Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari

Musim, Musik, dan Sebuah Esensi

           Musim dan musik adalah dua hal tak pernah sepakat untuk diciptakan se-ayah apalagi se-ibu, tapi selalu saja ada yang bisa memancing mereka bersepakat untuk mengunjungi manusia. Mereka mampu merasuki jiwa manusia, siapa pun yang ia kehendaki, siapa pun yang memintanya, mengobati hati yang pilu, atau malah sebaliknya, membuat manusia makin terpuruk dalam kesedihan, tak mampu berkutik. Kala titik-titik hujan masih malu-malu membasahi tanah merah yang masih basah, juga angin yang agak enggan bertiup membawa bisik-bisik suara yang dilahirkan gesekan, petikan, maupun dentuman. Anak-anak manusia duduk dalam kerumunan, membawa rasa yang tak terdefinisikan oleh siapa pun, kecuali hatinya, juga tuhannya. Berjuang keras meramu dan menimbang sesuatu yang dapat mengindahkan warna, bukan hanya MeJiKuHiBiNiU , tapi lebih banyak warna dan lebih indah dari pelangi. Jarum jam baru saja berjarak beberapa melimeter melewati angka satu, masih beberapa jam menuju “ PERISAI UNPLUGGED ”.

Di Balik Benci

Kau lemah, Tak mampu mengunci benci yang tertata di matamu Juga tak kan kau teriakkan amarah yang telah memerah Ku tau, Didih darahmu tak pernah berarah kala gelisah makin membuncah Dan desah nafas yang terseok-seok tak berkelok Lelah karena ulah tengik yang tengil tak mengerti tangis Tapi kau diam, Dan hanya baris-baris sajakmu yang mampu membalas cerca Kau tak salah sayang. And stronger than ranger Tak terkalahkan

Begitukah Cara Kita Menghargai Persahabatan

Ini tentang uang, tapi bukan membahas Korupsi yang katanya dibenci oleh manusia. Ini memang tentang sahabat tapi bukan membicarakan seorang yang merebut pacar sahabatnya. Katanya “Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang”, tapi aku tidak mau “munafik” dan dengan lantang aku akan meneriakkan kepada Pemilik Segala bahwa “Ya, aku memang butuh uang, dan uang adalah salah satu hal yang bisa mengobati kegalauan”. Tapi, jujur aku paling tidak suka jika “seseorang mau membeli sebuah pertemanan dengan uang”, atau mungkin menghancurkan nilai sebuah pertemanan karena dinilai dengan uang. Kita masih ingat waktu SMP dan SMA dulu, kita paling benci dengan orang pelit yang tidak mau memberikan sepotong huruf pun jawabanya ke orang lain saat ujian, apalagi saat Ujian Sekolah dan Nasional. Dan mungkin serentak kita akan berlomba-lomba untuk mengucilkannya di kelas, juga membisikkannya ke orang lain, “Dasar dia Pelit”. Kalau dipikir sacara logika, wajar saja jika seseorang tak mau memperli

Yang Merindu

Malam selalu datang bersama sunyi, hanya bunyi-bunyian serangga kecil yang hidup di pepohonan sekitar rumah warga, juga di balik batu-batu kecil halaman rumah. Suara kendaraan yang melaju cepat, seolah-olah jalan hanya milik mereka, pemilik kendaraan bermesin. Warga kampung entah pada kemana. Aku juga bersembunyi. *Mungkin yang ku lakukan adalah ragu, atau mungkin mendekati kesalahan. Meninggalkan depan televisi yang telah menjadi ruang keluarga sejak barang “penipu” itu hadir di rumah ini beberapa tahun lalu. Dan mungkin ruang makan akan sedikit iri karena di sana lah dulu tempat curhat kami bersama keluarga, tempat Adik mengaduh tentang teman-teman lelakinya yang mulai mengusiknya, tempat Ayah bercerita tentang saman Gerilya, dan sebagainya. Di atas sofa merah meluntur berkapasitas tiga orang yang tidak seempuk dulu lagi, aku duduk menghadap kiblat kemudian mulai mengetik di atas meja. Bersembunyi tepat di bawah cahaya lampu yang dikerumuni serangga kecil, entah apa namanya, k