Kabar Cemas

Aku cemas, maka Aku menulis; cemas bukan berarti kita diliputi rasa takut, karena cemas semestinya mendorong kita menyelesaikan masalah

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2

Masa-masa Galau Setelah Menyelesaikan S2


Aberdeen Kabar Cemas Ahmad Mdi


Alert: Jika kata 'galau' terkesan pesimis, alangkah baiknya menyebut dengan 'masa-masa (harus) penuh kesabaran'.

Berbulan-bulan berlalu setelah menyelesaikan studi dan tiba di Indonesia sempat membuat cukup galau, lebih galau dari pada masa-masa setelah S1 karena (1) tanggung jawab lebih besar dan (2) teman seperjuangan tidak seramai selepas S1 dulu. Berusaha ikut kegiatan ini itu – setidaknya bisa berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain – dan mencari peruntungan ke sana sini.

Mungkin saya terlalu santai ketika baru tiba pada awal Februari 2018, belum terlalu memikirkan kerja, bahkan tidak juga mengajukan penyetaraan ijazah LN ke Dikti. Saya mengisi masa-masa awal dengan sharing baik dengan teman-teman FLP maupun di luarnya perihal pengalaman kuliah di luar negeri, dan tentu perihal bagaimana menulis di media bisa memudahkan mendapatkan beasiswa LDPD.

Awal Maret saya mendaftar unpaid internship di Kedutaan Besar Australia Jakarta. Aplikasi diproses cukup lama sehingga baru bisa memulai program di akhir Mei. Karena ini ‘unpaid’ jadi beberapa upah yang diberikan jelas sangat tidak cukup apalagi transportasi Makassar-Jakarta tidak ditanggung. Namun saya memberanikan diri mengambil kesempatan ini karena departemen yang ditawarkan memang hal yang cukup saya senangi: Media and Strategic Communications (Digital Diplomacy), dan waktu itu saya pikir tidak ada salahnya mencoba dengan segala konsekuensinya. Kenyataannya, ada banyak sekali hal baru yang bisa didapatkan.

Selama kurang lebih delapan minggu di Jakarta, akhir pekan lebih sering diisi dengan mengunjungi Perpusnas, bukan untuk membaca tapi untuk menyelesaikan aplikasi lamaran kerja, beruntung ada teman-teman sepenanggungan di sana. Karena keinginan mungkin terlalu tinggi namun tidak disokong oleh cukup pengalaman, aplikasi dari British dan US Embassy hingga beberapa international NGO tidak pernah mendapat balasan. Jodohnya tidak di sana. Aplikasi yang saya daftar setidaknya melatih writing saya, karena hampir semua meminta esai dalam bahasa Inggris, cukup panjang pula.

Internship selesai, saya memutuskan kembali ke Makassar saja. Kabar penerimaan CPNS setidaknya membuat saya tidak bisa diam. Saya mengisi banyak kekosongan dengan belajar soal-soal cpns, tentu sambil tetap melamar kerja yang sesuai. Meskipun ada aktivitas waktu itu, tetap saja pikiran saya tidak bisa tenang dengan ketidakpastian. Saya menyelesaikan pendaftaran CPNS setelah pertimbangan panjang lebar mau daftar dimana, lalu kembali mempersiapkan tes seperti biasa.

Beberapa minggu sebelum tes, saya tiba-tiba sakit dan harus operasi usus buntu padahal tidak ada gejala sebelumnya hingga sehari sebelum operasi. Semua serba tiba-tiba. Tapi saya berpikir, oke, ini mungkin memang waktu yang tepat, sakit saat sedang tidak ada kegiatan dan kesibukan apa-apa. Anggap saja penggugur dosa. Masih ada waktu untuk membaik sebelum tes SKD meski tak bisa banyak persiapan lagi.

