Sebelum Menulis - Hujan

Sebelum Menulis - Hujan




Hujan berlabuh di Desember, Desember segera berlalu, tahun segera berganti, tinggal menghitung jam, atau menghitung detik jika kau mampu. Di pergantian tahun, banyak menikmati hujan, banyak anak-anak muda yang mungkin berpura-pura menikmati hujan, memasang status sana-sini tentang hujan, meski sebenarnya ia resah karena pakaian yang tidak kunjung kering-bau lembab dan takut perayaan tahun baru yang tidak bisa ia nikmati bersama kekasih.

Pedagang jas hujan yang bertebaran di pinggir jalan juga ikut tersenyum ketika hujan membasahi ibu kota. Lain halnya pedagang petasan, kembang api dan terompet yang tidak kala banyaknya memenuhi pinggir jalan-jalan besar, di sepanjang jalan perintis kemerdekaan misalnya. Mungkin mereka mencaci maki hujan, petasannya akan rusak jika kena percikan air.

(Source: liriklaguanak.com)
Nanti malam bagaimana, Kita akan merayakan tahun baru atau merayakan hujan?

Bagi saya, apa bedanya malam tahun baru dengan malam-malam lainnya. Sama saja bukan? Saya selalu menikmati malam meski tidak semua malam bisa dilalui dengan baik. Pergantian tahun baru tidak perlu dirayakan.
Baca selengkapnya »
Merevisi Niat

Merevisi Niat



(Niat menentukan jalan kita)



Niat adalah pekerjaan hati. Tidak ada satu pun manusia yang tahu isi hati manusia lainnya, kecuali jika ia menceritakannya. Jika ia bercerita, pun belum tentu sesuai dengan hatinya. Orang yang katanya mampu membaca maksud hati seseorang, saya yakin ia hanya menerka-nerka.
Dalam masyarakat bugis, kita sering mendengar nasehat orang tua, keluarga, atau siapa pun yang menaruh perhatian dan kasih sayang kepada kita, “padecengi akkattamu” (perbaiki niatmu). Sepotong kalimat yang sering diucapkan ketika ada orang yang ingin melekukan pekerjaan atau bepergian.
Pemuda bugis yang berniat merantau untuk mencari nafkah, mengumpulkan uang untuk modal nikah dan uang panai misalnya maka ia akan diwanti-wanti oleh keluarganya untuk meluruskan dan memantapkan niat. Karena niatlah yang akan mengantarnya pada tindakan-tindakan dan perilaku di kampung orang di kemudian hari.
Dua orang pemuda yang bersama-sama merantau, berusaha bersama dan mendapatkan pekerjaan sama bisa saja mendapatkan hasil yang berbeda karena niat awal berbeda. Yang satu merantau karena betul-betul ikhlas ingin mencari ilmu dan mengumpulkan uang sedangkan satu lagi menyimpan niat lain dalam hatinya, mendapatkan kesenangan hidup yang tidak didapat di kampung halamannya. Niat menjadi salah satu faktor utama dari sekian penyebab lainnya.
Teringat potongan sebuah hadist, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.”
Demikian pula kita (saya) sebagai mahasiswa rantau, perlu merefleksi kembali dan meluruskan niat merantau dan masuk perguruan tinggi. Sudahkah didapatkan atau belum atau justru niat itu telah buram dalam ingatan dan dilupakan begitu saja karena ternyata ada hal yang lebih menarik di dalam prosesnya?
Yang namanya niat berarti harus berada di awal, sebelum kita mengambil tindakan. Tentu kita telah menimbang-nimbang kenapa memilih jurusan ini dan itu ketika masih di SMA dulu.
Saya ingin kuliah, memilih Sastra Inggris karena niatnya memang untuk belajar bahasa Inggris. Bukan karena saya tahu bahwa sastra adalah melakukan perlawanan (katanya). Dan saya belum paham dengan sastraan kala itu- maklum masih polos.
Bagaimana jika dalam prosesnya, tiba-tiba kita ingin merubah niat? Misalnya saya tiba-tiba lebih tertarik belajar sastra dibandingkan bahasa Inggris. “Ya, silahkan saja, niat memang perlu direvisi,” kata seorang sahabat.
Merevisi bukan hanya berarti mengganti, bisa juga menambahkan. Saya tidak perlu menggantikan niat belajar bahasa inggris dengan belajar sastra. Keduanya bisa dilakukan bersama. Ets, jangan lupa, restu orang tua perlu dipertimbangkan dalam merevisi niat.
Istilah lain yang memiliki makna berbeda adalah upgrade. Niat perlu diupgrade layaknya fitur-fitur dalam gadget. Diupgrade supaya sesuai dengan perkembangan tekhnologi.
Saya beranggapan niat agak mirip dengan visi. Keduanya sama-sama berisi tentang sesuatu yang bersifat imajinasi atau wawasan yang dimimpikan. Dan keduanya harus besar karena itulah yang akan mempengaruhi usaha kita. Seperti halnya visi, niat juga tidak boleh terlalu general, harus focus dan tajam. Misalnya kalau punya niat untuk berbuat baik, sebaiknya ditentukan berbuat baik yang seperti apa- membersihkan wc umum atau ingin berinfak, mentraktir teman-teman sejurusan.
Dalam berniat atau ber-visi, banyak orang menyimpannya dalam hati, ada yang menulis dalam secarik kertas, bahkan tak jarang yang melafaskan- bercerita ke orang-orang terdekatnya. Whatever, karena tidak ada ketentuan yang mengikat. Saya pribadi senang menulisnya pada sebuah buku, lalu menyimpannya baik-baik. Dibuka sewaktu-waktu.
Lantas apa niat saya menulis ini?


