Langsung ke konten utama

Bahasa Pengaruhi Mata Kanan


Bahasa tidak hanya digunakan sebagai sarana berkomunikasi dan berhubungan dengan ucapan saja. Respon mata dalam memandang sesuatu juga dipengaruhi oleh bahasa. Akan tetapi, pengaruhnya hanya untuk mata kanan. Para peneliti di University of California menguji hipotesis, yang menyatakan bahwa bahasa berperan dalam mengatur persepsi atau pandangan seseorang, dengan cara melakukan serangkaian tes warna. Dari tes tersebut, mereka menemukan bahwa manusia mampu mengenali warna lebih cepat dengan mata kanan dari pada mata kiri. Hasil temuan mereka dimuat dalam Proceedings of the National Acedemy of Sciences, mereka menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena tubuh bagian kanan diproses oleh otak yang mengendalikan bahasa. Teori bahwa bahasa mempengaruhi persepi adalah bagian dari hipotesis Sapir-Whorf dalam ilmu bahasa. Menurutnya, terdapat hubungan sistematik antara bentuk tata bahasa dari perkataan seseorang dengan bagaimana pemahaman orang tersebut terhadap dunia dan tingkah lakunya. Misalnya, orang yang menggunakan bahasa Inggris membedakan dengan jelas batas warna hijau dan biru tidak seperti orang Mexico yang berbahasa Tarahumara. Mereka tidak membedakan penyebutan kedua warna tersebut. Dalam penelitian itu, para peneliti meminta tiga belas orang untuk mengidentifikasi warna sebuah lingkaran diantara lingkaran-lingkaran warna lainnya. Pada percobaan pertama, seluruh lingkaran berwarna biru dan salah satunya dengan tingkat ketajaman berbeda. Dalam percobaan kedua, digunakan dua warna, hijau dan biru. Para sukarelawan ternyata lebih cepat mengenali perbedaan warna pada percobaan kedua jika menggunakan mata kanannya. Adapun pada percobaan pertama tidak ada perbedaan kecepatan. Para peneliti yakin hal tersebv terjadi karena kedua warna memiliki nama yang berbeda pada percobaan kedua. Selain itu, otak mampu mengidentifikasi warna lebih cepat ketika terlihat di daerah penglihatan tertentu. Untuk memperkuat temuan ini, tim peneliti melakukan percobaan lagi, tetapi meminta para sukarelawan untuk berlatih mempengaruhi fungsi bahasa di otak. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan kecepatan mengenali warna antara mata kanan dan mata kiri berkurang. Para peneliti menyatakan, temuan ini mendukung hipotesis Whorf, tetapi hanya berlaku untuk mata kanan. Penelitian sebelumnya juga pernah dilakukan untuk mengetahui pengaruh bahasa terhadap persepsi, namun dengan meminta jawaban ya atau tidak dalam penelitian tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Kesenjangan Sosial Selalu Ada, Pendidikan Tidak Pernah Membedakan Kelas

Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan".Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari…

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.
Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.
Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.
Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingg…

Silas Papare

Membuat puisi bukan perkara mudah, bahkan ketika diminta menulis puisi pahlawan untuk anak SD pun saya dibuat sedikit resah. At the end, karena tuntutan jadilah puisi se-worse ini. Saya selalu saja gagal menyusun kata-kata indah. Ah, untuk pahlawan, seperti kata Silas Papare, ia tak butuh pujian (kata-kata indaha), ia hanya ingin perjuangannya diteruskan. I present this poem for my nephew there, in Papua and also for those who had sacrificed for Indonesia, for us. Mungkin tak banyak yang mengenal namamu Engkau hanyalah seorang perawat yang dulu bekerja pada Belanda Lantas Engkau berbalik menentang mereka Kau memberontak melawan mereka yang ingin merebut tanah ini Kau tak mengenal lelah meski keringat mengucur di wajahmu Kau terus berjuang meski dikurung dalam penjara Hingga kau berhasil mengusir Belanda dari tanah ini Kau menyatukan Papua ke dalam NKRI Silas Ayari Bonari Papare Tanpamu, mungkin kami tak bisa berpijak di tanah Indonesia Tanpamu, mungkin kami tak bisa belajar Bahasa In…