Di tengah ketidakpastian pekerjaan dan masih proses recovery operasi, saya malah menerima amanah sebagai ketua FLP Sulawesi Selatan selama dua tahun ke depan. Pilihan sulit, tapi saya harus selalu siap dengan konsekuensinya. 'Sebagai awardee LPDP, harus mengabdi dan berkontribusi untuk bangsa,' pikir saya. Meski kecil, dengan menerima amanah tersebut, saya menyimpan banyak harapan supaya bisa memajukan literasi, khususnya membaca dan menulis.

Saya tidak lulus passing-grade SKD. Dan sungguh menggalaukan. Orang-orang mungkin melihat saya masih tetap tenang tapi dalam kepala betapa kalutnya. Saya belum ada rencana B, berat juga untuk mendaftar kerja di luar Makassar karena baru saja menerima amanah dari FLP Sulsel. Saya tahu teman-teman FLP tidak pernah membatasi dan mengikat saya untuk keluar, tapi betapa tidak amanahnya saya jika pergi sebelum melakukan apa-apa.

Dalam masa yang serba tidak karuan, pengumuman perankingan SKB setidaknya memberi sedikit harapan, meski nama saya ada di urutan kedua. Saya harus mantapkan persiapan untuk tes bidang, meskipun saya bukan alumni kampus tersebut (yang saya daftar), setidaknya harus tampil baik. Yang saya lakukan adalah meminjam buku-buku dan file presentasi teman, bahkan berkali-kali latihan mengajar di depan mereka. Thanks to all of them.

Meski demikian, saya tidak cukup tenang menghadapi SKD karena masih kurang persiapan, terutama psikotes. Bahkan sehari sebelum tes, saya harus disibukkan oleh pelantikan dan upgrading FLP. Kegiatan ini juga tidak bisa ditunda lagi karena terlanjur disepakati jadwalnya. Tapi seperti biasa, teman-teman di sana tidak pernah memaksa saya bertahan di upgrading dan selalu meminta saya menyiapkan SKB CPNS saja. Sangat tidak baik jika saya meninggalkan forum, jadinya menyusun presentasi micro-teaching sambil dengarkan materi. Seharian penuh di hari sabtu, sedangkan hari minggu saya minta sampai sore saja karena besoknya harus ikut psikotes.

Memang tes yang kedua ini cukup lancar, tapi bagaimana hasil akhirnya tetap bisa ditebak. Perasaan optimis dan lebih banyak pesimis bergantian memenuhi kepala. ‘Kalau tidak lulus tidak apa, belum rezeki,’ pikir saya. Tapi di lain waktu saya terus dipenuhi pertanyaan, ‘kalau tidak lulus, selanjutnya apa ya?’ Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali doa, karena katanya hanya doa lah yang bisa mengubah takdir.

Kabar baik setelah membuka pengumuman Kemenag. Kebetulan malam itu Ibu baru pulang pengajian, ia duduk di samping saya lalu menceritakan pengajian yang baru pertama kali ia ikuti. Saya tidak memberitahunya bahwa saya sementara membuka pengumuman hingga kedua tangan saya memeluk tubuhnya dan berbisik, ‘Ma, saya lulus.’

Saya pernah berjanji ke LPDP lewat esai saya bahwa setelah menyelesaikan studi, saya akan kembali ke Indonesia menjadi dosen dan penulis. Semoga kedepan ini, menjadi dosen CPNS di UIN Alauddin, menjadi langkah awal untuk mewujudkan hal tersebut. Terima kasih doanya. Karena tanpa doa, tanpa harapan, kita tidak berarti apa-apa.
Baca selengkapnya »
Catatan Singkat dalam Bising Perpustakaan

Catatan Singkat dalam Bising Perpustakaan



Memasuki perpustakaan daerah Kabupaten Soppeng untuk pertama kalinya: lebih terasa seperti gedung perkantoran pemerintah daripada perpustakaan.

