Begitukah Cara Kita Menghargai Persahabatan



Ini tentang uang, tapi bukan membahas Korupsi yang katanya dibenci oleh manusia. Ini memang tentang sahabat tapi bukan membicarakan seorang yang merebut pacar sahabatnya.

Katanya “Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang”, tapi aku tidak mau “munafik” dan dengan lantang aku akan meneriakkan kepada Pemilik Segala bahwa “Ya, aku memang butuh uang, dan uang adalah salah satu hal yang bisa mengobati kegalauan”. Tapi, jujur aku paling tidak suka jika “seseorang mau membeli sebuah pertemanan dengan uang”, atau mungkin menghancurkan nilai sebuah pertemanan karena dinilai dengan uang.
Kita masih ingat waktu SMP dan SMA dulu, kita paling benci dengan orang pelit yang tidak mau memberikan sepotong huruf pun jawabanya ke orang lain saat ujian, apalagi saat Ujian Sekolah dan Nasional. Dan mungkin serentak kita akan berlomba-lomba untuk mengucilkannya di kelas, juga membisikkannya ke orang lain, “Dasar dia Pelit”.
Kalau dipikir sacara logika, wajar saja jika seseorang tak mau memperlihatkan ujiannya, toh dia yang capek-capek belajar, begadang, bahkan mungkin merendam kakinya dalam sebaskom air. Tapi kita harus gunakan perasaan guys, bahwa kita adalah teman, kita harus saling membantu, apalagi saat dalam keadaan darurat seperti itu. Cukup kita yakin bahwa Allah Maha Melihat, Ia mengetahui siapa hambanya yang bersungguh-sungguh dan siapa yang biasa-biasa saja. Jadi tidak perlu “sekke’”.
Saat ujian, dan kita meminta jawaban dari seseorang, kita tidak pernah mengatakan “Bro, nomor 1-10 jawabanya apa?, nanti saya kasi uang 10.000 deh” karena memang keadaannya mendesak dan kita meminta jawaban karena mengaku sebagai teman. Yakin, teman yang baik akan membisikkan jawaban ke telinga, meski mungkin hatinya cemberut.
Itu kisah SMP dan SMA yang juga masih sering terkisah di bangku kuliah, yang semestinya sudah hilang karena kita semakin dewasa, tapi lagi-lagi aku tidak mau “munafik” karena aku pun demikian. Menyontek secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi, bahkan copy paste. Hal yang biasa-biasa saja menurutku.
Tapi tidak, jika seseorang menyontek, meminta tolong dengan cara yang tidak lazim, terlebih jika status yang dikalungi bukan sebagai siswa SMP atau SMA lagi.
Memang pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial. Saling membutuhkan dan perlu saling menolong, tapi please,,,,, jika mau minta tolong, minta tolong saja. Tak usah mengatakan “Kerjakan dulu tugasku, nanti saya bayar “kamu” 100ribu”. Preet, itu tidak semudah membalikkan telapak tangan guys. “kamu” kira aku tak punya harga diri. Seandainya “kamu” tidak mengatakan itu, mungkin saja aku akan mengerjakan tugasmu. Bukankah menolong itu tak perlu pamrih.
Atau jika setelah membantumu mengerjakan tugas, “kamu” mengajak ke kantin. Dan tiba-tiba “kamu” yang bayar (*mimpi). Itu hal yang sangat, sangat wajar sebagai ucapan terima kasih. Meski sebenarnya cukup “kamu” ucapkan terima kasih, bukankah Allah telah menjanjikan surga yang di bawahnya mengalirnya sungai-sungai kepada umatnya. Bukankah menolong itu tak perlu pamrih.
Atau jika aku yang meminta uang 50ribu sebagai hasil kerja kerasku menyelesaikan tugasmu, ya, mungkin juga wajar . Tapi jelas sangat tidak wajar bagiku jika “kamu” seolah-olah bisa membeli apa pun di dunia ini dengan uangmu. Apalagi jika “kamu” ingin seenaknya membeli hasil pemikiran yang bukan untuk dijual. Atau bahasa halusnya, aku yang buat tapi hak ciptanya “kamu” yang punya. Menjual tulisan, berbeda dengan menjual hak cipta.
Cukup kita jadi sahabat, tapi bukan sehabat dua, tiga hari saja (hanya jika punya tugas “kamu” menampakkan muka lusuhmu), maka kita akan saling membantu, tanpa harus memberiku uang. Persahabatan adalah tentang mengukir nilai tanpa harus “kamu” mengajakku berbisnis.

Begitukah Cara Kita Menghargai Persahabatan