Jumat, 21 November 2014. Meluruskan niat memulai proposal.
Baca selengkapnya »
Nasib Tulisan-tulisan Kita di Musim Kemarau

Nasib Tulisan-tulisan Kita di Musim Kemarau




Kemarau pasti berlalu layaknya nasib tulisan-tulisan kita yang belum usai

(Gazali pd TOWR FLP Bantimurung)

Kali ini kucoba keluar kamar, menuju teras belakang. Sempit oleh barang-barang tidak terpakai dan sampah dimana-mana. Pembungkus makanan yang dibuang begitu saja oleh tetangga kamarku, maupun daun-daun lebar ketapang yang telah kering. Setidaknya tempat ini tidak begitu bau. Kamar saya di lantai dua asrama tidak terusik oleh orang-orang yang lalu lalang.
Angin musim kemarau berembus kencang, sejuk namun terasa kering menerpa wajah. Tampak danau yang juga makin mengering, padahal beberapa bulan lalu sempat meluap. Beberapa pohon mangga di tepiannya buahnya sudah hampir habis padahal baru saja mengkal. Kami sama-sama bersabar mengharap kemarau segera berakhir. Kemarau di bumi, juga kemarau di kantong para penghuni asrama.
Segera keluar dan menulis. Ada banyak hal di depan mata kita.
Ya, sejak beberapa bulan terakhir saya dihantui oleh beberapa tulisan yang meminta untuk segera dikerjakan dan diselesaikan. Mereka terlalu lama tersimpan memenuhi folder-folder penyimpanan laptop, juga pikiran. Beberapa kali saya mencoba memaksakan untuk menulis dan hasilnya adalah berupa coretan-coretan yang justru tidak berkaitan dengan yang semestinya. Mungkin itulah beberapa waktu terakhir ini, blog saya mulai ramai dengan postingan-postingan yang tidak saling berkaitan satu sama lain, kebanyakan hanya berisi hal-hal yang sedang bergejolak di pikiran.
(Rusunawa, Diambil dr belakang ramsis)
Hal lain ketika saya tetap memaksa melanjutkan atau mengedit tulisan sebelumnya adalah sebuah spasi, paragraf atau lembaran kosong setelah hampir sejam berada di depan laptop. Atau paling parah adalah air liur yang meleleh di sudut bibir setelah tertidur di atas meja.
Baik, hal pertama adalah tulisan ESAI LITERASI “Seorang Penyair” dan CERPEN “Sepasang Sepatu.” Dua naskah tersebut kutulis sudah hampir dua bulan lalu. (*Maaf, bukan naskah tapi tulisan. Naskah adalah karangan yang masih ditulis tangan, sedangkan saya menulis lewat laptop). Rencananya akan dikirim ke media. Berbagai referensi coba kukumpulkan dari berbagai situs, tapi entah mengapa pikiran masih sulit untuk menghubungkannya dalam tulisan.
Kedua, PROPOSAL SKRIPSI. Yang satu ini menggerogoti pikiranku bahkan sejak semester lalu. Ketika saya mengambil mata kuliah Seminar Praskripsi Sastra (SPS) (part 1), rencananya mau menganalisis drama Oscar Wilde “The Importance of Being Earnest.” proposalnya sudah fix, tapi ditolak dengan alasan terlambat mengumpulkan tugas pada dosen bersangkutan. Jadilah, nilai E pertama di transkrip.
