Yang Merindu



Malam selalu datang bersama sunyi, hanya bunyi-bunyian serangga kecil yang hidup di pepohonan sekitar rumah warga, juga di balik batu-batu kecil halaman rumah. Suara kendaraan yang melaju cepat, seolah-olah jalan hanya milik mereka, pemilik kendaraan bermesin. Warga kampung entah pada kemana. Aku juga bersembunyi.
*Mungkin yang ku lakukan adalah ragu, atau mungkin mendekati kesalahan. Meninggalkan depan televisi yang telah menjadi ruang keluarga sejak barang “penipu” itu hadir di rumah ini beberapa tahun lalu. Dan mungkin ruang makan akan sedikit iri karena di sana lah dulu tempat curhat kami bersama keluarga, tempat Adik mengaduh tentang teman-teman lelakinya yang mulai mengusiknya, tempat Ayah bercerita tentang saman Gerilya, dan sebagainya.
Di atas sofa merah meluntur berkapasitas tiga orang yang tidak seempuk dulu lagi, aku duduk menghadap kiblat kemudian mulai mengetik di atas meja. Bersembunyi tepat di bawah cahaya lampu yang dikerumuni serangga kecil, entah apa namanya, karena aku tak mau tulisanku dilihat siapa pun. Tapi aku akan mengisahkan apa pun karena itu lah salah satu tujuan pulang ke tempat ini, mencari inspirasi yang bisa mengetarkan hati menggerakkan pena.
Hanya bermodalkan niat, meski tanpa pisau dan gunting, Aku berusaha membedah diri sendiri, membuka hal yang mengganjal di hati sejak lama. Sejujurnya, aku juga bingung, Kenapa aku baru mencari tentang suatu hal saat ia mulai lenyap dimakan teknologi. Aku merindukan bercengkrama bersama tetangga saat kebanyakan dari mereka tengah asyik tertawa di depan televisi, terbuai oleh tontonan yang mengajarkan umat manusia tentang hedonisme.
*Aku masih ingat ketika masih SD, para orang tua laki-laki, termasuk bapakku sangat suka ngopi di rumah tetangga bersama tiga atau empat orang tua lainnya. Tentu mereka tidak membicarakan bisnis yang lagi trend saat itu sambil online di depan laptop, mereka hanya sekedar berbicara tentang tanaman coklat yang makin digemari ulat, atau tanaman jagung yang dipanen babi.
Sedang para pemuda memilih menempati pos ronda sebagai tempat berkumpul, mereka hanya sekedar bercerita mengenai gadis-gadis desa. Meski tak jarang minuman botol beralkohol di dekat mereka dan siap mereka sembunyikan di kolong pos ronda jika salah seorang orang tua tiba-tiba saja datang.
*Kemarin kuputuskan untuk menyegerakan diri pulang ke kampung halaman, sejenak ku tinggalkan rutinitas dan pekerjaan yang sebenarnya belum sepenuhnya tuntas. Biarlah. Aku belum begitu rindu sebenarnya, tapi aku juga tidak boleh egois karena disini ada orang-orang yang lebih merindu. Kampung halaman merindukan jejak kakimu lebih dari kau menginginkannya.
Meski kehidupan sosial banyak berubah, tapi masih banyak hal yang membuatku tetap betah di sini, yang membuatnya tak tertandingi oleh tanah manapun. Ada cinta yang tak terkalahkan. Dan rindu yang tak kan diiris sembilu.
Mungkin aku akan sedikit mengaduh kepada komplotan serangga yang masih tersesat di bawah cahaya. Siapa yang mengatakan tanah yang keren itu hanya di Malang, di jalan menuju puncak Mahameru seperti di film 5cm. Siapa yang mengatakan kalau sungai-sungai yang mulai itu hanya di Jawa, Bali, dan Sumatera seperti di FTV-FTV layar kaca. Dan Siapa bilang bukit-bukit yang indah itu hanya di Minangkabau, tempat Zainuddin dan Hayati mengisahkan cinta?
Tidak. Tempat kelahiranku tidak kalah indah dan beradat dari yang kau lihat di film-film. Sungainya yang dihiasi batu-batu besar menjernihkan airnya, tidak ada sampah yang rela mengotorinya. Dan sawah-sawah yang membentang seakan tak ada ujungnya. Ingatkah kau provinsi apa dengan lumbung padi terbesar saat ini?
Tapi sayang, kami hanya melihatnya dengan mata dan kepala. Sedang kau mampu melihatnya dengan mata, kepala, serta kamera-kamera canggih, dengan resolusi berteknologi tinggi, yang membuatnya terlihat sangat indah di layar kaca bioskop. Itu lah kekuatanmu. Aku kalah. Tapi tak mengalah.
                                                                Tanjonge, Desa Baringeng, Soppeng, 1 Januari 2014

Yang Merindu