” ia tak mau jujur bahwa kemarin uang pinjaman itu belum cukup untuk dikembalikan, dan jika saja orang itu tidak menagihnya ia tidak akan mengembalikannya hari ini.
Lupa selalu dijadikan tameng untuk melindungi diri sendiri, menjauh dari kesalahan. Dasar Pendusta! Atau maukah kita jika kita betul-betul menjadi pelupa akut?

Ku angkat telpon yang berdering di dekatku dan kujawab, “Bagaimana rapatnya? Sudah selesai? Maaf Aku lupa kalau hari ini ada rapat.” Padahal Aku tak lupa, hanya malas meninggalkan kamar dan memilih menuliskan tentang (L)upa’.
Baca selengkapnya »
Janji

Janji



“Menulislah terus. Tulis apa pun yang bisa kau tulis dalam blog mu. It doesn’t matter wrong or right. Karena melalui tulisan-tulisanmu pada blog, kamu bisa melihat perkembangan menulismu. Orang juga bisa menilaimu.” Kata mu suatu ketika.


Di atas anyaman daun lontar
Redup cahaya pelita menghapus gulita
Menghidupkan jiwa yang belum mati
Lubang hidungmu menghitam
Kau merintih
Tak apalah karena besok adalah Jumat
Dan aku segera tiba
Aku tak lagi segumpal darah
Baca selengkapnya »

Sosial Media