Musim, Musik, dan Sebuah Esensi



           Musim dan musik adalah dua hal tak pernah sepakat untuk diciptakan se-ayah apalagi se-ibu, tapi selalu saja ada yang bisa memancing mereka bersepakat untuk mengunjungi manusia. Mereka mampu merasuki jiwa manusia, siapa pun yang ia kehendaki, siapa pun yang memintanya, mengobati hati yang pilu, atau malah sebaliknya, membuat manusia makin terpuruk dalam kesedihan, tak mampu berkutik.
Kala titik-titik hujan masih malu-malu membasahi tanah merah yang masih basah, juga angin yang agak enggan bertiup membawa bisik-bisik suara yang dilahirkan gesekan, petikan, maupun dentuman. Anak-anak manusia duduk dalam kerumunan, membawa rasa yang tak terdefinisikan oleh siapa pun, kecuali hatinya, juga tuhannya. Berjuang keras meramu dan menimbang sesuatu yang dapat mengindahkan warna, bukan hanya MeJiKuHiBiNiU, tapi lebih banyak warna dan lebih indah dari pelangi.
Jarum jam baru saja berjarak beberapa melimeter melewati angka satu, masih beberapa jam menuju “PERISAI UNPLUGGED”. Namun ada tangan tak terlihat yang menggerakkan tangan-tangan mahasiswa yang baru saja memasuki ruangan, membawa alat “bisu”, hujan pun tak mampu menahannya. Bunyi-bunyian mulai dikeluarkan dari alat “bisu” itu, di setel kiri kanan untuk menyamakan suara. Suara alat musik dan rinai hujan berlomba memperebutkan hati manusia. Mulai menyesakkan ruangan yang mungkin hanya berukuran 6x6 meter.
“Bukankah direncanakan untuk dimulai pada jam 4:20 sore di belakang himpunan (sekarang telah ditata sedemikian rupa menjadi taman kecil, disebut taman PERISAI)”, aku membisikkan ke telinga sendiri.
Sedang aku, sedari tadi telah merapatkan bokong di atas ubin himpunan, mengotak-atik portal akademik, yang selalu saja bermasalah setiap semester. Memilah milih mata kuliah yang mesti diambil bersama teman-teman, meski ujung-ujungnya kuhapus semua mata kuliah yang telah tercentang, kuurungkan inginku.
“Saya lagi Ahmad”, kata salah seorang teman yang mulai bosan melihatku cemas memandang portal. Kemudian ku serahkan saja laptop yang sepertinya juga mulai bosan ditatapku.
Ku buka lembaran kumpulan cerpen Sagra, kulanjutkan bacaan. Ini lebih baik dari pada sekedar duduk dan mengerutkan kening.
Dan benar kata orang yang entah siapa, “sambil nyelam minum air”, sambil baca juga menikmati musik. Dan itulah cara terindah menikmati musik. Musik yang dimainkan oleh teman-teman PERISAI.
Saat yang lain ikut menuangkan bisik-bisik suara ke dalam instrumen, maka aku lebih asyik membaca. Memang ia, aku malu karena suaraku hanya akan memekikkan telinga jika berpadu dengan mereka, belum lagi lirik yang tak kuhafal. Maka pilihan terbaik adalah terus menyapu kata per kata dalam cerita. Inilah caraku menikmati musik.
Are you sure, tidak merasa terganggu dengan suara-suara itu?”, tanya salah seorang yang berdiri di depanku.
Aku hanya cengengesan, karena aku malah menikmati keduanya, tak takut konsentrasi pecah. Dan semakin indah lagu yang dimainkan semakin terasa indah kisah kasih tokoh dalam cerita. Selama mereka tidak memainkan musik rock and roll atau metal yang memekikkan telinga, semua akan baik-baik saja di telingaku.
Aku menemukan esensi membaca saat ditemani oleh sebuah lagu yang dibunyikan pelan ataupun keras, juga ditemani titik-titik hujan yang memukul-mukul atap rumah. Mungkin ini mirip sebuah film yang diberi soundtrack untuk menambah sensasi ke penontonnya. Memang membaca tidak terlalu butuh lingkungan yang tenang, tapi cukup  tenangkan hati dan pikiran saja. Kurasa itu akan berhasil.
Maaf, aku harus pergi. meninggalkan acara yang sebenarnya belum dimulai, cukup sudah musik hari ini. Terimakasih telah menghibur.
Entahlah bagaiamana kelanjutan kisahnya. (Semoga segera terposting di www.perisai.org ). Tapi setidaknya aku berhasil mendapatkan beberapa gambar dari salah seorang teman saat acara berlangsung.




Musim, Musik, dan Sebuah Esensi