Begitu memasuki pintu seorang pegawai yang sedang duduk di meja resepsionis berdiri menyambut namun hanya dengan tatapan, tanpa kata. Ia pun baru bicara setelah saya yang memulai. Dengan terbata-bata – sepertinya ia bukan orang yang biasa atau sering menyambut pengunjung perpustakaan – ia meminta saya menyimpan tas di lemari yang cukup kecil untuk disebut sebagai rak penyimpanan. Ketika bertanya, ia menjawab kurang tegas, ragu, sehingga saya harus mengklarifikasi kembali.

Setelah mengeluarkan laptop, mengisi daftar pengunjung yang setidaknya sudah tidak konvensional lagi, saya melangkah melewati jejeran rak buku menuju meja baca, menyimpan laptop.
Perpustakaan ini terlalu sempit untuk menampung berak-rak buku. Rak tidak sesak oleh buku namun berdiri terlalu berhimpit-himpitan satu sama lain. Celah antar rak sangat kecil. Untungnya, tubuh saya cukup ramping untuk bisa dipaksakan berada di antara rak. Mencari dan memilih buku tentu tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Apalagi untuk melihat buku pada baris paling bawah, saya harus jongkok, tapi kenyataannya beberapa lokasi tidak memungkinkan saya untuk jongkok saking sempitnya.

Menemukan buku-buku berdebu tentu hal yang lumrah. Lumrah bagi perpustakaan yang sering tak dikunjungi, tak disentuh dan tak dijamah buku-bukunya. Termasuk di sini, buku berdebu dan masih tersusun rapi. Yang berdebu bukan hanya buku, bahkan rak-rak kayu pun demikian. Padahal sepertinya cukup banyak pegawai di sini. Tapi kita tidak seharusnya menyalahkan mereka sepenuhnya, namun menyalahkan diri sendiri, diri kita masing-masing, yang tidak melirik perpustakaan. Pun saya, hampir 26 tahun lahir dan besar di Soppeng, namun baru pertama kali ke sini.

Hari ini senin, 14 januari 2019, saya tiba sekitar jam 11 pagi. Mungkin karena ini perpustakaan ramai.
Perpustakaan ini ramai dan bising, namun bukan oleh pengunjung tapi oleh pegawai yang saling bercakap. Suara mereka memenuhi ruangan yang sempit ini. Tepat di samping kanan, tempat saya duduk saat ini ada empat staf yang membicarakan hal-hal sederhana perihal kehidupan sehari-hari yang sepertinya sangat mengasyikan.[1] Belum lagi pegawai-pegawai di pojok lain. Dalam hitungan jari saya ada lebih dari 13 orang, sebagian besar perempuan, wajar jika cukup bising. Sebuah meja di belakang saya – kami di antarai oleh beberapa rak –  juga sepertinya sedang asyik dengan permainan hp hingga suaranya sampai ke telinga saya.

Mungkin saya salah memilih posisi duduk. Tapi Ah, tidak. Semua posisi duduk, di pojok mana pun, sama saja. Tidak ada ruangan-ruangan khusus untuk pengunjung. Semua adalah ruang “diskusi”. Jika saja saya di perpustakaan kampus University of Aberdeen yang dulu, maka saya adalah seorang yang terjebak dalam ruang diskusi dan membutuhkan ruang baca atau ruang diam.

Sangat disayangkan, jumlah pegawai tidak sebanding dengan jumlah pengunjung. Hanya saya dan dua orang lain duduk tepat di depan saya.[2] Sama seperti saya, mereka juga menikmati saja  mendengar suara-suara bising. Mereka tidak bersuara kecuali suara keybord laptop yang sesekali terdengar.

Untuk memperoleh ketenangan kita tidak harus berada di tempat yang sunyi, bukan? Kita bisa saja tenang di tengah keramaian. Begitu pula ketika berada di sini, meski telinga saya cukup sesak oleh sekelompok ibu-ibu tepat di samping kanan saya yang berbicara cukup cepat dan keras tentang masakan spesial yang telah dan akan mereka buat, saya masih bisa menenangkan pikiran. Malah kadang-kadang jadi inspirasi. Ha!