Semester ini saya terpaksa harus mengambil mata kuliah SPS lagi (Part 2). Jika mau yang simple, saya bisa saja memasukkan proposal itu kembali. Namun kemudian saya berubah pikiran karena ternyata, check per check telah banyak mahasiswa sebelumnya yang mengkaji drama tersebut. Meskipun kajiannya beda, tapi tentu saya tidak mau dikatakan sebagai mahasiswa yang menambah “dosa” (seperti yang dikatakan salah seorang dosen).
Setelah bertapa di Gua Hira selama tiga tahun, akhirnya saya memutuskan untuk menganalisis drama George Bernard Shaw “Pygmalion”. Karya yang menurutku cukup menarik dan alasan utama karena baru satu orang yang mengakajinya. Skripsi oleh Armin Hari pada tahun 2002. Ia mengkaji aspek romance and myth drama tersebut. Saya sangat suka dengan tulisannya apalagi ketika dikaitkan dengan kisah Galatea pada mitologi yunani dan kisah Pinokio.
Bahkan, saya mencoba mencari akun fb Armin Hari dan mengiriminya permintaan pertemanan setelah sebelumnya mengirimkan pesan yang berisi ketertarikan saya pada tulisan beliau. Permintaan di approve tapi belum ada balasan pesan. Sebenarnya saya berharap, bisa sharing dengan beliau tentang skripsinya atau bahkan diberi rekomendasi judul skripsi (*ngarep).
Maklum saja, saking lamanya bertapa hingga saya belum juga mulai mengerjakan proposal padahal perkuliahan segera memasuki pertemuan ke 11. Alasannya karena saya belum “serius.” Bahkan teks dramanya belum selesai saya baca, masih sisa enam lembar. Juga ketika ke perpus saya lebih senang membaca hal lain dari pada memandangi deretan skripsi yang menyesakkan mata.
(Musdalifa pd TOWR FLP, Malino)
Jujur, saya selalu berdoa agar dijauhkan dari sifat malas supaya bisa segera mengerjakan proposal. Tapi sepertinya saya tidak begitu malas, hanya saja masih susah fokus. Padahal teman-teman di kampus maupun di asrama selalu memberi semangat. Saya juga terlalu suka sering bercerita seperti pada tulisan ini dari pada mengerjakan proposal.

Begitu cepat matahari bergeser ke barat padahal ia baru saja di atas kepala. Demikianlah waktu yang akan membuai kita (diriku) jika tidak segera bergerak menyerjakan PROPOSAL SKRIPSI.
Saya segera mengakhiri tulisan meski sebenarnya saya belum puas bercerita. Dan seorang cleaning service perempuan memanjat pohon mangga tepat dibelakang kamar-ku. Dua temannya yang juga perempuan menunggu di bawah. “Janganko sebut namaku nah! Jatuhka nanti,” kata si pemanjat. Saya tersenyum. Seperti inikah emansispasi wanita yang selalu digembar-gemborkan.
Ramsis Unhas, 8 November 2014, menunggu hujan di sore hari.
Baca selengkapnya »
Menjemput Matahari

Menjemput Matahari



(Matahari pagi membelah gunung Singgalang dan Tandikek)
Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman terletak agak jauh dari kota Pariaman. Tapi jangan tanyakan soal keindahan, keelokan, kecantikan, ataupun ketampanannya.

Liku-liku Sungai Ja'niah (Jernih)  membelah nagari Sikucur. Airnya Jernih dan begitu segar, menjadi sumber air utama di sana. Mandi, mencuci, bahkan untuk memasak (setelah ditampung beberapa saat). Sungai ini juga dipenuhi ikan Larangan. Ikan yang menurut kepercayaan penduduk lokal hanya bisa ditangkap pada waktu-waktu tertentu, sayang saya tidak mendapat jawaban ketika kutanyakan mengapa. Saya maklum dengan sesuatu yang begitu diyakini dan dipercaya masyarakat. Mereka tak memiliki penjelasan tapi begitu yakin, takut ada sesuatu terjadi jika melanggarnya

Korong Durian Kadok adalah salah satu korong (dusun) tertampan di Sikucur. Liat saja ini foto-rotonya.
(Me)

(Kak Resi)






(Ardi)
(Iit)










Jadi, satu hari sebelum penarikan dari lokasi KKN, tepatnya tanggal 24 Juli 2014 setelah pulang dari kota Pariaman untuk sahur. Kami tak mau melewatkan salah satu momen indah di lokasi KKN.

(bukan cabe-cabean alias lado-ladoan)

(Selfie sama sapi)
 KKN Tematik kerja sama UNHAS-UNAND memberikan nilai plus dan kesan tersendiri.








Walaupun kami harus melakukan banyak aktivitas di sungai: mandi, mencuci pakaian dan piring, juga mengambil air untuk dibawa naik ke posko tidak lah masalah karena demikianlah KKN sesungguhnya (bede') merasakan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Dan kami percaya, akan selalu ada sesuatu hikmah dibalik semua itu.

(Surau Gadang atau Masjid besar yang berada di bukit, pinggir sungai. Di belakang masjid ini adalah posko kami)

(Menemukan sebutir telur ayam di pinggir kali, kemudian kami mencoba mengamatinya, dan tidak berani mengambilnya)



Baca selengkapnya »
Sebuah Pertemuan, Keluarga DKI

Sebuah Pertemuan, Keluarga DKI



Taukah kau rindu itu apa?
Tataplah jernihnya sungai Ja’niah
Yang membelah jalan dekat rumah kita dulu
Anak-anak sungai bertemu kemudian menyatu
Airnya jernih terus mengalir
Seperti itulah rindu.