Sayang sekali ini tidak berlangsung seterusnya. Mungkin telinga saya lelah. Ketika suara mereka tidak bisa lagi membantu melancarkan tangan saya untuk mengetik – atau mungkin memang saya yang jenuh – saya hentikan catatan ini. Saya pasang headset ke telinga,[3] lalu membaca kumpulan karya sastra terjemahan Rusia yang dialihbahasakan oleh Prof. Dr. H. Moh. Tadjuddin, M.A.

Ternyata  beberapa cerpen dalam buku ini, salah satunya Catatan Harian Orang Gila yang satu-satunya bisa saya selesaikan di sini, adalah sumber inspirasi Budi Darma dalam menulis novel Olenka yang saya baca beberapa waktu lalu.
Mungkin itu pula yang mendorong saya secara tidak sadar memilih buku ini dari rak kesusastraan.



[1] Saya menoleh ke kanan setelah menulis catatan ini (sebelum duhur), ternyata jumlah mereka sekarang ada enam. Saya kembali menoleh ke kanan saat mengedit catatan ini sebelum diposting (2.30pm), masih ada empat orang.
[2] Menjelang jam 12 siang, kedua orang laki-laki dan perempuan itu meninggalkan perpustakaan, membiarkan saya sendiri menikmati perpustakaan. Setelah jam istirahat, dua pengunjung lain datang.
[3] Bahkan ketika musik saya mainkan keras-keras suara mereka pun masih kedengaran. Apalagi ketika seorang perempuan mengangkat telepon berbicara kepada seseorang. Bagaimana pun tetap mengasyikan.
Baca selengkapnya »
Janji Sebelum Matahari Terbit

Janji Sebelum Matahari Terbit





'Ini rahasia besar, tak seorang pun yang boleh tahu selain kamu. Sebelum matahari terbit, segera temui saya di antara deretan buku tua lantai empat perpustakaan. Jika petunjuk ini membuatmu bingung, cobalah lihat ke laut, ke arah matahari terbit. Semoga bisa membantumu. Ingat! Kamu harus jadi yang pertama menemuiku.'
Baca selengkapnya »
Sembunyikan Ibu Jarimu, maka Ia Takkan Berani Padamu

Sembunyikan Ibu Jarimu, maka Ia Takkan Berani Padamu



Petualangan mendorong sepeda pada POSTINGAN SEBELUMNYA masih berlanjut.

Meski mendorong sepeda sejak tadi, namun sama sekali tidak ada keringat entah karena dinginnya udara atau bisa juga ini tanda kurang sehatnya saya, seperti yang pernah dikatakan salah seorang teman ketika kami sedang memakan makanan pedas dan ia sudah bercucuran keringat sementara jidat saya masih kering-kering saja meski lidah sudah seperti terbakar. Entah!

Hal yang paling saya sukai—seperti anak kecil yang menjumpai perosotan­—adalah ketika menemui jalanan menurun. Bisa langsung duduk di saddle, membiarkannya melaju tanpa harus meroda.

Saya berbelok ke arah kanan, keluar dari jalan raya menuju jalan setapak. Suara aliran air mulai terdengar, semakin saya melangkah semakin jelas pula hingga dengan jelas tampak sungai dikelilingi pohon-pohon besar tak berdaun. Indah seperti di film-film petualangan. Sambil melangkah saya terus memperhatikan layar hp, ah, aplikasi Maps mengecewakan, dari gps-nya saya sudah berdiri di tengah jembatan di atas aliran sungai, tapi pada kenyataannya kaki masih memijak di jalan yang tersusun dari paving block tersebut. I couldn’t find any bridge. Kecewa dengan itu, saya pun mendekati aliran sungai setelah meletakkan sepeda begitu saja di tepi jalan. Suara air cukup menenangkan. 

Sebenarnya ingin sekali saya merasakan air sungai yang entah seberapa derajat dinginnya itu, tapi tiba-tiba yang muncul di pikiran adalah jangan sampai tiba-tiba ada buaya di sungai ini lalu menerkam tangan saya sebagai sarapan pagi mereka, ngeri. Ah, ini karena kebanyakan nonton film­. Makanya, saya terus saja berjalan sambil menikmati. 

Semakin saya berjalan mengikuti pola jalan setapak yang sepertinya terbentuk dengan sendirinya setelah berkali-kali dilalui manusia, semakin terasa nikmat udara dingin menembus kulit. Tiba-tiba seekor anjing hitam besar dari depan berlari ke arah ku sambil mengonggong, taringnya nampak jelas dengan kedua telinga tegak ke atas. I don’t know anjing jenis apa—di Aberdeen terlalu banyak anjing dari yang paling nge-gemes-in sampai yang paling sangar.

Karena pergerakannya sangat cepat, saya cuma bisa diam, tegak, dan tak lupa saya mengepalkan kedua tangan dengan posisi mengenggam ibu jari sebagaimana yang pernah diajarkan oleh entah siapa ketika saya masih kecil bahwa kalau lewat di depan anjing jangan lari tapi cukup sembunyikan kedua ibu jarimu, maka ia takkan berani.

Pasrah, tapi saya tidak menutup mata, sebaliknya saya menatapnya balik. Setidaknya jika teman-teman menertawakan saya karena digigit anjing, saya bisa menjawab kalau saya pun melakukan perlawanan. 

Ha! Tiba-tiba berputar balik dan menghilang di balik semak-semak. How lucky I was!
Apa ini karena kepalang tangan saya. Entah, saya pun tidak yakin meskipun ini kesekian kalinya saya membuktikan keampuhan ajaran itu namun tidak ada atau belum ada alasan ilmiah. Ah, ada Zat yang Maha Menolong dan aksi menyembunyikan ibu jari hanya bentuk sugesti terhadap diri sendiri. Mungkin apa pun bentuk action-nya jika kita mensugesti diri sendiri untuk percaya, hasilnya akan sama juga. Entah!

Tidak jera dengan situasi tadi, saya masih terus menyusuri sungai, tapi kaki tidak sesentak sebelumnya. Dari kejauhan si Blacky muncul kembali, tanpa pikir panjang saya langsung memutar badan berlari mengambil sepeda, mendorongnya pergi. Tak satu pun foto sempat diambil.

Matahari mulai terbit perlahan dari timur, cahayanya terlalu menyilaukan mata, sayangnya tidak sehangat matahari pagi di khatulistiwa. Meski sedikit kecewa sebab tak menemukan jembatan, dan kurang puas menikmati sungai namun saya bahagia karena berhasil melawan ketakutan. 

Di jalan yang agak lenggang di belakang gedung kotak perpustakaan kampus, saya berhenti sejenak. Rencananya mau mencungkirbalikkan sepeda, pura-pura sedang meratapi sepeda yang rusak—meski sebenarnya betul-betul rusak—sambil menunjukkan kaos tangan yang penuh oli untuk mengambil sebuah gambar. Pencitraan. Ini tidak baik, sangat tidak bisa ditiru.

Setelah sepeda dibalik, naluri mendorong saya, menarik rantai depan dengan kedua tangan lalu satu kaki (sepatu) menahan rantai belakang. Surprisingly, rantai yang tadinya terjepit berhasil keluar dan kembali ke derailleur. Alhamdulillah, rasanya ingin melompat. Seorang perempuan paruh baya yang akan menyeberang jalan diikuti anjingnya melempar senyum lalu bertanya, “Are you fine?”
“Yes, yes, that’s fine.” Sambil senyum ke ibunya, saya menaiki sepeda, melaju pulang. Saking senangnya saya lupa mengambil foto untuk pencitraan tadi. Untunglah.

Berjalanlah meski mungkin kamu tidak menemukan kebahagiaan yang kamu rencanakan. Namun percayalah ada kebahagiaan lain yang menantimu hampir di setiap persinggahan. Silakan kamu pilih.
Baca selengkapnya »
Beranda

Sosial Media