Beberapa lelaki duduk di teras rumah joglo itu, bernyanyi sambil memainkan gitar. Rumah kedua di samping kanannya juga terbuat dari susunan batu bata dengan model yang sama, sekelompok wanita bergerumul di depan pintu masuk. Menatap kami (Aku dan Sofie) atau mungkin sekadar memandangi baju kami yang berwarna mencolok, merah hijau. “Mahasiswa KKN UNHAS” tertulis pada dada kanan dan ayam jantan bertengger kokoh di lengan kanan. Aku diliputi rasa canggung, deg-degan, dan sedikit cemas ketika pertama kali kulangkahkan kaki turun dari motor. Tak seorang pun yang kukenal kecuali Sofie yang datang bersamaku, begitu pula Sofie. “Selamat datang di Nagari Sikucur. Semoga betah selama KKN,” gumamku.
Mereka menyambut baik, meski kadang saling berbisik dalam bahasa yang tak mampu kuterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aku diliputi beberapa pertanyaan dari mereka, juga dari diriku sendiri. Bagaimana akan kulewati KKN ini selama satu bulan bersama orang-orang baru? Kucek pemberitahuan pada Hp, namun tak kudapati apa-apa dan takkan pernah ada. Tidak ada jaringan. Selamat!
Oh, maaf. Itu bukan posko kami. Itu posko korong (kelompok 3) yang nantinya akan menjadi tempat kita sering kumpul. Ada 5 korong yang akan ditempati mahasiswa KKN di Sikucur, alhasil aku berlainan Korong dengan Sofie. Korong 4 adalah takdirku dan ia di Korong 1. Hari semakin sore, kembali kuangkat koper dan tas. Motor melaju ke poskoku yang sesungguhnya. Sampai bertemu lagi Sofie!
Beberapa menit melewati jalan beraspal, motor berbelok ke jalan kerikil berdebu dan sempit, kiri kanannya adalah sawah dan beberapa bangunan yang belum jadi. Melewati sebuah jembatan dan sedikit pendakian hingga tibalah pada rumah sederhana di atas bukit. Dindingnya kayu dan tripleks yang disusun rapi dan dilubangi bebarapa titik sebagai jendela. Satu set kursi dan dua buah karpet dipasang pada lantai semen ruang tamu, juga sebagai ruang serba guna.
Kudapatilah mereka, orang-orang yang akan bersamaku selama sebulan penuh. Yang akan menjadi teman posko KKN, teman curhat, sekaligus teman jalan-jalan (ngarep). Tempat baru dan orang-orang baru. Ah, Aku tak perlu menjadi orang baru pula, mereka akan memahami aku yang apa adanya.
Hal pertama yang kulakukan tentunya adalah memperkenalkan diri dan mengenal mereka. Maklum saja, mereka telah saling kenal karena berasal dari kampus yang sama dan telah melalui pra-KKN. Mengunjungi lokasi KKN sama-sama serta telah merencanakan program kerja. Serta mereka tiba di posko sehari lebih awal dari pada aku. Logat Makassarku kutanggalkan untuk sesaat.
Mereka, mahasiswa UNAND tidak kalah modern seperti mahasiswa UNHAS, namun satu hal yang sangat kukagumi: kecintaan mereka terhadap bahasa sendiri, Minang. Entah di kampus atau di luar mereka lebih sering bercakap dalam bahasa Minang dari pada menggunakan bahasa Indonesia. Aku kesulitan mencerna pembicaraan mereka, tapi itulah tantangannya. Lagi pula mereka tak pernah keberatan untuk menjelaskan maksudnya. Dan belajar bahasa Minang adalah salah satu tujuanku mendaftar KKN ini (KKN Tematik Sumatera Barat, UNHAS-UNAND).
Aku banyak diam dan menyimak pada hari-hari pertama. Berusaha menyesuaikan dulu. Mereka juga sangat menghargai dan mengerti aku sebagai mahasiswa Makassar. Mereka selalu bertanya tentang kebiasaan orang-orang Makassar bahkan awalnya agak segan meminta tolong ke aku, sebaliknya aku yang segan kalau tidak membantu.
Tapi sepertinya aku masih merasa lebih beruntung dibanding mahasiswa Unhas di nagari lainnya, teman poskoku tak semuanya asli minang dan masih lebih gaul berbahasa. Tak selalu berbahasa Minang. Ah, Iyyokah? Baik, aku harus memperkenalkan mereka.
(Aku, Ardi, bang Ari dan It)
Yudhistira Asri Poetra-dipanggil Ardi, ketua korong kami (semacam kordes) adalah orang paling sering mengajakku jalan keluar dari posko, terutama pada awal-awal KKN. Beli air galon dan bahan buka puasa, mandi atau pun sekadar kumpul di Korong lain. Dan tentu selalu memberi lampu hijau jika aku ingin jalan-jalan bersama yang lain. Pokoknya pengertian. Ia jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP UNAND.
Iit (Itmardi Lismana), jurusan Ekonomi Pembangunan, FE juga sama baiknya. Ngajak jalan, dan sebaginya. Dialek Soloknya membuatku kadang susah menangkap pembicaraannya apalagi saat di atas motor. Tapi dia guide yang baik, selalu memberikan penjelasan tentang tempat-tempat yang dilalui dan dikunjungi misalnya ketika ke Bukit Tinggi.
Bang Ari (Yuari Kamizal) paling suka melucu kayaknya. Sering mencairkan suasana di posko dengan cara mengganggui Icha, mencandaiku juga kadang-kadang. Selalu butuh tambahan waktu 5 menit kalau dibagunkan sahur. Tapi dia juga rajin dan strong naknya. Ia 2010 di jurusan Teknik Sipil. Eh, Ia senang memanggilku si Somad. :) 
(Kak Resi, Gabby, Icha, Eby)
Resi Zulyani, kami memanggilnya Akak Resi, angkatan 2010 Pendidikan Dokter yang sementara KOAS. Paling dihormati dan disegani di posko. Juga paling dekat sama anak-anak kecil dan ibu-ibu Durian Kadok. Selalu sabar dan santai mengahadapi candaan cobaan bahkan sebelum negara api menyerang (apa?)
Icha, alias Jihan Faradisha. Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang jas almamaternya dipenuhi lambang organisasi ini dan itu, lengan kanan dan kirinya sudah hampir penuh. Cengeng, kyaknya tidak. Tapi manja iyya. Hahahha… (maaf Ica, bukan aku yang bilang kok). Lucu juga iyya kyaknya. Dan pastinya asyik didengar bercerita.
Fabby Catherine, Eby. Paling jago masak, cukup menelpon mama terus minta resep, jadilah menu berbuka puasa kami. Beberapa kali jatuh sakit di posko, tapi sebenarnya dia strong, iyyalah anak UKM Olahrahga. Semoga sekarang sehat terus ya Eby.
Geby- Gabby Chikita, jurusan Ilmu Hukum. Paling pendiam diantara kita, tapi ia juga sering gabung kalau lagi bercanda-bercanda. Ardi, sabar ya… (Hahaha…. peace Ardi).
Dan terakhir adalah Yoga. Kucing kesayangan kami yang selalu menemani kami tidur. Sahur pun ia bangun. Diam-diam ia paling suka pulang tengah malam lewat jendela. Ujung-ujungnya, perutnya membesar. Hamil. Tapi sayang kami tidak mendapatkan siapa pelakunya sebelum kami meninggalkan lokasi KKN. Mungkinkah kau sudah melahirkan sekarang? Maafkan aku tak bisa hadir di acara akikahan anak-anakmu. (sad)
Lokasi posko kami yang agak terpencil, hanya satu rumah di samping posko kami, membuat kami lebih senang mengahabiskan waktu di sana, apalagi pada minggu pertama. Dan fasilitas jaringan 3G dibandingkan Korong lain menaiknya rating posko kami sebagai paling sering dikunjungi. Hahaha…
Tepat di sudut depan kanan posko kami ada masjid gadang (besar) yang begitu megah, karena berada tepat di atas bukit (Posko kami tidak nampak dari jalan utama karena terhalang oleh masjid). Masjid itu dibangun setelah bencana gempa di tahun 2008 dengan menelan biaya miliaran dari bantuan Oman (katanya). Namun sayangnya digunakan hanya untuk shalat jumat. Atapnya mulai bocor.
(Buka puasa minggu pertama)
Pohon durian dan jengkol yang berbatang besar dan tinggi juga banyak tumbuh liar di depan dan kiri posko sehingga monyet dan tupai begitu mudah ditemui kala pintu rumah dibuka. Pohon manggis, sawo, duku, dan jeruk nipis juga ada di sekitar tempat tinggal kami. Kami sungguh beruntung karena, waktu KKN adalah musim durian, duku, dan manggis sehingga Alhamdulillah bisa dinikmati.
Ada banyak hal telah kita lalui selama KKN dari yang menyedihkan, menakutkan, menggalaukan, hingga ketawa-ketawa bareng. Senang bisa mengenal kalian, semoga kelak kita bisa bertemu kembali, melepas rindu yang tak kan pernah usai.

*Korong kami hanya bernama Durian Kadok, “Indah” hanyalah tambahan untuk memberinya singkatn DKI
Baca selengkapnya »

Sosial Media